JAKARTA (IndoTelko) - Bank Saqu mengedukasi nasabah agar lebih waspada terhadap penipuan digital menjelang Idulfitri melalui kampanye “Awas Hantu Cyber”. Inisiatif ini dilakukan untuk meningkatkan literasi keamanan digital di tengah meningkatnya aktivitas transaksi online selama Ramadan dan Lebaran.
Momentum Idulfitri biasanya diiringi lonjakan transaksi digital, mulai dari belanja online, pengiriman uang, hingga berbagai promo musiman. Situasi ini kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber melalui berbagai modus seperti pesan palsu terkait paket kiriman, promo belanja, hingga pihak yang mengaku sebagai perwakilan institusi tertentu untuk meminta data pribadi atau kode OTP.
Ancaman penipuan digital juga semakin meningkat seiring berkembangnya layanan keuangan digital. Modus seperti phishing, social engineering, hingga penyalahgunaan data pribadi kini semakin beragam dan sering kali sulit dikenali masyarakat.
Melalui kampanye “Awas Hantu Cyber”, Bank Saqu menggunakan pendekatan kreatif dengan mempersonifikasikan ancaman digital sebagai “Hantu Cyber”. Pendekatan storytelling yang ringan ini diharapkan membantu masyarakat mengenali berbagai modus penipuan sekaligus memahami langkah-langkah sederhana untuk melindungi diri saat bertransaksi secara digital.
Chief Digital & Retail Business Officer Bank Saqu Angela Lew Dermawan mengatakan ancaman kejahatan siber di era digital sering kali datang tanpa disadari, namun dapat berdampak nyata bagi masyarakat. Ia menambahkan menjelang Idulfitri, saat transaksi digital meningkat, pihaknya ingin mengingatkan nasabah agar tetap waspada terhadap berbagai modus penipuan serta memahami cara menjaga keamanan data pribadi.
Kampanye ini akan hadir dalam bentuk serial konten edukasi yang disebarkan melalui berbagai kanal digital Bank Saqu, termasuk media sosial. Dalam konten tersebut, masyarakat akan diajak mengenali berbagai karakter “hantu cyber” yang merepresentasikan modus penipuan yang sering terjadi sekaligus mempelajari cara menghindarinya.
Program ini juga dilatarbelakangi data dari Badan Siber dan Sandi Negara yang mencatat Indonesia mengalami ratusan juta anomali trafik siber setiap tahun yang berpotensi mengarah pada serangan digital. Sementara laporan Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan kerugian masyarakat akibat penipuan digital, termasuk social engineering dan penyalahgunaan OTP, diperkirakan mencapai lebih dari Rp2,5 triliun pada 2024.
Selain edukasi, Bank Saqu juga terus memperkuat sistem keamanan serta meningkatkan perlindungan transaksi digital bagi nasabah. Bank ini merupakan bagian dari Astra Financial dan WeLab yang berfokus menghadirkan layanan keuangan digital sekaligus mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat.
Melalui kampanye ini, Bank Saqu berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga keamanan data pribadi serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital demi terciptanya ekosistem keuangan digital yang lebih aman. (mas)