Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

Mulai Sengit di Video Online

13:50:54 | 25 May 2013
Mulai Sengit di Video Online
Ilustrasi (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) –  Peta layanan video online di Indonesia kian sengit. Hal ini karena  PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) mulai mengembangkan produk online Indovision Anywhere Anytime pada Juni 2013 yang menelan investasi  sekitar US$ 5 juta.

Produk dari Indovision ini  akan bertempur dengan UseeTV dari Telkom, XL Nonton (XL), dan First Media Live (First Media).

Tak bisa dipungkiri memang video online mulai mendapatkan tempat di masyarakat jika merujuk pada Data comScore yang mengungkapkan  video online merupakan salah satu faktor pemikat terkuat penggunaan layanan data atau  Internet.

Sekitar 8,7 juta masyarakat aktif mengakses video online berdasarkan data comScore (Agustus 2012) dan lebih dari 40% total trafik internet digunakan untuk mengakses video

UseeTv yang telah hadir terlebih dulu mengaku memiliki 2 juta pengguna aktiv dengan unique visitor di kisaran 500 ribu orang. First Media Live sekitar 50 ribu pengguna sering mengunjungi berkat adanya tontonan Liga Inggris.Sementara XL Nonton membidik satu juta pengguna hingga akhir tahun nanti.

Digemari
Direktur Utama MNC SKY Rudy Tanoesoedibjo mengungkapkan produk terbaru ini masih dalam tahap finalisasi dan diperkirakan  akan digemari pasar karena kemampuannya yang bisa untuk mengulang acara favorit yang terlewatkan karena kesibukan.

”Kami optimistis dengan fitur baru yang ditawarkan akan mendukung target 50.000 pelanggan setiap bulannya. Hal ini akan mendukung target pendapatan iklan tahun ini yang mencapai Rp130 miliar dari produk konsumer dan makanan,” ujarnya.

Dijelaskannya, perbedaaan antara video online yang akan dibesut perseroan dengan kompetitor nantinya dari sisi pengelolaan biaya sehingga bisa menawarkan tarif lebih terjangkau ke masyarakat.

“Tidak ada masalah dengan harga konten karena Indovision memliki basis pelanggan besar sehingga skala ekonominya tercapai. Kita akan gandeng juga operator untuk bisa memberikan akses berkualitas,” jelasnya.

Tak Masalah
EGM Divisi Solution Convergence Telkom Achmad Sugiarto mengaku tak masalah dengan datangnya pemain baru di video online. “Tak masalah, kami itu punya kekuatan yang tak dimiliki pesaing. Telkomsel itu ada sekitar 130 juta pelanggan. Ini harus diretensi dengan baik, Usee TV itu salah satu alasan dikeluarkan untuk menjaga basis pelanggan,” jelasnya.

Diungkapkannya, dari sisi lamanya pelanggan bertahan dalam satu konten di portalnya mulai menunjukkan kemajuan dimana rata-rata bisa 5-7 durasi dengan lama 12 menit. “Kita ini punya pasar besar, jadi harus dimulai dari rumah sendiri. UseeTV jangan ditanya pendapatan, tetapi dampak tidak langsung bagi Telkom Group, itu nilainya besar,” jelasnya.

Ditegaskannya, walau pemain baru datang, UseeTV tak akan bermain di harga karena produk ini masih baru. “Tidak ada main banting-bantingan harga. Walau kompetitor ada yang dipasok dari konten sama. Kita perang di kualitas saja,” tegasnya.

Tantangan
Pada kesempatan lain, Direktur Utama Aora TV Guntur S. Siboro mengungkapkan, layanan video online (video streaming) terkendala infrastruktur data yang masih terbatas sehingga jasa tersebut tak maksimal dinikmati pelanggan.

“Kami juga tengah uji coba di internal untuk layanan video online layaknya yang ditawarkan kompetitor atau operator telekomunikasi. Kalau digunakan hanya di internal bagus, tetapi ketika di bawa ke public access, kualitasnya tidak bagus. Karena itu Aora tunggu dulu infrastruktur data matang,” ungkapnya.   

Dijelaskannya, bagi operator TV berbayar yang tidak memiliki infrastruktur data tentu akan mengandalkan publik akses yang disediakan oleh operator telekomunikasi ketika video online ditawarkan.

“Masalahnya, kalau sudah di publik akses walau ada kerjasama eksklusif dengan operator tidak jaminan. Pasalnya akses di Indonesia ini didominasi mobile broadband, dimana-mana wireless itu terbatas bandwitdh,” jelasnya.

Dikatakannya, tantangan lain dalam menyelenggarakan video online adalah di sisi konten dimana pemilik konten menagih tarif berbeda jika konten ditayangkan di smartphone atau tablet. “Itu nagihnya per pelanggan. Kisarannya bisa di US$ 3 per pelanggan. Jadi harus hati-hati menawarkan layanan ini, kalau infrastruktur belum matang, lebih baik posisinya menunggu,” tuturnya.

Diprediksinya layanan video online bisa berkembang jika Indonesia telah mengadopsi 4G atau Long Term Evolution (LTE) dan harga smartphone atau tablet di kisaran Rp 1 juta. “Kalau skala pasar besar, bisa mencari pendapatan dari slot iklan atau berlangganan. Sekarang bisa-bisa operasional habis bayar konten,” tandasnya.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year