JAKARTA (IndoTelko) - Pemerintah menilai teknologi satelit Non-Geostationary Satellite Orbit (NGSO), khususnya Low Earth Orbit (LEO), dapat menjadi solusi strategis untuk memperluas akses internet di wilayah yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi konvensional.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengatakan kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, kawasan pegunungan, serta daerah terpencil membuat pembangunan infrastruktur berbasis darat tidak selalu memungkinkan.
Menurutnya, teknologi satelit dapat melengkapi jaringan terestrial seperti Base Transceiver Station (BTS) dan kabel serat optik untuk menghadirkan konektivitas yang lebih merata.
“Tidak semua wilayah memungkinkan untuk dibangun BTS karena faktor topografi. Selain melalui serat optik, satelit LEO dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjangkau daerah-daerah tersebut,” ujar Nezar saat membuka Indonesia Connectivity Forum 2026 di Jakarta.
Ia menjelaskan, tersedianya akses internet di wilayah yang selama ini belum terlayani akan berdampak langsung pada peningkatan layanan pendidikan, kesehatan, pemerintahan digital, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurut Nezar, pemanfaatan satelit NGSO juga dapat mempercepat transformasi digital di berbagai daerah sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi digital yang lebih inklusif.
Kemampuan satelit LEO menjangkau wilayah yang belum tersentuh jaringan konvensional dinilai mampu mendorong berkembangnya perdagangan digital dan aktivitas ekonomi berbasis internet di daerah dengan keterbatasan akses.
Selain mendukung pemerataan konektivitas, teknologi satelit juga dinilai berperan penting menjaga keberlangsungan layanan komunikasi saat terjadi bencana alam. Ketika infrastruktur telekomunikasi terestrial mengalami gangguan, jaringan berbasis satelit dapat tetap beroperasi untuk mendukung koordinasi penanganan darurat.
Nezar mencontohkan pemanfaatan satelit LEO saat terjadi gangguan komunikasi akibat bencana di sejumlah wilayah, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ketika layanan satelit menjadi salah satu opsi konektivitas yang masih dapat digunakan.
Pembahasan mengenai optimalisasi teknologi satelit menjadi salah satu agenda utama dalam Indonesia Connectivity Forum 2026. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, lembaga pembangunan, dan organisasi masyarakat untuk membahas strategi percepatan pemerataan akses digital nasional.
Co-Founder dan CEO Obviously Sustainable, Rezha Bayu Oktavian Arief, mengatakan kesenjangan digital masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan nasional karena masih banyak desa dan kawasan terpencil yang belum memperoleh akses digital yang memadai.
Menurutnya, pemerataan konektivitas tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan akses yang lebih setara terhadap pendidikan, layanan kesehatan, layanan publik, dan peluang ekonomi digital bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Melalui kolaborasi lintas sektor, forum tersebut mendorong pembangunan ekosistem konektivitas yang mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia melalui kombinasi infrastruktur terestrial dan teknologi satelit. (mas)