JAKARTA (IndoTelko) Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Inggris mempercepat implementasi pembangunan rendah karbon melalui pendanaan inovasi proyek Low Carbon Development InitiativeInnovation and Technology Fund (LCDI-ITF).
Kolaborasi ini melibatkan Kementerian PPN/Bappenas dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup dengan dukungan Foreign, Commonwealth and Development Office. Penandatanganan kerja sama dilakukan di Jakarta, menandai dimulainya pendanaan untuk empat proyek inovatif berbasis teknologi rendah karbon.
Deputi Bidang Pangan, SDA, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menyatakan program ini merupakan implementasi nyata dari kebijakan pembangunan rendah karbon yang telah dirancang sebelumnya.
“Pendanaan ini menjadi bukti bahwa perencanaan dapat diterjemahkan menjadi aksi konkret yang memberikan dampak langsung bagi pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Program LCDI-ITF bertujuan mengidentifikasi serta mereplikasi solusi teknologi yang mampu menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif. Inisiatif ini juga mendukung berbagai agenda nasional seperti ekonomi sirkular, ekonomi biru, hingga pertanian berkelanjutan.
Dari total 283 proposal dengan nilai mencapai Rp1,59 triliun, terpilih empat proyek tahap awal dengan pendanaan sekitar Rp20,33 miliar. Proyek tersebut mencakup pengelolaan sampah, budidaya udang berbasis energi surya, pengolahan rempah berkelanjutan, serta dekarbonisasi pertanian padi.
Direktur Utama BPDLH, Joko Tri Haryanto, menegaskan fokus utama program ini adalah implementasi agar inovasi tidak berhenti di tahap awal pengembangan.
“Skema ini dirancang untuk membantu inovasi melewati fase kritis agar dapat berkembang dan memberikan dampak nyata,” jelasnya.
Sementara itu, perwakilan Kedutaan Besar Inggris, Peter Rajadiston, menekankan bahwa solusi iklim harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, termasuk peningkatan kesejahteraan dan penciptaan lapangan kerja hijau.
Hingga 2024, Indonesia telah mencatat potensi penurunan emisi sebesar 30,36% melalui puluhan ribu aksi lintas sektor. Ke depan, LCDI-ITF diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi secara nasional serta memperkuat kontribusi Indonesia dalam penanganan perubahan iklim global. (mas)