Telkom Marketing 2
Telkom Marketing 2
blanja 2019
telkomsel halo

Perlukah solusi manajemen bencana di Indonesia?

13:40:17 | 12 Dec 2018
Perlukah solusi manajemen bencana di Indonesia?
Executive Product Manager Huawei Indonesia, Arri Marsenaldi (dok)
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Dalam setahun ini, beberapa bencana nasional dan lokal terjadi di Tanah Air.  Gempa di Lombok, banjir bandang di beberapa daerah, dan yang tak kalah besar adalah Tsunami di Palu.

Uniknya, penanganan bencana tersebut terlihat tidak terencana dan terukur. Baik kala bencana hingga pasca bencana, pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah dan pemerintah pusat seperti jalan sendiri-sendiri.

Bahkan, di kala beberapa negara cepat tanggap dalam menghadapi bencana, hingga ada negara yang sudah mengetahui terlebih dahulu sebelum bencana terjadi, Indonesia justru ketinggalan jauh.  Dari bencana ke bencana, nyaris penanganannya tak jauh berbeda. 

Manajemen bencana

Beberapa negara sudah memiliki teknologi dalam penanangan bencana. Teknologi yang menjadikan semuanya menjadi simpel, lebih mudah, cepat, terstruktur, terencana, dan pastinya lebih ekonomis.

Bagaimana di Indonesia.  Apakah Indonesia sudah sangat memerlukan teknologi penanganan bencana secara maksimal dalam arti menyeluruh ke minimal daerah-daerah rawan bencana? Apakah memungkinkan untuk negara beribu pulau ini memiliki manajemen bencana dengan optimalisasi teknologi yg ada?

Data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB), setidaknya ada 1.134 bencana yang terjadi tahun ini. Tercatat jumlah korban yang terdampak dan mengungsi karena bencana tersebut sekitar 777.620 jiwa.

Dikatakan Executive Product Manager Huawei Indonesia, Arri Marsenaldi, Indonesia masih dihadapkan dengan tantangan terkait sistem peringatan bencana dan respon terintegrasi dalam penanganan bencana. 

Ditambahkannya, tantangan. Fundamental yang dihadapi Indonesia meliputi sulitnya memprediksi bencana alam seperti gempa dan longsor, plus kurangnya kesadaran waga yang tinggal di wilayah-wilayah rentan bencana. 

Tantangan lainnya adalah adanya keterbatasan analisis data yang dapat menjadi rujukan sistem peringatan awal bencana (early warning) dan kualitas jaringan telekomunikasi yang tidak merata. 

Posisi di Cincin Api Pasifik menjadikan Indonesia memiliki kerentanan yang tinggi terhadap bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir juga kekeringan. 

Menurut catatan organisasi Center for Excellence in Disaster Management and Humanitarian Assistance, selama 30 tahun terakhir Indonesia dilanda sekitar 290 bencana alam hebat setiap tahunnya.

Ari menegaskan, teknologi informasi dan komunikasi memiliki peran yang signifikan dalam manajemen bencana dan pengambilan keputusan terkait penanggulangan bencana.  “Karena itu diperlukan sistem pusat komando terintegrasi yang melibatkan aspek kolaborasi antar pihak-pihak terkait, baik pemerintah pusat dan nasional, badan penanggulangan bencana terkait, serta pihak pendukung lainnya,” tambahnya.

Pemanfaatan perangkat teknologi berbasis Internet of Things (IoT) seperti sensor, dan kamera pengawas, mobile base station dan jaringan eLTE, akan membantu proses pengambilan keputusan yang tepat dengan 60 persen lebih cepat.   

Huawei mengembangkan model manajemen bencana 2P2R (Prevention, Pre Warning, Response, Recovery) yang dirancang secara efektif dalam mendukung dilakukannya langkah-langkah yang tepat terkait dengan upaya pencegahan, kesiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan bencana.

Pengembangan berbasis teknologi ini menjadi kekuatan utama Huawei dalam dihadirkannya solusi penanggulangan bencana yang mendukung terwujudnya upaya-upaya kolaboratif yang lebih cepat, makin terintegrasi, serta andal. “Kompetensi kami yang telah diakui secara global dalam membangun solusi TIK, serta sinergi yang kami bangun bersama dengan para mitra yang punya rekam jejak nyata menjadi jaminan disuguhkannya sebuah solusi pengelolaan bencana yang kolaboratif dan efektif,” tambahnya.

Dalam rangka kebutuhan pencegahan atau preventif, Huawei menawarkan solusi-solusi untuk mengkaji resiko dan memetakan potensi rawan bencana yang akan menjadi landasan dalam manajemen resiko dan tanggap bencana. Solusi ini mampu mendukung penggelaran dan pengalokasian sumber-sumber daya pendukung secara cerdas dan terukur di lokasi-lokasi yang tepat.  

Telkom Marketing 2
Perusahaan ini juga memperkenalkan teknologi pengumpulan data multi kanal dan pengintegrasian data untuk keperluan analisis bencana secara cerdas, pengkajian resiko bencana, membangun analisis pemodelan bencana untuk peringatan dini, serta proses diseminasi informasi peringatan dini bencana secara tepat kepada pihak terkait.

Pun dikembangkan pusat operasional darurat di lapangan untuk mendukung proses penggelaran yang cepat.  Dilanjutkan pada tahap pemulihan bencana, dikembangkan solusi-solusi untuk mendukung proses pemulihan dan pencegahan epidemik pasca bencana.  (sg)

Angkasa Pura 2
 

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
atta 300 x 250.gif
More Stories
telkom sigma
Financial Analysis
CCSI raih dana IPO Rp50 miliar