JAKARTA (IndoTelko) - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan penguatan talenta digital Indonesia harus dimulai sejak usia sekolah melalui kolaborasi pemerintah, dunia pendidikan, keluarga, industri, dan organisasi masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai menjadi fondasi untuk mencetak generasi yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara aman, produktif, dan bertanggung jawab.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi, Boni Pudjianto, mengatakan pembangunan generasi digital tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Seluruh pemangku kepentingan memiliki peran dalam menyiapkan anak-anak menghadapi era digital.
Menurutnya, penguatan literasi digital harus dilakukan secara berkelanjutan agar anak mampu memanfaatkan teknologi secara positif sekaligus memahami berbagai risiko yang ada di ruang digital.
“Ruang digital bukan ruang yang hampa. Banyak sisi positif, tetapi juga ada sisi negatif. Karena itu, mari kita dampingi anak-anak agar mampu menelusuri dan memanfaatkan dunia digital secara baik dan benar,” ujar Boni dalam peringatan Hari Anak Nasional dan Girls in ICT Day 2026 di Jakarta.
Ia menjelaskan, sejalan dengan arahan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, upaya membangun ruang digital ramah anak tidak cukup hanya melalui pembatasan usia akses terhadap platform digital. Anak juga harus dibekali kemampuan mengenali risiko, melindungi data pribadi, menggunakan teknologi secara beretika, serta mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan sosial.
Boni juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk karakter anak dalam menggunakan teknologi.
“Orang tua perlu selalu menjaga dan mendampingi anak-anak di ruang digital. Kita mengharapkan ruang digital ke depan semakin aman, inklusif, produktif, dan memberdayakan seluruh anak Indonesia,” katanya.
Untuk memperluas literasi digital, BPSDM Komdigi terus menjalankan program Pandu Literasi Digital yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan sekolah. Menurut Boni, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci membangun ekosistem digital nasional yang sehat dan berkelanjutan.
“Kami meyakini ekosistem digital harus dibangun bersama-sama. Hanya melalui kolaborasi pemerintah, industri, organisasi masyarakat, dan dunia pendidikan kita dapat memajukan pendidikan Indonesia sekaligus melahirkan generasi digital yang unggul,” ujarnya.
Boni juga mengapresiasi dukungan berbagai mitra, seperti International Telecommunication Union (ITU), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Google, Meta, Canva, TikTok, Blibli, Betadine, Nutrifood, serta Indonesia Child Online Protection (IDCOP).
Kegiatan yang diikuti sekitar 300 siswa SD dan SMP di Jakarta tersebut diisi dengan talkshow bertema Tunas Indonesia Cakap Digital, workshop pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), kelas literasi digital, serta pelatihan digital parenting bagi guru.
Pada kesempatan itu, para siswa dan guru juga membacakan Deklarasi Bersama Komitmen Implementasi PP TUNAS yang disaksikan langsung oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.
Komdigi menegaskan akan terus memperkuat program literasi digital yang melibatkan anak, guru, orang tua, dan masyarakat. Menurut kementerian, pelindungan anak di ruang digital harus dilakukan melalui dua pendekatan yang berjalan beriringan, yakni peningkatan tanggung jawab platform digital serta penguatan kapasitas masyarakat agar anak Indonesia tumbuh sebagai generasi yang cakap, kritis, sehat, dan aman di ruang digital. (mas)