JAKARTA (IndoTelko) - Indonesia akan menjadi tuan rumah kompetisi keamanan siber internasional Country to Country Capture The Flag (C2C-CTF) 2026 yang digelar di Bali pada 1014 Agustus 2026. Ajang tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas talenta keamanan siber nasional di tengah meningkatnya ancaman digital global.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan perkembangan geopolitik dunia turut meningkatkan kompleksitas serangan siber yang bersifat lintas negara. Karena itu, Indonesia perlu terus memperkuat kemampuan sumber daya manusia di bidang keamanan siber.
“Dengan ketegangan dunia seperti ini, serangannya juga semakin bertambah. Ketika negara-negara tidak bersatu di dunia ini, tantangannya menjadi lebih berat lagi karena serangan siber terus berkembang dan lintas negara,” ujar Meutya saat menerima audiensi Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Kemas Ridwan Kurniawan, di Jakarta.
Menurut Meutya, Indonesia yang memiliki lebih dari 220 juta pengguna internet membutuhkan sistem keamanan digital yang kuat, didukung talenta siber yang mampu menghadapi berbagai ancaman digital.
“Indonesia sebagai pengguna digital salah satu terbesar di dunia tidak hanya membutuhkan kemampuan sistem keamanan, tetapi juga talenta yang mampu menghadapi tantangan keamanan siber global,” katanya.
Komdigi mendukung penyelenggaraan C2C-CTF 2026 sebagai wadah bagi mahasiswa dan peneliti keamanan siber dari berbagai negara untuk menguji kemampuan teknis sekaligus bertukar pengetahuan dalam menghadapi berbagai skenario serangan siber.
Kompetisi tahun ini akan diikuti 81 peserta dari 13 negara, yakni Indonesia, Jepang, Australia, Hong Kong, Singapura, Bangladesh, Kamboja, Inggris, Kazakhstan, Laos, Filipina, Spanyol, dan Amerika Serikat.
Sejumlah perguruan tinggi ternama turut ambil bagian, di antaranya University of Cambridge, Keio University, Royal Holloway University of London, Edith Cowan University, The University of Melbourne, Cambodia Academy of Digital Technology, National University of Laos, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Indonesia.
Indonesia menjadi penyelenggara C2C-CTF 2026 melalui Universitas Indonesia yang bekerja sama dengan Universitas Udayana sebagai mitra pelaksana di Bali. Sebelumnya, kompetisi tersebut pernah digelar di sejumlah kampus dunia, seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT), Royal Holloway University of London, Keio University, Edith Cowan University, dan Northeastern University di Boston.
Ajang ini merupakan bagian dari pengembangan Cyber Security Center of Excellence yang dibangun melalui hibah Pemerintah Jepang lewat Japan International Cooperation Agency (JICA). Program tersebut telah berjalan selama enam tahun dengan Universitas Indonesia sebagai pelaksana dan Komdigi sebagai mitra pemerintah.
Meutya menilai kepercayaan internasional kepada Indonesia menjadi tuan rumah C2C-CTF mencerminkan meningkatnya kapasitas nasional di bidang keamanan siber. Menurutnya, penguatan ekosistem yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas teknologi menjadi kunci menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.
“Kompetisi internasional seperti ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan dan talenta yang dapat bersaing di tingkat global. Tantangan keamanan siber tidak bisa diselesaikan sendiri, tetapi membutuhkan kerja sama lintas negara,” pungkasnya. (mas)