telkomsel halo

Serangan AI hingga minim talenta jadi tantangan baru keamanan siber

08:06:00 | 17 Jul 2026
Serangan AI hingga minim talenta jadi tantangan baru keamanan siber
JAKARTA (IndoTelko) - Kaspersky mengungkap tiga tantangan utama yang kini dihadapi organisasi di Asia Tenggara dalam menjaga keamanan siber, yakni meningkatnya volume serangan, minimnya talenta keamanan siber, serta penggunaan berbagai alat keamanan yang tidak terintegrasi. Kondisi tersebut dinilai membuat perusahaan semakin kesulitan menghadapi ancaman siber yang kini berkembang lebih cepat dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Berdasarkan data Kaspersky, sepanjang 2025 tercatat lebih dari 18 juta serangan siber berhasil dideteksi dan diblokir di kawasan Asia Tenggara. Indonesia menjadi negara dengan jumlah deteksi tertinggi ketiga di kawasan, dengan 3.014.870 serangan.

Kaspersky menilai pesatnya adopsi tenaga kerja hybrid, komputasi multi-cloud, operasional berbasis AI, serta rantai pasok digital yang semakin kompleks telah memperluas permukaan serangan. Di sisi lain, pelaku kejahatan siber juga semakin terorganisasi dengan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efektivitas serangan.

Tantangan pertama yang disoroti adalah meningkatnya volume dan kecepatan serangan siber. Menurut Kaspersky, kelompok Advanced Persistent Threat (APT) kini menjadi ancaman serius bagi perusahaan besar. Laporan Kaspersky Security Services menunjukkan APT terdeteksi pada 21 persen pelanggan sepanjang 2025 dan menyumbang sekitar 23 persen insiden dengan tingkat keparahan tinggi.

Kelompok APT tidak hanya mengandalkan satu metode serangan, tetapi mengombinasikan pencurian kredensial, pergerakan lateral, hingga teknik persistensi tersembunyi agar dapat bertahan lama tanpa terdeteksi. Salah satu kampanye yang ditemukan Kaspersky tahun lalu adalah aktivitas kelompok Mysterious Elephant yang menargetkan institusi pemerintah dan organisasi urusan luar negeri di kawasan Asia Pasifik.

Untuk menghadapi ancaman tersebut, perusahaan dinilai perlu meningkatkan visibilitas endpoint secara real-time, mengintegrasikan telemetri dari berbagai sumber, mengotomatisasi proses deteksi dan respons, serta memperkuat aktivitas threat hunting secara proaktif.

Tantangan kedua adalah meningkatnya ancaman berbasis AI yang terjadi di tengah terbatasnya tenaga profesional keamanan siber. AI kini dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk mengotomatisasi proses pengintaian, membuat phishing yang lebih meyakinkan, hingga mempercepat pengembangan malware.

Di sisi lain, organisasi masih menghadapi kekurangan tenaga ahli keamanan siber. Kaspersky mencatat sekitar 41 persen profesional keamanan informasi menyatakan organisasinya masih kekurangan personel sehingga beban kerja tim keamanan terus meningkat.

Menurut Kaspersky, solusi yang lebih realistis bukan sekadar menambah jumlah analis, melainkan memperkuat otomatisasi berbasis AI pada operasional keamanan. Teknologi tersebut dapat membantu mempercepat triase peringatan, merangkum hasil investigasi, hingga menjalankan respons otomatis melalui playbook yang telah disiapkan.

Tantangan ketiga adalah penggunaan berbagai solusi keamanan yang berdiri sendiri sehingga menciptakan fragmentasi sistem. Banyak organisasi mengoperasikan puluhan perangkat keamanan yang tidak saling terhubung sehingga mempersulit korelasi data, memperpanjang investigasi insiden, dan meningkatkan kelelahan akibat banyaknya notifikasi keamanan.

General Manager ASEAN and Emerging Countries Asia Kaspersky, Simon Tung, mengatakan kondisi tersebut tidak hanya meningkatkan kompleksitas operasional, tetapi juga memperbesar biaya kepemilikan sistem keamanan.

“Tim keamanan menghabiskan banyak waktu untuk mengintegrasikan berbagai alat, menyelaraskan telemetri, dan berpindah antar konsol hanya untuk menyusun kronologi satu insiden. Lebih dari separuh profesional keamanan bahkan mengaku kewalahan mengelola berbagai solusi keamanan dari vendor yang berbeda,” ujarnya.

Simon menambahkan bahwa biaya keamanan tidak hanya berasal dari lisensi perangkat lunak, tetapi juga mencakup integrasi, infrastruktur, hingga proses pemeliharaan yang dapat membuat total investasi meningkat hingga tiga sampai lima kali lipat.

Karena itu, Kaspersky menyarankan perusahaan mulai mengonsolidasikan berbagai solusi keamanan ke dalam platform Endpoint Detection and Response (EDR) maupun Extended Detection and Response (XDR), memusatkan pengelolaan telemetri, serta mengotomatisasi proses investigasi dan respons insiden.

GCG BUMN
Menurut Kaspersky, pendekatan tersebut akan membantu organisasi meningkatkan visibilitas, mempercepat respons terhadap ancaman, sekaligus menciptakan efisiensi operasional tanpa harus menambah jumlah personel secara signifikan. Melalui lini solusi Kaspersky Next Expert, perusahaan juga dapat memanfaatkan perlindungan berbasis AI, deteksi lintas domain secara real-time, serta platform manajemen terpadu untuk memperkuat ketahanan siber di tengah meningkatnya kompleksitas ancaman digital. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories