telkomsel halo

Gen Z paling digital, namun keamanan Siber masih lemah

08:07:00 | 03 Aug 2026
Gen Z paling digital, namun keamanan Siber masih lemah
JAKARTA (IndoTelko) - Generasi Z menjadi kelompok yang paling aktif menggunakan internet dibandingkan generasi lain, namun tingginya aktivitas digital belum diikuti dengan kesadaran keamanan siber yang memadai.

Riset terbaru pusat riset pasar internal Kaspersky terhadap 7.200 responden di 18 negara menunjukkan, sebanyak 57% Gen Z menghabiskan lebih banyak waktu di dunia online dibandingkan aktivitas offline. Sebanyak 67% responden menyebut smartphone sebagai perangkat utama untuk mengakses internet sehari-hari.

Meski intens beraktivitas secara digital, tingkat kesiapan keamanan siber Gen Z masih menghadapi tantangan. Sebanyak 59% responden mengaku percaya diri dalam menggunakan teknologi digital, tetapi hanya 28% yang menilai kemampuan digital mereka sudah berada pada tingkat lanjutan.

Kondisi tersebut berdampak pada kebiasaan perlindungan data. Hanya 27% responden Gen Z yang menggunakan perangkat lunak antivirus pada perangkat seluler, sementara kebiasaan mengganti kata sandi secara berkala juga masih lebih rendah dibandingkan generasi lainnya.

Akibatnya, ancaman siber sudah banyak dialami oleh kelompok ini. Sebanyak 52% responden Gen Z mengaku pernah mengalami serangan siber yang melibatkan perangkat, akun online, atau data pribadi mereka. Dari jumlah tersebut, 17% pernah mengalami peretasan akun media sosial dan 12% kehilangan akses ke akun gim.

Data pribadi di smartphone menjadi sasaran utama

Penelitian Kaspersky juga menemukan bahwa smartphone menyimpan berbagai informasi penting bagi Gen Z. Sebanyak 38% responden menilai foto dan dokumen pribadi sebagai data yang sangat berharga, sementara 30% lainnya menganggap kata sandi serta kredensial login sebagai informasi penting yang harus dilindungi.

Namun, kebiasaan pencadangan data masih rendah. Hanya 28% Gen Z yang secara rutin melakukan backup terhadap data penting di smartphone mereka.

Menurut Kaspersky, lemahnya perlindungan perangkat dapat menimbulkan risiko lebih besar karena smartphone kini terhubung dengan berbagai aspek kehidupan digital, mulai dari akun media sosial, email, dokumen pribadi, hingga layanan keuangan.

Wakil Presiden Manajemen Produk Konsumen Kaspersky, Irina Ermilova, mengatakan kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu berarti seseorang memiliki pemahaman keamanan digital yang kuat.

“Keakraban dengan layanan digital tidak selalu berarti mampu mengenali penipuan, mengelola kata sandi dengan aman, atau melindungi data pribadi,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kesadaran keamanan digital, Kaspersky mendorong pengguna menerapkan perlindungan berkelanjutan, seperti menggunakan solusi keamanan digital, membuat kata sandi unik, memanfaatkan pengelola kata sandi, serta menggunakan VPN saat mengakses jaringan publik.

Selain itu, Kaspersky juga menghadirkan permainan edukasi digital “Case 404” yang dirancang untuk membantu Gen Z memahami ancaman seperti phishing, penipuan online, dan pengambilalihan akun melalui pendekatan interaktif.

GCG BUMN
Studi ini dilakukan pada Maret 2026 dengan melibatkan responden dari 18 negara, termasuk Indonesia, untuk melihat pola perilaku digital dan tingkat kesiapan keamanan siber antar generasi. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories