telkomsel halo

AI dan game online perbesar ancaman siber terhadap anak

07:41:00 | 29 Jun 2026
AI dan game online perbesar ancaman siber terhadap anak
JAKARTA (IndoTelko) Penggunaan kecerdasan buatan (AI), media sosial, dan game online membuat anak-anak semakin rentan menjadi sasaran kejahatan siber, mulai dari penipuan digital, pencurian data pribadi, hingga perundungan siber.

Perusahaan keamanan siber Kaspersky menilai pelaku kejahatan kini semakin sering memanfaatkan platform digital yang akrab dengan anak-anak sebagai pintu masuk untuk menjalankan berbagai aksi penipuan. Rasa ingin tahu yang tinggi serta minimnya pengalaman dalam mengenali ancaman digital membuat pengguna usia muda menjadi kelompok yang paling rentan.

Salah satu tantangan baru muncul dari meningkatnya penggunaan aplikasi AI. Selain berpotensi menampilkan konten yang tidak sesuai usia, AI juga dapat memicu kebocoran data pribadi ketika pengguna memasukkan informasi sensitif ke dalam layanan tersebut.

Kaspersky juga mengingatkan tren penggunaan AI untuk membuat gambar atau ilustrasi pribadi dapat membuka peluang rekayasa sosial. Informasi yang terekam dalam gambar, seperti profesi, hobi, atau aktivitas sehari-hari, dapat dimanfaatkan pelaku untuk menyusun serangan yang lebih terarah.

Di sisi lain, game online masih menjadi sasaran utama penyebaran malware dan berbagai modus penipuan. Berdasarkan data Kaspersky, ancaman siber yang berkaitan dengan game di Asia Tenggara meningkat 86 persen sepanjang paruh kedua 2025.

Game populer seperti Minecraft dan Roblox menjadi target karena banyak pemain mencari modifikasi permainan, cheat, maupun item eksklusif. Pelaku memanfaatkan kondisi tersebut dengan menyebarkan file berbahaya atau mengarahkan pengguna ke situs palsu yang menawarkan hadiah dan fitur premium.

Selain malware, perundungan siber juga masih menjadi ancaman serius di berbagai platform digital yang menyediakan fitur komunikasi. Meski sejumlah platform telah memanfaatkan AI untuk memoderasi konten, Kaspersky menilai keterlibatan pengguna tetap diperlukan dengan melaporkan akun maupun konten yang bersifat melecehkan.

Perhatian terhadap perlindungan anak di ruang digital juga mulai meningkat. Singapura, misalnya, telah menerapkan Code of Practice for Online Safety for App Distribution Services yang mewajibkan toko aplikasi memperkuat perlindungan bagi pengguna muda. Indonesia dan Malaysia juga mulai menerapkan kebijakan untuk membatasi akses anak terhadap platform digital tertentu.

Analis Utama Konten Web dan Pakar Keamanan Daring Anak Kaspersky, Andrey Sidenko, mengatakan perlindungan teknologi harus diimbangi dengan komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak.

“Pembatasan penggunaan perangkat tanpa disertai penjelasan justru dapat mendorong rasa penasaran anak untuk mencoba berbagai hal yang berisiko. Sebaliknya, edukasi mengenai literasi digital serta kebiasaan berdiskusi mengenai pengalaman anak di internet akan membangun ketahanan yang lebih baik terhadap ancaman siber.”

GCG BUMN
Menurutnya, perlindungan anak di ruang digital membutuhkan kolaborasi keluarga, penyedia platform, dan pemerintah agar internet tetap menjadi ruang yang aman bagi anak untuk belajar, bermain, dan berinteraksi. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories