telkomsel halo

Akamai soroti ancaman API dan bot berbasis AI

06:08:00 | 08 Jun 2026
Akamai soroti ancaman API dan bot berbasis AI
JAKARTA (IndoTelko) Kawasan Asia Pasifik (APAC) menjadi target utama serangan siber terhadap sektor jasa keuangan global sepanjang 2025. Laporan terbaru Akamai menunjukkan wilayah ini menyumbang 52 persen dari total serangan Distributed Denial of Service (DDoS) Layer 7, seiring pesatnya digitalisasi layanan perbankan, pembayaran real-time, dan pemanfaatan teknologi berbasis API.

Dalam laporan State of the Internet bertajuk AI-Empowered Botnets and API Visibility Gaps: Attack Trends in Financial Services, Akamai menyebut APAC menjadi wilayah dengan serangan DDoS Layer 7 tertinggi terhadap industri keuangan selama empat tahun berturut-turut. Temuan tersebut menegaskan perlunya penguatan keamanan digital di tengah semakin luasnya permukaan serangan.

Serangan DDoS Layer 7 dirancang untuk membanjiri layanan digital seperti portal perbankan, API pembayaran, dan aplikasi pelanggan menggunakan trafik yang menyerupai aktivitas normal. Karena tampak seperti aktivitas sah, serangan jenis ini dinilai lebih sulit dideteksi dibandingkan serangan pada lapisan jaringan.

Di APAC, sektor perbankan menjadi target terbesar dengan porsi 44 persen dari total serangan DDoS Layer 7, disusul perusahaan fintech sebesar 38 persen. Untuk serangan pada level jaringan, sektor perbankan bahkan menyumbang hingga 92 persen dari seluruh insiden yang tercatat.

Akamai menilai meningkatnya integrasi layanan pembayaran real-time, aplikasi mobile banking, platform fintech, hingga layanan berbasis kecerdasan artifisial (AI) membuat jumlah titik yang berpotensi menjadi celah keamanan terus bertambah.

Laporan tersebut juga mengungkap masih rendahnya visibilitas organisasi terhadap API yang digunakan. Sebanyak 77 persen pemimpin TI dan keamanan di sektor jasa keuangan APAC mengaku memahami seluruh aset API yang dimiliki, namun hanya 27 persen yang benar-benar mengetahui API yang berpotensi mengekspos data sensitif.

Secara global, sebanyak 96 persen organisasi jasa keuangan melaporkan mengalami sedikitnya satu insiden keamanan API dalam 12 bulan terakhir. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan sektor industri lainnya.

Selain itu, Akamai mencatat aktivitas bot canggih melonjak 147 persen pada akhir 2025. Perkembangan AI memungkinkan botnet generasi baru meniru perilaku pengguna dan browser secara lebih akurat sehingga mampu melewati berbagai sistem pertahanan tradisional.

Director of Security Technology and Strategy APJ Akamai, Reuben Koh, mengatakan percepatan inovasi digital di sektor keuangan turut menciptakan tantangan baru dalam aspek keamanan.

“Banyak institusi masih menjalankan layanan digital modern di atas sistem lama yang sulit diperbarui atau diintegrasikan secara aman. Kondisi tersebut meningkatkan risiko ketika organisasi tidak memiliki pemetaan yang jelas terhadap API, data sensitif, maupun pola trafik normal dalam sistem mereka,” ujarnya.

Menurut Akamai, keamanan siber kini harus menjadi bagian dari strategi ketahanan operasional, bukan sekadar memenuhi kewajiban kepatuhan regulasi. Organisasi keuangan perlu memperkuat perlindungan terhadap serangan DDoS, eksploitasi API, serta ancaman berbasis AI yang terus berkembang.

Perusahaan juga menilai investasi pada solusi keamanan API yang mampu mendeteksi paparan data sensitif dan perilaku anomali menjadi kebutuhan mendesak. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi keamanan berbasis AI dinilai penting untuk menghadapi serangan yang bergerak dengan kecepatan mesin.

Laporan tersebut turut menemukan organisasi yang menerapkan mikrosegmentasi—yakni pemisahan aplikasi dan sistem kritikal untuk membatasi pergerakan penyerang di dalam jaringan—mampu merespons insiden keamanan 33 persen lebih cepat dibandingkan organisasi yang belum menerapkannya.

GCG BUMN
Temuan itu menegaskan bahwa peningkatan visibilitas API, perlindungan aplikasi, serta penerapan strategi keamanan berbasis AI menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan operasional dan kepercayaan nasabah di tengah percepatan transformasi digital sektor keuangan. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories