telkomsel halo

DBS nilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat

05:55:00 | 20 May 2026
DBS nilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat
JAKARTA (IndoTelko) — DBS Bank melalui DBS Research menilai ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat di tengah meningkatnya tekanan global akibat geopolitik dan volatilitas harga energi.

DBS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 mencapai 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga 2022. Kinerja tersebut ditopang konsumsi domestik yang tetap solid, stimulus fiskal pemerintah, serta peningkatan belanja negara.

DBS Group Research menilai konsumsi rumah tangga dan pemerintah tumbuh hingga 7 persen yoy, sementara investasi tetap berada di kisaran 6 persen yoy pada awal tahun ini.

Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao mengatakan Indonesia memasuki 2026 dengan kondisi fundamental ekonomi yang cukup kuat. Namun, pihaknya tetap mengingatkan adanya risiko eksternal yang perlu diantisipasi pada semester kedua tahun ini.

Menurutnya, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 disesuaikan menjadi 5,1 persen dari sebelumnya 5,3 persen. Penyesuaian dilakukan untuk mengantisipasi tekanan akibat kenaikan harga energi global serta pelemahan nilai tukar rupiah.

DBS Research memperkirakan kuartal pertama 2026 menjadi titik tertinggi pertumbuhan ekonomi tahun ini. Aktivitas ekonomi selanjutnya diperkirakan menghadapi tekanan dari tingginya harga energi, volatilitas pasar keuangan global, dan kebutuhan menjaga disiplin fiskal nasional.

DBS juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi melalui pengendalian inflasi, disiplin fiskal, serta komunikasi kebijakan yang konsisten untuk mempertahankan kepercayaan pasar dan investor.

Selain itu, implementasi regulasi yang konsisten, termasuk harmonisasi kebijakan pusat dan daerah, dinilai menjadi faktor penting untuk menciptakan kepastian usaha dan memperkuat iklim investasi nasional.

Head of Research Indonesia DBS Group Research, William Simadiputra menilai sektor hilirisasi dan ekosistem kendaraan listrik (EV) masih menjadi motor pertumbuhan jangka panjang Indonesia.

Menurutnya, sektor pengolahan nikel, energi terbarukan, infrastruktur, dan pengembangan EV tetap menarik bagi investor asing di tengah ketidakpastian global. Konsistensi kebijakan hilirisasi dinilai akan menjadi faktor utama dalam menjaga daya tarik investasi.

DBS Research juga mencatat kredit investasi masih tumbuh positif, terutama pada sektor konstruksi, pertambangan, dan agrikultur. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas investasi domestik masih relatif terjaga.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai menjadi salah satu risiko terbesar terhadap ekonomi global dan Indonesia. Gangguan distribusi energi global berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi domestik.

DBS memperkirakan harga minyak berada di kisaran US$80 hingga US$85 per barel dalam skenario dasar. Namun, dalam kondisi ekstrem, harga minyak dapat melonjak hingga US$100 sampai US$150 per barel.

Selain harga energi, risiko lain yang diwaspadai meliputi pelemahan rupiah, kenaikan harga produsen, serta dampak cuaca akibat El Niño terhadap tekanan inflasi beberapa kuartal ke depan.

DBS Research juga menilai penguatan institusi dan reformasi pasar keuangan perlu dipercepat untuk menopang pertumbuhan jangka panjang. Reformasi pasar modal, peningkatan tata kelola, dan penguatan investor domestik disebut penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap aliran modal asing.

GCG BUMN
Di sektor keberlanjutan, pengembangan energi terbarukan dan proyek waste-to-energy (WTE) dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam agenda environmental, social, and governance (ESG) global sekaligus menjadi katalis investasi berkelanjutan di masa depan. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories