telkomsel halo

Indonesia jadi negara dengan kesenjangan keamanan digital tertinggi di Asia Pasifik

05:15:00 | 05 Jul 2026
Indonesia jadi negara dengan kesenjangan keamanan digital tertinggi di Asia Pasifik
JAKARTA (IndoTelko) - Masyarakat Indonesia memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap keamanan aktivitas digital mereka. Namun, riset terbaru bolttech justru menunjukkan adanya kesenjangan terbesar di kawasan Asia Pasifik antara persepsi dan praktik keamanan siber, di tengah meningkatnya ancaman penipuan digital yang semakin canggih berkat pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Sebanyak 94 persen responden Indonesia mengaku telah memiliki kebiasaan berinternet yang aman. Namun, hanya 44 persen yang benar-benar menerapkan praktik keamanan siber secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Kesenjangan sebesar 50 persen tersebut menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Temuan tersebut merupakan hasil studi Asia-Pacific Cyber Safety Landscape 2026 yang dirilis perusahaan insurtech global bolttech. Studi itu juga mengungkap bahwa 92 persen responden Indonesia pernah menghadapi upaya penipuan digital, sementara 44 persen di antaranya mengaku pernah menjadi korban penipuan, peretasan, atau kejahatan siber lainnya.

Selain itu, 81 persen responden percaya setidaknya ada satu anggota keluarganya yang berisiko menjadi korban kejahatan siber dalam satu tahun ke depan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 64 persen.

Perkembangan AI juga dinilai memperbesar ancaman tersebut. Sebanyak 93 persen responden khawatir teknologi AI akan membuat modus penipuan digital semakin canggih, personal, dan sulit dikenali.

Ancaman yang paling sering ditemui masyarakat Indonesia berasal dari panggilan telepon mencurigakan (61 persen), disusul SMS penipuan (50 persen) dan aplikasi perpesanan (49 persen). Meski demikian, hanya 37 persen responden yang mengaku memahami langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi serangan siber.

Salah satu kebiasaan yang masih menjadi celah keamanan adalah penggunaan kata sandi yang sama untuk beberapa akun. Riset mencatat 71 persen responden Indonesia masih melakukan praktik tersebut, terutama pada kelompok usia 26 hingga 41 tahun.

Pendiri dan CEO Blackbox Research, David Black, mengatakan penipuan digital telah menjadi tantangan yang tidak terpisahkan dari pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Pasifik.

“Penipuan telah menjadi hambatan yang tak terhindarkan dalam ekonomi digital kawasan ini. Namun masih terdapat kesenjangan yang mencolok antara kekhawatiran masyarakat dan tindakan nyata dalam melindungi diri dari ancaman siber,” ujarnya.

Riset juga menunjukkan dampak finansial akibat kejahatan siber semakin nyata. Sebanyak 81 persen korban di Indonesia mengaku mengalami kerugian finansial, lebih tinggi dibandingkan rata-rata regional sebesar 67 persen. Bahkan, 96 persen responden menyebut insiden siber menimbulkan tekanan emosional, terlepas dari berhasil atau tidaknya serangan tersebut.

Di sisi lain, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi masih tergolong tinggi. Sebanyak 84 persen responden percaya lembaga dan penyedia layanan mampu melindungi data pribadi mereka.

Hampir separuh responden menilai keamanan siber merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, perbankan, operator telekomunikasi, platform digital, dan masyarakat. Hanya 14 persen yang beranggapan individu menjadi pihak utama yang bertanggung jawab menjaga keamanan digitalnya sendiri.

Director Strategic Initiatives bolttech, Andrew Cons, menegaskan keamanan siber harus dibangun melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

GCG BUMN
Menurutnya, seiring berkembangnya ancaman siber, perlindungan digital yang sederhana dan mudah diakses perlu diintegrasikan ke dalam layanan sehari-hari agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi dengan lebih aman dan percaya diri. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories