Telkom Marketing 2
Telkom Marketing 2
blanja 2019
telkomsel halo

ASIOTI perjuangkan SKKNI bagi "Makers" lokal

10:33:00 | 20 Jun 2019
ASIOTI perjuangkan SKKNI bagi
Ketua umum ASIOTI Teguh Prasetya (kiri) bersama Dirjen SDPPI Kominfo Ismail dan Direktur Industri Elektronika dan Telematika (IET), Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Janu Suryanto kala memperkenalkan buku saku IoT.(ist)
telkomsat
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI) tengah mendekati Kementrian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemenaker RI) untuk mengeluarkan Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bagi "Makers" solusi Internet of Things (IoT) lokal.

SKKNI adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek Pengetahuan (knowledge), Keterampilan dan/atau Keahlian (skills) serta Sikap kerja (attitude) yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kegunaan SKKNI diantaranya sebagai acuan pendidikan/pelatihan berbasis kompetensi, acuan pelaksanaan uji kompetensi (sertifikasi kompetensi), acuan untuk menstrukturkan perusahaan, dan acuan penyusunan SOP perusahaan.

"ASIOTI sudah berhasil bersama Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menghasilkan aturan untuk solusi IoT. Ada satu Peraturan Menteri Kominfo dan PerDirjen SDPPI soal IoT. Sekarang kami berjuang agar ada sertifikasi bagi para "Makers" IoT lokal dengan Kemenaker," ungkap Ketua umum ASIOTI Teguh Prasetya kemarin.

Teguh mengatakan organisasinya berkolaborasi dengan Kominfo dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengadakan IoT Makers Creation 2019, sebuah program pencarian, pembekalan, hingga mendorong terbentuknya startup lokal yang fokus mengembangkan solusi IoT dari berbagai daerah di Indonesia.

"Dari ajang ini kami melihat kampus itu banyak berpotensi menghasilkan Makers untuk IoT. Kalau tak ada sertifikasi nanti susah bersaing di pasar," katanya.

Tahun ini IoT Makers Creation terdiri dari tiga aspek kegiatan, yaitu: hands on workshop di 10 kota(Mataram, Bogor, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Makassar, Medan, dan Tangerang), perlombaan dan pameran solusi, serta pengembangan solusi lanjutan melalui pelatihan di luar negeri dan program lanjutan di lab IoT milik pelaku industri.

Direktur Jendral Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika SDPPI Ismail, mengatakan industri TIK memiliki banyak elemen. Salah satu yang paling utama adalah infrastruktur, meliputi jaringan hingga perangkat. Elemen lainnya di atas jaringan ada aplikasi, dan diatasnya lagi ada konten. Solusi IoT melingkupi seluruh elemen di atas.

”IoT merupakan gabungan antara jaringan dengan aplikasi dan mengubah komunikasi tidak lagi melibatkan orang, namun langsung antar perangkat. Semua benda saling terkoneksi melalui internet dan ini mengubah wajah dunia,” ujarnya.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika (IET), Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Janu Suryanto menambahkan Kementerian Perindustrian dalam mendorong implemetasi industri 4.0, tahun ini pihaknya fokus para program pendidikan.

Janu menilai peran pemerintah saat ini tidak cukup jika hanya menjadi policy makers dan regulator, namun perlu menjadi fasilitator agar Indonesia bisa menangkap peluang digitalisasi dengan maksimal.

“Kami lihat penyedia solusi IoT lokal di Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan pemain global. Mereka bahkan diunggulkan karena lebih memahami situasi yang ada dan kebutuhan industri di Indonesia sehingga dapat menyediakan solusi yang sesuai," ujarnya.

Menurutnya, solusi IoT, khususnya bagi industri merupakan solusi yang customized harus bisa menghadirkan efisiensi bagi bisnis atau nilai tambah tertentu yang kebutuhannya bisa berbeda bagi setiap industri, bahkan perusahaan.

Kementerian Perindustrian menilai para penyedia lokal yang siap melayani kebutuhan industri masih jauh dari cukup, sehingga pihaknya menilai program pengembangan ekosistem khususnya SDM lokal menjadi tanggungjawab bersama, termasuk pemerintah. “Tentu saja kami tidak bisa jalan sendirian. Kolaborasi akan membuat proses ini menjadi lebih cepat,” katanya.

ASIOTI mencatat  besarnya potensi IoT di Indonesia sebesar 400 juta perangkat dengan nilai bisnis sebesar Rp444 triliun pada tahun 2022 harus segera diwujudkan sejalan dengan telah dikeluarkannya aturan PM no.1/2019 tentang Ijin Kelas dan Perdirjen NO.3/2019 Tentang LPWA (Low Power Wide Area Network). 

Didukung
General Manager Reserach Manajemen Telkomsel Edyson B Tamba mengatakanTelkomsel sudah melewati fase pertama membangun ekosistem IoT dengan sebuah program besar TINC (Telkomsel Innovation Center) yang isinya adalah program inkubasi para start-up untuk menghasilkan solusi ataupun produk komersial. 

Berikutnya di fase kedua melaksanakan Roadshow, Sharing & Workshop bersama stakeholderterkait dengan konsep program “Innovate 2019 in collaboration with IoT Makers Creation” yang menitikberatkan kepada solusi industri antara lain pemantauan indikator kesehatan dan keselamatan kerja, efiesiensi energi pada alat produksi dan optimasi produktifitas jalur produksi.

Keseluruhan program ini akan memanfaatkan IoT Platform (connectinc) dan hasil karya dari IoT Innovation Lab Telkomsel berupa Carrier BoardNB-IoT module. Secara keseluruhan  membangun ekosistem IoT di Indonesia, sangat memerlukan partisipasi semua pihak untuk mempercepat proses pengembangan IoT dan bisnisnya sehingga bisa mencapai nilai komersial.

