Telkom Marketing 2
Telkom Marketing 2
blanja 2019
telkomsel halo

Q4-19, Garuda gunakan drone untuk bawa kargo

11:25:45 | 30 Apr 2019
Q4-19, Garuda gunakan drone untuk bawa kargo
UAV milik Beihang UAS Technology yang akan dimanfaatkan Garuda untuk layanan Kargo.(ist)
telkomsat
telkomtelstra januari - maret
CENGKARENG (IndoTelko) – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan memanfaatkan teknologi drone untuk memperkuat bisnis kargo udaranya.

Garuda berencana akan memanfaatkan teknologi drone (unmanned aerial vehicle/UAV)  hingga 100 unit drone di Indonesia yang merupakan bentuk kerjasama eksklusif bersama Beihang UAS Technology Co. Ltd yang juga turut melibatkan sektor industri nasional khususnya dari aspek produksi, perakitan armada hingga aspek komersial penunjang lainnya.

Pada tahap awal, Garuda Indonesia  berencana mengoperasikan sebanyak 3 unit drone berjenis BZK-005 di kuartal keempat 2019, yang  diproyeksikan dapat mengangkut beban angkutan kargo hingga mencapai 1,2 ton dengan jarak tempuh mencapai 1200 kilometer di ketinggian 5.000 meter.

Direktur Kargo & Pengembangan Usaha Garuda Indonesia Mohammad Iqbal mengungkapkan penggunaan drone menjadi opsi yang ideal dalam fokus maskapai untuk mengoptimalkan potensi pangsa pasar dan pendapatan kargo udara, terutama dalam menghubungkan wilayah remote dengan fasilitas bandara yang terbatas seperti di Maluku, Papua dan Sulawesi yang kaya dengan marine product.

Menurutnya, dengan teknologi UAV, maskapai akan menjadi lebih efisien dalam hal konsumsi bahan bakar sekaligus meminimalkan resiko. Di sisi lain, melalui pemanfaatan teknologi UAV tersebut, investasi untuk pengembangan armada menjadi lebih kompetitif jika dibandingkan dengan jenis armada konvensional untuk angkutan kargo udara. Melalui teknologi UAV tersebut, Garuda Indonesia akan memiliki kemampuan mengirimkan barang secara door to door yang menjangkau seluruh wilayah nusantara dalam waktu 24 jam.

“Adapun saat ini kami terus melaksanakan koordinasi intensif bersama seluruh stakeholder terkait kajian regulasi hingga tatalaksana operasional teknologi tersebut dapat berjalan lancar. Proses uji coba teknologi drone dari segi kelaikan bandara, landasan udara, navigasi, kendali lalu lintas udara, meteorologi dan aspek terkait rencananya akan kami mulai uji cobakan pada bulan September 2019," katanya.

Adapun pemanfaatan teknologi drone ini, turut menjadikan Garuda Indonesia Indonesia sebagai pelopor pengiriman logistik dengan drone di Indonesia khususnya dalam mendukung Sistem Logistik Nasional (SISLOGNAS) melalui optimalisasi konektivitas antara pusat kegiatan ekonomi dengan wilayah yang tersebar luas di Indonesia sekaligus mewujudkan visi jembatan udara yang dicita-citakan pemerintah.

Hal ini tentu saja menjadi value market tersendiri, mengingat dengan adanya layanan drone untuk angkutan kargo udara ini, Garuda Indonesia dapat turut mendukung pengembangan sektor industri kemaritiman dan agrikultur melalui penyediaan akses distribusi kargo udara produk unggulan budidaya lokal di wilayah-wilayah remote area di wilayah Indonesia Timur dan sekitarnya seperti wilayah Saumlaki, Langgur, Dobo, Jayapura, Sorong, Timika, menuju hub penerbangan besar Garuda Indonesia seperti Ambon dan Makassar.

“Proses pengiriman yang cepat dan mampu menjangkau daerah dengan kondisi wilayah yang sulit akan membantu pengelolaan komoditas di Indonesia semakin efektif dan efisien”, jelas Iqbal.

Pionir
Asal tahu saja, Garuda memang selalu pionir dalam memanfaatkan teknologi baru di bisnis aviasi Indonesia.

Misalnya, keberanian Garuda menggandeng PT Mahata Aero Teknologi dalam kerjasama inflight connectivity untuk semua armadanya tahun lalu.

Dari kerjasama ini Garuda memproyeksi menghasilkan pendapatan sebesar US$239,94 juta serta US$ 28 juta yang didapatkan dari bagi hasil dengan PT Sriwijaya Air.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Garuda belum lama ini telah mengakui proyeksi pendapatan itu sebagai bagian penghasilan yang dicatat maskapai itu pada 2018. (Baca: Mahata-Garuda)

Laporan keuangan 2018 itu diterima dan disetujui oleh pemegang saham dengan catatan dua dissenting opinion dari dua komisaris.      

Mahata merupakan startup penyedia teknologi wifi on board pertama dalam sejarah penerbangan Indonesia. Teknologi yang digunakan untuk layanan ini adalah GX Aviation Sistem atau layanan konektivitas nirkabel global berkecepatan tinggi pertama dan satu-satunya di dunia yang dikirimkan melalui jaringan High-Throughput Satellites (HTS).

Mahata menggandeng Inmarsat Aviation, Lufthansa Technik (hardware, engineering, installation design and certification), dan Lufthansa System (software platform and integration) untuk penyediaan layanan ini.
 
Dubai Forum.me melaporkan pada 8 April 2019 Mahata baru saja mendapatkan suntikan dana sebesar US$21 juta yang dipimpin oleh Well Vintage Enterprise FZE Dubai.

Dana ini akan digunakan untuk pembayaran awal hardware untuk GX aviation sistem yang akan digunakan Garuda Indonesia Group.  

Telkom Marketing 2
Mahata Group juga bekerjasama dengan Tiket.com untuk mengembangkan ekosistem digital di tanah air. Mahata Group telah menyelesaikan instalasi wifi pertama di maskapai Citilink Indonesia pada Desember lalu, dan akan melanjutkan instalasi wifi pada maskapai Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air. 

Estimasi jumlah kerjasama antara Tiket.com dan Mahata adalah sebesar US$500 juta. Namun, detail dari skema dan bentuk kerjasama antara Mahata dan Tiket.com masih dirahasiakan. Dengan jumlah kerjasama tersebut, Mahata Group menjadi salah satu startup unicorn dari Indonesia.

Angkasa Pura 2
Berdasarkan penelusuran di internet, investasi untuk perangkat layanan WiFi di satu pesawat biasanya senilai US$650 ribu, selain itu ada biaya pasang, sertifikasi sekitar US$350 ribu. Belum lagi belanja bandwitdh bulanan sekitar US$ 35 ribu sampai US$ 75 ribu.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
pollingkabinetjokowi.jpeg
More Stories
telkom sigma