telkomsel halo

Red Hat dorong perusahaan beralih ke platform IT terpadu untuk era AI

05:06:00 | 23 Jul 2026
Red Hat dorong perusahaan beralih ke platform IT terpadu untuk era AI
JAKARTA (IndoTelko) - Perubahan besar tengah terjadi pada lanskap infrastruktur digital. Di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan (AI), sistem virtualisasi yang selama bertahun-tahun menjadi fondasi operasional perusahaan dinilai tidak lagi mampu menjawab tuntutan bisnis modern.

Senior Vice President and Chief Product Officer Red Hat, Ashesh Badani, mengatakan tantangan yang dihadapi organisasi saat ini bukan sekadar mengelola virtual machine, tetapi juga menjalankan aplikasi berbasis cloud, sistem legacy, container, hingga beban kerja AI yang membutuhkan GPU secara bersamaan.

Menurutnya, pendekatan modernisasi yang selama ini digaungkan tidak selalu menjadi jawaban karena banyak organisasi telah melakukan investasi besar pada infrastruktur yang ada. Tidak semua aplikasi dapat dimigrasikan dengan mudah, sementara biaya transformasi juga kerap menjadi kendala.

Karena itu, Red Hat mendorong perusahaan mengadopsi platform terpadu (unified platform) yang memungkinkan virtual machine, container, dan workload AI berjalan dalam satu lingkungan dengan standar keamanan yang konsisten.

Selain persoalan teknologi, Badani menilai faktor sumber daya manusia menjadi tantangan terbesar dalam proses transformasi. Tim teknologi informasi dituntut menjaga sistem lama tetap berjalan sekaligus membangun arsitektur baru tanpa tambahan personel maupun mengganggu service level agreement (SLA).

“Modernisasi bukan sekadar mengganti hypervisor. Yang dibutuhkan adalah visibilitas terhadap sistem yang sudah ada serta mekanisme pemulihan di setiap tahapan migrasi. Tujuannya bukan hanya berpindah platform, tetapi menciptakan fondasi yang lebih lincah untuk mendukung kebutuhan bisnis jangka panjang,” ujarnya.

Red Hat juga menilai perpindahan penuh ke public cloud bukan selalu menjadi pilihan terbaik. Selain berpotensi menimbulkan ketergantungan pada satu ekosistem, pendekatan tersebut juga dapat berbenturan dengan regulasi, kebutuhan kedaulatan data, maupun fleksibilitas perpindahan workload.

Sebagai alternatif, perusahaan merekomendasikan penerapan hybrid cloud yang dinilai mampu menghadirkan keseimbangan antara fleksibilitas dan kendali. Model ini memungkinkan perusahaan memanfaatkan sumber daya cloud untuk kebutuhan komputasi AI yang besar, sementara data dan aplikasi yang bersifat sensitif tetap dijalankan di lingkungan internal.

Dengan pendekatan tersebut, berbagai beban kerja, mulai dari aplikasi legacy, layanan cloud-native, hingga AI, dapat berjalan secara berdampingan dalam satu platform operasional.

Badani menilai krisis virtualisasi yang terjadi saat ini justru menjadi momentum bagi perusahaan untuk membangun fondasi teknologi yang lebih siap menghadapi perkembangan bisnis dalam jangka panjang.

Ia mengungkapkan, sepanjang tahun lalu jumlah virtual machine yang berjalan di Red Hat OpenShift Virtualization meningkat lebih dari 400%. Red Hat juga telah mengevaluasi lebih dari satu juta virtual machine untuk proses migrasi, dengan lebih dari 400 ribu di antaranya telah berhasil dipindahkan ke platform baru.

Berbagai organisasi global dari beragam sektor, seperti ARSAT, BNP Paribas, EUROCONTROL, NASA JPL, hingga Telenet, telah memanfaatkan solusi Red Hat untuk memigrasikan infrastruktur virtualisasi sekaligus mempersiapkan lingkungan teknologi yang lebih siap mendukung era AI.

GCG BUMN
Menurut Badani, perusahaan kini perlu beralih dari sekadar menjadi pengguna teknologi menjadi organisasi yang mampu mengelola infrastruktur digitalnya secara mandiri, fleksibel, dan berkelanjutan agar mampu menghadapi dinamika bisnis di masa depan. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories