Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

Penjualan TelkomVision Dinilai Tepat

10:50:08 | 19 Jun 2013
Penjualan TelkomVision Dinilai Tepat
Dahlan Iskan (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) –  Aksi manajemen PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) untuk melepas 80% kepemilikannya di anak usaha, TelkomVision, ke CT Corpora dinilai wajar dan tepat oleh Kementrian Badan Usaha Milik Negara (KBUMN) sebagai pemegang saham Dwiwarna di BUMN halo-halo tersebut.

"Keputusan yang diambil manajemen Telkom itu wajar dan tepat. TelkomVision sejak didirikan selama 16 tahun lalu rugi terus menerus. Wajar diamputasi,” kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, kemarin.

Dikatakannya, kendala yang dihadapi Telkom dalam mengembangkan TelkomVision adalah beban yang terlalu tinggi untuk membuat konten. “Telkom itu kuat di infrastruktur. Di TV berbayar, justru konten lebih mendominasi biaya operasional. Jadinya, rugi terus,” jelasnya.

Dahlan menepis isu yang beredar penjualan Telkomvision   karena desakan Chairul Tanjung yang ingin memiliki bisnis televisi kabel. Konglomerat ini dikabarkan bernafsu memiliki bisnis TV berbayar layaknya taipan media lainnya seperti  grup media Bakrie telah memiliki Sky TV dan grup MNC telah memiliki Indovision dan Oke TV. Sementara grup SCTV dan Indosiar telah memiliki televisi berbayar, Next Media.

"Penjualan Telkomvision itu dilakukan melalui tender, bukan asal-asalan. Kalau penawar terbaik itu Chairul Tanjung, tentu tidak bisa SCTV atau penawar lain yang dimenangkan bukan" jelasnya.

Mencari Mitra
Direktur Utama Telkom Arief Yahya pun akhirnya bersuara lebih jelas perihal aksi korporasi ini setelah banyak isu bersiliweran di dunia maya.

"Kita mencari mitra yang qualified di bidangnya. Kita sudah melakukan conditional sales purchase aggrement (CSPA) dengan Trans Corp,” kata Pria yang akrab disapa AY itu.
 
Diungkapkan AY, Telkom   selama ini memang tidak menggantungkan keuntungan dari bisnis televisi kabel itu. Bisnis utama Telkom masih di akses telekomunikasi melalui anak usaha   Telkomsel. "Kita itu di bisnis Information, Media, Edutainment, dan Services itu strateginya berkolaborasi. Beda dengan bisnis telekomunikasi yang memang bidangnya Telkom, kita berani investasi sendiri,” jelasnya.

Hingga akhir 2012, pendapatan Telkomvison mencapai Rp 405 miliar atau naik 56% dari akhir 2011 Rp 259 miliar. Namun, Margin laba sebelum biaya bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) dari TelkomVision selama periode 2010-2012 berada di posisi   20% atau lebih rendah ketimbang industri yang sebesar 35%.
Kabar beredar mengatakan nilai transaksi  setara US$ 100 setara Rp 980,3 miliar. Secara enterprise value, TelkomVision dibanderol  sekitar US$ 200 juta atau Rp 1,9 triliun termasuk hutang oleh Telkom.

CT Corpora kabarnya membayarkan sebesar  US$ 100 juta ke Telkom setelah dikurangi hutang, sebagian lagi dimasukkan ke TelkomVision sebagai penguatan modal.  Grup usaha ini dikabarkan menyingkirkan Elang Media Teknologi (EMTEK) dalam proses tender yang digelar Telkom beberapa waktu lalu.

Sebelumnya,   Ekonom Sustainable Development Indonesia, Drajad H Wibowo, menyatakan, penjualan ini dinilai tidak memiliki urgensi terhadap kinerja Telkom.
"Tidak ada alasan strategis sama sekali menjual TelkomVision,” tegas Drajad pekan lalu.

Drajad menilai, pelepasan TelkomVision justru menjadikan Telkom melepas kesempatan bisnis di masa depan. “Jika butuh dana segar, tinggal ke pasar,” katanya.

Namun, bagi para pelaku di industri telekomunikasi menilai langkah Telkom melepas TelkomVision justru tepat karena tren ke depan adalah melihat konten di layar ketiga alias smartphone atau tablet.

Masuknya CT Corpora ke TV berbayar pun diyakini tak mengubah lanskap persaingan dimana Indovision masih menjadi raja di pasar tersebut. Pasalnya, penetrasi TV berbayar baru 5% di Indonesia, sedangkan tantangan pengembangan lumayan berat yakni pasar yang sensitif harga, pembajakan konten, set top box dan konten yang mahal, serta biaya pemasangan yang ditanggung operator.(ak)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year