JAKARTA (IndoTelko) - F5 memperkenalkan F5 AI Security Platform, platform keamanan terbaru yang dirancang membantu perusahaan mengelola risiko implementasi kecerdasan buatan (AI) secara menyeluruh. Bersamaan dengan peluncuran tersebut, perusahaan juga mengumumkan akuisisi SurePath AI, penyedia teknologi pendeteksian shadow AI dan AI discovery berbasis jaringan.
Platform baru ini dikembangkan untuk memberikan visibilitas, tata kelola (governance), serta perlindungan berkelanjutan terhadap aplikasi AI, model, AI agent, hingga API yang menjadi penghubung antar sistem. Solusi tersebut sekaligus memperluas kapabilitas Application Delivery and Security Platform (ADSP) milik F5 ke lingkungan AI enterprise.
Chief Product Officer F5, Kunal Anand, mengatakan implementasi AI di lingkungan perusahaan kini menghadirkan tantangan keamanan yang jauh lebih kompleks dibanding aplikasi konvensional.
“Enterprise membutuhkan kendali menyeluruh terhadap model AI, AI agent, dan API yang berjalan di berbagai lingkungan. Platform ini memberikan kemampuan tersebut dalam satu ekosistem keamanan yang telah digunakan untuk melindungi aplikasi enterprise selama puluhan tahun,” ujarnya.
F5 menilai adopsi AI yang semakin masif telah memunculkan berbagai ancaman baru, mulai dari prompt injection, kebocoran data, hingga penggunaan AI tanpa persetujuan perusahaan atau shadow AI. Berdasarkan 2026 State of Application Strategy Report, sebanyak 88% organisasi mengaku menghadapi tantangan keamanan maupun operasional terkait implementasi AI.
Akuisisi SurePath AI menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Teknologi yang dimiliki perusahaan ini mampu mendeteksi penggunaan AI di jaringan perusahaan secara pasif tanpa perlu melakukan integrasi ke aplikasi. Sistem tersebut juga dapat mengidentifikasi aktivitas AI yang tidak sah, mengklasifikasikan tujuan penggunaannya, serta memantau aktivitas AI agent secara berkelanjutan.
F5 AI Security Platform dibangun dengan lima kapabilitas utama, yakni AI governance, AI discovery, AI security testing, AI runtime protection, dan AI observability.
Pada aspek tata kelola, platform mampu menerjemahkan kebijakan keamanan, privasi, hingga regulasi menjadi aturan yang diterapkan pada prompt, output AI, penggunaan tool, maupun akses data.
Sementara pada sisi pengujian keamanan, platform dapat melakukan simulasi terhadap lebih dari 140 ribu pola serangan AI sebelum sistem digunakan di lingkungan produksi. Hasil pengujian tersebut kemudian diubah menjadi mekanisme perlindungan yang dapat diterapkan secara otomatis.
F5 juga mengklaim fitur AI Guardrails yang dimilikinya mampu memblokir berbagai ancaman seperti prompt injection, kebocoran data, hingga AI agent yang bertindak di luar kewenangannya dengan tingkat efektivitas mencapai 98,2%.
Platform ini dirancang fleksibel untuk berbagai lingkungan implementasi, baik on-premises, private cloud, hybrid cloud, public cloud, maupun infrastruktur air-gapped yang banyak digunakan sektor dengan regulasi ketat terkait kedaulatan data.
Menurut F5, kebutuhan terhadap sistem keamanan AI akan terus meningkat seiring berkembangnya penggunaan agentic AI. Laporan SOAS 2026 mencatat sebanyak 98% organisasi tengah mempersiapkan implementasi AI agent, sementara kesiapan sistem pengamanan dinilai masih tertinggal dibanding laju adopsinya.
Melalui platform baru tersebut, F5 berharap perusahaan dapat menerapkan AI secara lebih aman tanpa mengurangi fleksibilitas maupun performa operasional. (mas)