Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

Tenang, Esia Masih Ada!

7:01:28 | 14 Jun 2013
Tenang, Esia Masih Ada!
Ilustrasi (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – Para analis keuangan atau lembaga pemeringkat boleh saja menyatakan was-was terhadap kondisi dari PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) di masa mendatang.

Simak kajian yang dilakukan salah satu lembaga pemeringkat, Fitch Ratings,  pada April lalu.
Lembaga ini menurunkan peringkat jangka panjang mata uang asing dan mata uang lokal Issuer Default Ratings (IDR) milik BTEL dari CCC menjadi CC.

Tak hanya itu, Fitch juga telah menurunkan peringkat obligasi sebesar US$ 380 juta yang akan jatuh tempo pada Mei 2015. Obligasi ini dijamin sepenuhnya oleh BTEL dan peringkatnya turun dari CCC ke CC. Recovery Rating dari surat utang tersebut berada di RR4. Prospek stabil telah dihapuskan.

Bahkan, lemabaga ini memprediksi kemungkinan perusahaan akan mengalami kesulitan untuk membayar kembali surat hutang yang akan jatuh tempo di bulan Mei 2015.

Likuiditas dari BTEL pun diperkirakan akan terbatas karena jumlah kas dan Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) yang dihasilkan  di 2013 kemungkinan besar tidak cukup untuk memenuhi kewajibannya.

Diperkirakan  defisit kas BTEL akan berada di sekitar US$ 50 juta – US$ 60 juta dan maksimum US$ 30 juta dari defisit tersebut dapat didanai oleh utang.

Dalam terms dari obligasi dollar AS, BTEL hanya mampu mendapatkan tambahan US$ 30 juta  utang baru karena perusahaan tetap melanggar incurrence covenant.

Utang konsolidasi/EBITDA perusahaan selama 12 bulan terakhir berada di 5,2 kali per akhir Desember 2012, dibandingkan dengan incurrence covenant di 4,75 kali.

Fitch juga memperkirakan walau sekarang BTEL menggenjot jasa data, tetapi tidak akan mampu menutup kekurangan di  segmen suara dan SMS dalam 2 tahun kedepan.

Apalagi, BTEL pada tahun ini hanya memiliki belanja modal sekitar US$ 25 juta atau sekitar 10-11%  dari pendapatan.Angka ini dianggap tak mampu menopang ekspansi jaringan dibandingkan dengan pemain berbasis teknologi GSM yang mengalokasikan sekitar 25-35%  dari pendapatan untuk mengembangkan bisnis datanya.

Selama periode 2010-12, EBITDA  BTEL turun sekitar 28%  menjadi US$ 102 juta  di 2012 disebabkan oleh turunnya pelanggan sebesar 10,7% menjadi 11,6 juta dan tingginya biaya kompetisi dan operasional.

Mampu Bertahan
Industri boleh saja was-was. Namun tidak demikian dengan manajemen dari BTEL. Setidaknya itu yang tersirat usai dilakukan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa Selasa (11/6).

Komisaris Utama  Bakrie Telecom Anindya N Bakrie menegaskan perseroan telah menyiapkan dana US$ 44 juta atau sekitar Rp440 miliar untuk membayar beban bunga utang obligasi global senilai US$380 juta tahun ini.

Dijelaskannya, perseroan memiliki kewajiban membayar bunga utang obligasi global setiap 6 bulan sekali sebesar US$22 juta, sampai jatuh tempo pada 2015.

“Bunga utang dibayarkannya setiap 6 bulan sekali. Mei kemarin kami sudah bayar US$22 juta, sisanya 6 bulan ke depan kami tidak khawatir untuk bayar, dananya sudah ada,” jelasnya.

Diungkapkannya,   biaya bunga utang yang dibayarkan kepada pemegang obligasi berasal dari kas internal perusahaan. “EBITDA 2012 BTEL ada sekitar Rp1 triliun, jadi untuk membayar Rp 440 miliar tentu itu cukup, kami tidak khawatir,” tegasnya.

Anindya yang baru saja menjadi Komisaris Utama itu memprediksi  EBITDA semester I/2013 bisa sejalan dengan pertumbuhan kuartal pertama tahun ini yang sebesar 45%.

Pada kuartal pertama, EBITDA perseroan meningkat dari Rp191 miliar menjadi Rp277 miliar. Hal itu dicapai melalui efisiensi beban usaha dari Rp697 miliar menjadi Rp277 miliar atau menyusut 24%. Adapun, pendapatan perseroan tumbuh 10% pada tiga bulan pertama tahun ini, dari Rp527 miliar menjadi Rp582 miliar.

Meningkat Lagi
Lebih lanjut Pria yang akrab disapa ANB ini meyakini akan adanya pertumbuhan pengguna layanan telekomuniasi CDMA, kendati dari tahun lalu terlihat antusiasme masyarakat terhadap penggunaan CDMA mengalami penurunan yang cukup drastis.

"Ini adalah sebuah tantangan dan peluang dan juga peluang. Pangsa pasar CDMA ini masih menjanjikan untuk ke depannya," tegasnya.
Menurutnya, saat ini pengguna CDMA mencapai sekitar 45 hingga 50 juta orang di tanah air. Angka itu membuktikan  CDMA  masih menjadi andalan masyarakat dalam berkomunikasi dalam kota.

"Untuk itu, kita masih akan fokus di kota masing-masing, karena sebagian dari mereka masih menggunakan produk esia," paparnya.

One Brand
Diungkapkannya, perseroan  dalam meningkatkan efisiensi kinerja operasionalnya akan kembali pada inti kekuatan perseroan untuk menerapkan One Brand, One Price (Satu Merek, Satu Harga).

"Kalau dulu banyak brand yang kita luncurkan, sekarang semuanya sebagai One Brand, One Price. Brand yang kita pakai hanya Esia. Semuanya nanti akan pakai merek Esia sebagai payungnya. Jadi merek lain seperti Aha itu sudah tidak ada, kan mahal, Jadi biar lebih efisen kita hanya pakai satu merek saja," paparnya.
 
Akuisisi Ceria
Berkaitan dengan  proses akuisisi terhadap PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, operator Ceria, milik PT Sampoerna Strategic. Perseroan  fokus untuk tahapan take office operation, melalui kerja sama sumber daya manusia (SDM), penggunaan menara, billing system, dan pembenahan laporan keuangan. Melalui sinergi ini diklaim operational expenditure Bakrie Telecom turun 35% pada tahun lalu.

Tak hanya itu, Bakrie Telecom juga masih mengusahakan lisensi seluler dengan menyelesaikan  masalah dispute atau perselisihan mengenai kelebihan pembayaran pungutan biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi sebesar Rp 200 miliar dengan Kementerian Keuangan. Masalah ini menyebabkan pemerintah belum memberikan izin penyelenggaraan lisensi seluler kepada Bakrie.

"Kami akan memasarkan layanan seluler pada saat tepat dan saat demand sudah ada. Jadi kami masih akan terus gunakan brand Esia. Saat ini demand layanan Esia terutama di Jakarta, Jawa Barat dan Banten masih besar," katanya.

Perseroan juga masih mempelajari skema network sharing dan usulan mobile virtual network operator (MVNO) untuk menyelenggarakan layanan LTE di frekuensi 850 Mega Hertz (MHz) dari Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).  

“Skema ini masih wacana, karena itu  fokus  kita saat ini untuk membenahi kinerja,” katanya.

So, tenang saja. Esia masih bersemangat bertempur di pasar.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year