telkomsel halo

AI semakin dikejar, namun fondasi digital perusahaan Indonesia masih lemah

06:40:00 | 05 Jul 2026
AI semakin dikejar, namun fondasi digital perusahaan Indonesia masih lemah
JAKARTA (IndoTelko) - Ambisi perusahaan di Indonesia untuk mengadopsi kecerdasan buatan (AI) terus meningkat. Namun, pengalaman digital karyawan yang masih belum optimal dinilai menjadi hambatan utama dalam mewujudkan transformasi tersebut.

Hal itu terungkap dalam laporan terbaru bertajuk The Paradox of Progress Why a Broken Employee Experience is Sabotaging Adoption of AI in the Workplace yang diprakarsai oleh Lark. Studi tersebut menunjukkan hanya 19 persen perusahaan di Indonesia yang menilai tingkat kematangan digital mereka sudah tinggi, sementara lebih dari separuh organisasi masih berada pada tahap awal eksperimen AI.

Di sisi lain, sembilan dari sepuluh perusahaan mengaku tengah membangun budaya kerja yang lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi dan AI. Namun, fokus transformasi yang selama ini lebih menitikberatkan pada sistem dibandingkan pengalaman karyawan dinilai menciptakan kesenjangan yang menghambat adopsi AI.

Survei yang melibatkan 900 perusahaan dan lebih dari 5.000 karyawan di enam negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menemukan adanya titik kritis berupa jarak yang semakin lebar antara ambisi pimpinan perusahaan dan realitas kerja yang dihadapi karyawan setiap hari.

Di Indonesia, sebanyak 63 persen karyawan merasa pimpinan perusahaan belum benar-benar memahami kebutuhan digital mereka. Kondisi tersebut tercermin dalam empat tantangan utama.

Pertama, investasi digital masih terkonsentrasi pada fungsi bisnis yang berorientasi efisiensi biaya. Departemen IT (79 persen), keuangan (77 persen), dan pemasaran (70 persen) menjadi unit yang paling banyak terdigitalisasi. Sementara itu, fungsi sumber daya manusia dan employee experiencebaru mencapai 54 persen.

Kedua, kompleksitas penggunaan berbagai aplikasi justru menurunkan produktivitas. Sebanyak 58 persen karyawan kehilangan sedikitnya tiga jam kerja setiap pekan akibat inefisiensi kolaborasi digital. Selain itu, 49 persen merasa kewalahan dengan banyaknya aplikasi yang digunakan dan 48 persen harus membuka beberapa platform setiap jam hanya untuk mengikuti perkembangan pekerjaan.

Ketiga, masih terdapat kesenjangan inovasi di lingkungan kerja. Meski 89 persen perusahaan mengaku mendorong inovasi, hanya 31 persen karyawan yang merasa memiliki keleluasaan mengusulkan ide baru. Bahkan hanya 42 persen yang merasa memiliki kendali terhadap perangkat kerja yang digunakan sehari-hari.

Keempat, kesiapan tenaga kerja terhadap AI masih rendah. Sebanyak 86 persen karyawan mengaku membutuhkan pelatihan lebih lanjut mengenai keamanan siber dan produktivitas berbasis AI, namun hanya 36 persen yang merasa telah memperoleh pelatihan yang memadai.

General Manager Asia Pacific Lark, Olivier Adam, mengatakan organisasi saat ini berada di titik penting dalam perjalanan adopsi AI.

Menurutnya, teknologi AI sudah siap digunakan, tetapi banyak karyawan masih merasa kewalahan, kurang mendapatkan pelatihan, dan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait transformasi digital. Jika kondisi tersebut tidak segera diperbaiki, penerapan AI justru berisiko mempercepat berbagai persoalan yang sudah ada.

Laporan tersebut juga mengungkap adanya krisis kepercayaan terhadap penggunaan AI di tempat kerja. Hanya 30 persen karyawan yang menilai perusahaan bersikap transparan mengenai penggunaan AI dan otomatisasi. Sementara itu, 45 persen mengaku belum memahami ekspektasi perusahaan terhadap pemanfaatan AI.

Akibatnya, 46 persen responden khawatir AI akan membuat pekerjaan mereka tidak lagi relevan, sedangkan 90 persen memiliki kekhawatiran terhadap aspek keamanan penggunaan AI.

Meski demikian, antusiasme terhadap AI tetap tinggi. Sebanyak 90 persen responden berharap AI dapat mengambil alih pekerjaan rutin sehingga mereka dapat lebih fokus pada tugas yang bersifat kreatif dan bernilai tambah.

Riset ini juga menunjukkan organisasi yang menggunakan platform kerja terpadu memperoleh manfaat nyata. Sebanyak 92 persen melaporkan peningkatan efisiensi, 90 persen mengalami penurunan hambatan komunikasi, dan 83 persen berhasil menghemat biaya operasional.

GCG BUMN
Menurut Olivier, keberhasilan transformasi digital tidak lagi ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan mengadopsi AI, melainkan sejauh mana perusahaan mampu melibatkan, membekali, dan membangun kepercayaan karyawan selama proses transformasi berlangsung. Dengan fondasi tersebut, AI dapat menjadi pendorong produktivitas, bukan justru menjadi sumber kecemasan di lingkungan kerja. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories