JAKARTA (IndoTelko0 - Akamai Technologies memasuki fase baru ekspansi bisnis di kawasan Asia Pasifik (APAC) setelah mencatat pendapatan tahunan lebih dari US$1 miliar sepanjang 2025. Capaian tersebut menjadi pijakan perusahaan untuk memperluas fokus pada pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), khususnya untuk mendukung kebutuhan inferensi AI yang semakin meningkat di kalangan perusahaan.
Perusahaan menilai kawasan Asia Pasifik kini memasuki tahap baru dalam pemanfaatan AI. Jika sebelumnya banyak organisasi masih berada pada fase eksplorasi dan uji coba, saat ini fokus mulai bergeser pada implementasi dan operasionalisasi teknologi AI dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Strategi pertumbuhan baru Akamai di kawasan ini dipimpin oleh Sean Li yang baru ditunjuk sebagai Senior Vice President of Sales sekaligus Managing Director Asia Pasifik. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan akan memperkuat layanan cloud terdistribusi dan komputasi berbasis edge untuk mendukung kebutuhan AI generasi berikutnya.
Menurut Sean Li, tantangan utama yang dihadapi perusahaan saat ini bukan lagi pada adopsi AI, melainkan bagaimana memastikan teknologi tersebut dapat berjalan secara optimal dalam lingkungan produksi yang menuntut kecepatan, skalabilitas, dan keandalan tinggi.
Ia menjelaskan bahwa pemindahan proses inferensi AI ke edge memungkinkan perusahaan memproses data lebih dekat dengan pengguna akhir. Pendekatan tersebut dinilai mampu mengurangi latensi sekaligus meningkatkan respons sistem secara real-time.
Akamai melihat kebutuhan terhadap inferensi AI terus meningkat seiring berkembangnya berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan, seperti mesin rekomendasi, analitik video langsung, agen virtual, kendaraan otonom, hingga pengolahan video beresolusi tinggi.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, perusahaan memanfaatkan jaringan cloud terdistribusi yang telah dibangun secara global. Infrastruktur tersebut memungkinkan sumber daya komputasi, termasuk GPU untuk AI, ditempatkan lebih dekat dengan lokasi pengguna dan sumber data.
Menurut Akamai, model cloud konvensional yang terpusat mulai menghadapi keterbatasan ketika harus menangani inferensi AI secara real-time dalam skala besar. Karena itu, pendekatan komputasi terdistribusi dipandang menjadi solusi untuk mendukung performa aplikasi AI yang semakin kompleks.
Perusahaan juga mencermati dinamika pasar Asia Pasifik yang berkembang dengan karakteristik berbeda di setiap negara. Di pasar yang lebih matang seperti Jepang dan Australia, kebutuhan berfokus pada modernisasi infrastruktur dan peningkatan ketahanan sistem. Sementara di India, Tiongkok, dan Asia Tenggara, pertumbuhan perusahaan digital dan startup berbasis AI menjadi pendorong utama permintaan infrastruktur baru.
Kondisi tersebut menciptakan kebutuhan akan platform yang mampu beroperasi secara konsisten di tengah beragam regulasi, kualitas jaringan, dan ekspektasi pengguna yang berbeda-beda di setiap negara.
Selain memperkuat kemampuan komputasi AI, Akamai juga menempatkan aspek keamanan sebagai bagian penting dari strategi pengembangannya. Perusahaan berupaya mengintegrasikan perlindungan aplikasi dan beban kerja AI langsung ke dalam infrastruktur yang digunakan pelanggan.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan berharap dapat menghadirkan kombinasi antara performa tinggi dan keamanan tanpa harus mengorbankan salah satu aspek.
Ke depan, Akamai menargetkan dapat mempercepat adopsi AI di kawasan Asia Pasifik melalui penyediaan layanan inferensi berbasis GPU yang lebih dekat dengan pengguna. Perusahaan juga menilai perkembangan AI akan mendorong lahirnya kebutuhan baru terhadap infrastruktur digital yang lebih cerdas dan adaptif.
Melalui strategi tersebut, Akamai optimistis dapat memanfaatkan momentum transformasi AI yang tengah berlangsung sekaligus memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur cloud dan keamanan digital di kawasan Asia Pasifik. (mas)