JAKARTA (IndoTelko) - Perusahaan agritech Rize memperoleh pendanaan Seri B senilai US$31 jutaatau sekitar Rp849 miliar untuk mempercepat pengembangan pertanian padi berkelanjutan di Asia Tenggara. Pendanaan tersebut terdiri dari US$20 juta dalam bentuk ekuitas dan US$11 juta berupa fasilitas pembiayaan utang.
Pendanaan ekuitas dipimpin oleh BNP Paribas Asset Management Alts dengan partisipasi The Rockefeller Foundation, sementara investor lama seperti Temasek dan Breakthrough Energy Ventures kembali menambah investasinya. Untuk pembiayaan utang, dukungan datang dari BIDV, Temasek Foundation, dan UOB.
Dengan tambahan dana tersebut, total pendanaan yang dihimpun Rize sejak berdiri kini mencapai US$47 juta. Dana segar itu akan dimanfaatkan untuk memperluas pasar ekspor, mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) bagi petani dan tim lapangan, memperkuat inisiatif karbon, serta mempercepat ekspansi ke negara-negara lain di Asia Tenggara.
Dalam dua tahun setelah pendanaan Seri A, Rize mengklaim berhasil meningkatkan skala operasionalnya lebih dari sepuluh kali lipat.
Fokus utama investasi kali ini meliputi penguatan akses pasar ekspor melalui sistem keterlacakan rantai pasok, perluasan penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD), peningkatan kepatuhan terhadap standar Maximum Residue Limit (MRL), pengembangan inovasi pertanian modern, hingga pembukaan platform kolaborasi bagi penyedia teknologi dan layanan pertanian.
Metode AWD yang direkomendasikan oleh International Rice Research Institute (IRRI) dan CGIARdinilai mampu memangkas emisi metana hingga 50 persen, menghemat penggunaan air sebesar 2030 persen, sekaligus meningkatkan pendapatan petani hingga 30 persen tanpa mengurangi produktivitas panen.
Didirikan pada akhir 2022, Rize saat ini telah bermitra dengan sekitar 17.000 petani kecil yang mengelola lebih dari 50.000 hektare lahan di Indonesia dan Vietnam. Operasional perusahaan didukung sekitar 250 tenaga profesional yang mencakup bidang teknologi, agronomi, dan operasional lapangan.
Perusahaan juga mencatat capaian dalam aspek keberlanjutan. Proyek produksi padi berkelanjutannya memperoleh peringkat A.pre dari BeZero Carbon, yang menunjukkan tingkat keyakinan tinggi terhadap potensi pengurangan emisi karbon. Selain itu, proyek tersebut tengah menjalani proses sertifikasi Gold Standard dan diperkirakan mampu menghasilkan lebih dari satu juta kredit karbondalam lima tahun mendatang.
Hingga kini, Rize telah mengekspor sekitar 1.500 metrik ton beras rendah emisi ke sejumlah negara seperti Eropa, Kanada, Australia, dan Singapura.
Co-Founder & CEO Rize, Dhruv Sawhney, mengatakan pendanaan terbaru menjadi tonggak penting bagi perusahaan untuk mempercepat transformasi budidaya padi sekaligus memperkuat ketahanan petani kecil.
Menurutnya, investasi tersebut akan mendukung ekspansi operasional, memperluas akses pasar global, serta mempercepat pengembangan teknologi yang membantu petani meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Sementara itu, Head of Natural Capital & Impact Investments BNP Paribas Asset Management Alts, Alexandre Martin-Min, menilai investasi pada Rize sejalan dengan strategi perusahaan dalam mendukung platform yang mampu memberikan dampak lingkungan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi yang kompetitif.
Di sisi lain, Vice President of Innovative Finance The Rockefeller Foundation, Slav Gatchev, menyebut dukungan terhadap Rize merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan petani kecil melalui penerapan teknologi pertanian regeneratif yang mampu meningkatkan hasil panen sekaligus pendapatan. (mas)