Group Head Enterprise Product and Marketing XL Axita Sharif Lukman Mahfoedz mengatakan bahwa XL Axiata berkomitmen untuk mendukung lahir dan bertumbuhnya semakin banyak sumber daya manusia Indonesia di bidang IoT. Salah satu bentuk dukungan nyata yang saat ini sudah XL lakukan adalah dengan mendirikan X-Camp, suatu lab IoT yang lengkap dan terintegrasi. 

"Kami harapkan melalui kehadiran X-Camp ini dapat menjadi wadah bagi IoT makers untuk mengembangkan potensi dirinya dengan memanfaatkan beragam fasilitas pengembangan dan inkubasi produk yang kami sediakan. Para IoT makers juga dapat berkolaborasi dengan sesamanya dan dengan team XL Axiata yang terdiri dari para profesional multi-nasional yang tergabung didalam group Axiata. Terlebih lagi, para IoT makers juga berkesempatan untuk bertemu dan berkolaborasi dengan beragam korporasi maupun SME yang selama ini menjadi klien XL Business Solution, sehingga peluang proses business match making pun terbuka lebar," katanya.  

Division Head Product Planning Engineering Tower Bersama Sigit Cahyo menilai pemain lokal sudah memiliki kemapuan untuk memberikan solusi IoT. Namun, untuk dapat diterima pasar masih perlu adanya sosialisasi dan edukasi terkait tentang IoT itu sendiri.  

“Disisi lain ada hitungan bisnis yang harus dipastikan bahwa solusi yang ditawarkan memiliki nilai bisnis tinggi antara lain mampu menciptakan peningkatan produktivitas atau creating new revenue stream,” ujarnya.

Menurutnya, IoT makers Creation mendorong adanya pertumbuhan para makersbaru dari berbagai penjuru tanah air. Sehingga, kunci sukses agar IoT diterima pasar, yaitu kesesuaian dan integrasi komponen sensor, jaringan, platform, aplikasi dengan model bisnis yang mendisrupsi kondisi saat ini dapat tercapai.

Sigit menambahkan Tower Bersama sebagai perusahaan nasional penyedia infrastruktur telekomunikasi di Indonesia yang memiliki portfoliohingga 15.000 tower melihat IoT sebagai potensi besar. “Kami juga corcern terhadap kemajuan dari perkembangan kualitas dan kuantitas makerskarya anak bangsa di bidang IoT,” katanya.

Direktur Eyro Digital Teknologi (CUBEACON) Fariz Yuniar mengatakan Cubeacon sebagai salah satu merek produsen sensor lokal untuk IoT yang telah melayani pelanggan korporasi di pelayanan publik bandara udara dan rumah sakit. 

“Tantangan pengembangan pasar yang lebih luas adalah perlu diberikannya edukasi dan pemahaman manfaat mengenai industri 4.0 kepada koporasi dan pemerintah daerah, serta bertemunya titik temu antara manfaat IoT dengan harga kewajaran yang dapat diterima oleh calon pelanggan,” ujarnya. 

Ditambahkannya, SDM yang mumpuni dengan keterjangkaun kewajaran penggajian menjadi salah satu faktor berkembangnya iot di masa depan, terutama untuk pemasangan, perawatan sensor-sensor IoT di seluruh wilayah Indonesia.

Semakin banyaknya makers yang tersebar di berbagai daerah akan memudahkan para penyedia solusi IoT untuk berkolaborasi maupun menjadi perpanjangan tangan untuk mengembangkan layanan IoT secara merata dan efisien di seluruh Indonesia.

Co-Founder Nocola iOT Solution Ganang Ardiy Tama mengakui pengembangan kapabilitas dari SDM lokal menjadi salah satu hal penting yang harus dikerjakan bersama.

“Kami sangat mengapresiasi penyelengarakan IoT Makers Creation 2019. Diharapkan dengan terselengaranya program tersebut, menjadi momen dimana muncul talenta-talenta baru untuk pengembangan IoT, sehingga ekosistem IoT khususnya bagi pengembang akan terbentuk,” ujarnya.

Menurut Ganang, merupakan tanggung jawab bersama untuk saling bergandeng tangan untuk berkontribusi dalam mengedukasi pengembang khususnya di daerah. Nocola sebagai salah satu perusahaan pengembang IoT di daerah terus membuka peluang untuk mencari talenta baru.

Nocola saat ini telah melayani pelanggan korporasi di industri energi. Ganang menjelaskan tantangan yang pihaknya hadapi selama ini berupa sertifikasi perangkat yang telah dikembangkan. Diharapkan setelah ini diadakan edukasi bagi industri untuk proses sertifikasi perangkat yang di pasarkan.

Telkom Marketing 2
Head IoT Business Imani Prima Doddy Taufiq Arief mengatakan Imani Prima dengan pengalaman lebih dari 10 tahun terlibat dalam pengerjaan solusi IoT sangat merasakan pentingnya meningkatkan jumlah dan kapabilitas talenta lokal. 

Imani Prima memberikan solusi end-to-end mulai dari akuisisi data, connectivity, cloud server, web/mobile appdan data analytic. “Hal ini menyebabkan kami  membutuhkan SDM dengan berbagai latar belakang yang akan ditempatkan antara lain sebagai hardware engineer, field engineer, network engineer, software engineer, system analyst dan data analytic,” ujarnya. 

Angkasa Pura 2
Doddy menambahkan sejauh ini dirasakan SDM lokal sangat siap untuk terlibat lebih jauh dalam IoT. Khusus untuk hardwareperlu dikembangkan ekosistem lokal agar bisa menjadi pemain di negeri sendiri.(id)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma