telkomsel halo

Keamanan cyber prioritas utama selama pandemi

05:19:13 | 26 Feb 2021
Keamanan cyber prioritas utama selama pandemi
Cisco Secure (dok)
Angkasa Pura 2
Jakarta (IndoTelko) -  Baru-baru ini Cisco melaporkan hasil studinya yang bertema “The Future of Secure Remote Work Report” menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia melihat adanya peningkatan tantangan keamanan siber di tengah pergeseran massal menuju sistem kerja jarak jauh (remote).

Studi tersebut mencatat 78% responden mengatakan bahwa mereka pernah mengalami peningkatan ancaman atau peringatan siber sebesar 25% atau lebih sejak dimulainya COVID-19. Jumlahnya signifikan, terutama karena sebagian besar perusahaan yang terdampak COVID-19 tidak siap untuk mendukung sistem kerja jarak jauh secara aman.

Sementara Indonesia termasuk negara yang paling siap di ASEAN untuk beralih ke kerja jarak jauh dengan 49% responden mengatakan bahwa mereka sangat siap untuk pindah, kedua setelah Vietnam dengan 67%. 


Dijelaskan Managing Director Cisco Indonesia Marina Kacaribu, hasil studi tersebut menunjukkan perusahaan di Indonesia sudah sadar akan pentingnya keamanan siber. Namun demikian, kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran akan hal ini masih mendesak, terutama karena ancaman dan peringatan serangan siber masih sangat tinggi. 


“Lebih jauh, perusahaan perlu memahami betapa pentingnya menjadikan keamanan siber sebagai dasar strategi investasi TI mereka. Terutama setelah terbukti bahwa sangat mungkin untuk tetap produktif dalam periode yang lama meski bekerja dari jarak jauh,” katanya. 

Marina menambahkan, penting bagi pelaku usaha untuk menyadari pentingnya pengamanan akses pada skala lebih besar dibanding sebelumnya untuk menjaga bisnis tetap berjalan di tengah kondisi yang baru dan sangat berbeda ini.

Dalam studi ini juga terungkap bahwa keamanan telah menjadi prioritas utama bagi banyak perusahaan di Indonesia dengan 59% mengatakan bahwa keamanan siber sekarang menjadi sangat penting, dan 26% di antaranya mengatakan itu lebih penting daripada sebelum COVID-19.

Dengan pengguna yang terhubung dari jarak jauh, sebagian besar perusahaan melihat bahwa tantangan keamanan siber di peringkat teratas adalah akses yang aman (70%), dan perlindungan data pribadi (70%), yang berimplikasi pada postur keamanan secara keseluruhan. Kekhawatiran lain yang dirasakan oleh perusahaan di Indonesia termasuk perlindungan terhadap malware (63%). 


Mayoritas perusahaan di Indonesia percaya bahwa perubahan pada kebijakan keamanan siber mereka diperlukan untuk mengatasi situasi saat ini. Namun, kemungkinan besar perubahan ini tidak akan dibuat permanen atau dilanjutkan setelah pandemi selesai. 53% responden (sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata APJC sebesar 54%) menyatakan bahwa perubahan kebijakan keamanan siber yang permanen hanya sekitar 30 persen atau kurang dari keseluruhan kebijakan yang dibuat saat ini. 


Tidak semuanya menjadi berita buruk, karena lebih dari setengah (63%) perusahaan di Indonesia percaya bahwa mereka akan meningkatkan investasi keamanan siber, dan dari total perusahaan yang percaya akan hal ini, 40% diantaranya percaya bahwa investasi tersebut akan melebihi 30%. Sebagian besar perusahaan (35% menempatkannya pada peringkat pertama) juga menempatkan peningkatan postur pertahanan keamanan siber secara keseluruhan sebagai prioritas investasi utama mereka dalam mempersiapkan dunia pasca pandemi. Hal ini diikuti oleh akses jaringan (28% menempatkannya pada peringkat pertama) dan keamanan cloud (19% menempatkannya pada peringkat pertama).

Paket Semangat Kemerdekaan
Juga terungkap dalam studi ini bahwa 95% perusahaan di Indonesia mengakui bahwa kesiapan dalam mempercepat transisi menuju lingkungan kerja jarak jauh pada awal COVID-19 cukup beragam, mulai dari “sangat” hingga “cukup” siap. Hanya 22% responden mengatakan bahwa lebih dari 50% tenaga kerja mereka bekerja dari jarak jauh sebelum pandemi. Namun, jumlah itu diperkirakan meningkat menjadi 32% ketika membahas situasi ketenagakerjaan setelah pandemi selesai.

Cisco Director of Cybersecurity untuk ASEAN Juan Huat Koo mengungkapkan, keamanan siber lebih dari sekadar kewajiban yang perlu dipenuhi. Saat perusahaan memberikan perubahan signifikan pada teknologi dan prioritas bisnis mereka, keamanan siber harus menjadi jembatan yang memungkinkan perusahaan berkolaborasi secara produktif dan memaksimalkan potensi mereka.

Ditambahkannya, perlunya dukungan kebijakan yang kuat, penegakan yang kokoh, dan program pendidikan karyawan yang konsisten. Tujuannya tentu agar bisa membangun budaya keamanan siber yang sehat dan terintegrasi, bagi perusahaan dan juga tenaga kerjanya dalam jangka panjang. (sg)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year