JAKARTA (IndoTelko) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia mengungkap sejumlah temuan penting dari Ekspedisi Kawasan Konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya (MBD) yang dilaksanakan sepanjang OktoberNovember 2025.
Hasil ekspedisi ilmiah selama satu bulan tersebut menegaskan perairan Maluku Barat Daya sebagai salah satu ekosistem laut paling tangguh dan resilien di dunia, dengan pasokan nutrisi yang bersumber dari Laut Banda dan Samudera Hindia. Kawasan ini dinilai memiliki peran strategis sebagai penyangga keanekaragaman hayati laut global di tengah tekanan perubahan iklim.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menyatakan bahwa temuan ekspedisi RomangDamer menjadi dasar penting dalam pengelolaan kawasan konservasi berbasis data ilmiah. Menurutnya, pendekatan tersebut juga sejalan dengan penguatan peran masyarakat dan implementasi ekonomi biru.
“Pengelolaan kawasan konservasi harus berbasis sains, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal. Temuan ekspedisi ini sangat relevan untuk mendukung kebijakan di tingkat pusat dan daerah,” ujarnya dalam talkshow Bincang Bahari di kantor KKP, Jakarta.
Habitat Dugong Terbesar di Indonesia
Ekspedisi tersebut mencatat perairan Maluku Barat Daya sebagai koridor migrasi utama bagi 24 spesies laut terancam punah, termasuk paus biru, orca, hiu martil, penyu, hingga dugong. Salah satu temuan paling menonjol adalah keberadaan habitat dugong terbesar di Indonesia, dengan observasi hingga 32 individu dugong dalam satu kawasan—sebuah temuan yang tergolong langka bahkan dalam konteks global.
Kondisi ini didukung oleh kualitas ekosistem lamun yang sangat baik, dengan tingkat tutupan di atas 50 persen. Tim peneliti juga menemukan sembilan jenis lamun, atau sekitar dua pertiga dari total jenis lamun yang tercatat di Indonesia.
Selain lamun, kondisi terumbu karang di Kepulauan Romang dan Damer juga berada pada kategori sedang hingga baik, dengan tutupan tertinggi mencapai 51,4 persen, melampaui rata-rata regional. Analisis lanjutan menunjukkan sebagian koloni karang di kawasan tersebut telah berusia 100 hingga 200 tahun, menandakan ekosistem perairan dangkal yang stabil dan berumur panjang.
Kearifan Lokal Jadi Penopang Konservasi
Ekspedisi ini turut menyoroti kuatnya peran masyarakat adat Maluku Barat Daya dalam menjaga kelestarian laut melalui praktik kearifan lokal, seperti Sasi dan larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan ekosistem sejak generasi terdahulu.
Pjs Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, menegaskan bahwa kawasan Romang dan Damer menunjukkan ketahanan ekosistem yang tinggi di tengah fenomena pemutihan karang di berbagai wilayah lain.
“Kami menemukan habitat dugong terbesar, terumbu karang yang sehat, dan ekosistem yang tetap tangguh. Namun, semua ini terancam oleh praktik penangkapan ikan destruktif dari pihak luar, serta masalah sampah plastik dan ghost net,” ujarnya.
Ancaman dan Langkah Ke Depan
Meski masih relatif terjaga, perairan Maluku Barat Daya menghadapi ancaman serius, mulai dari penangkapan ikan dengan bahan peledak dan racun, perburuan penyu, hingga pencemaran sampah plastik yang mulai menjangkau wilayah pesisir terpencil. Kerusakan di kawasan ini berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi regional.
Untuk itu, penguatan pengawasan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan dinilai menjadi kunci utama menjaga keberlanjutan kawasan.
Sebagai bagian dari upaya peningkatan kesadaran masyarakat pesisir, WWF Indonesia berencana mengembangkan program sosialisasi konservasi dengan pendekatan budaya lokal Kalwedo—nilai persaudaraan dan kebersamaan khas Maluku Barat Daya. Pendekatan ini diharapkan mampu menanamkan rasa kepemilikan dan kebanggaan terhadap kekayaan laut sejak usia dini.
Dengan dukungan data ilmiah, komitmen pemerintah, dan peran aktif masyarakat adat, Maluku Barat Daya kini dipandang sebagai simbol harapan bagi masa depan laut Indonesia. (mas)