telkomsel halo

Pertumbuhan Smartphone Topang Mobile Advertising di Indonesia

16:05:48 | 11 Feb 2013
Pertumbuhan Smartphone Topang Mobile Advertising di Indonesia
Ilustrasi (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (indotelko) – Pertumbuhan smartphone di Indonesia yang terus berada di kisaran dobel digit diyakini menjadi salah satu penopang berkembangnya bisnis mobile advertising di Indonesia.

Head of ICT Consulting Frost & Sullivan Indonesia Dev Yusmananda mengungkapkan, dihitung dari 2010 hingga 2015, Compound Annual Growth Rate (CAGR)  16,1% dimana pada 2010 diperkirakan ada  35,08 juta unit smartphone terjual dan pada 2015 menjadi 73,86 juta unit.

“Tumbuhnya smartphone membuat banyak merek tertarik beriklan di platform digital mobile. Ini sudah dibuktikan di Google,” ungkap Dev.

Diungkapkannya, sebanyak 42% dari pengguna smartphone biasanya akan bereaksi terhadap  mobile advertising dengan meng-klik iklan tersebut, 35% akan mengunjungi situs dari pengiklan, 49% melakukan pembelian, dan 27% akan melakukan panggilan untuk bertanya.

Sedangkan 71% dari  pengguna smartphone yang melihat iklan di TV atau media massa senang melakukan pencarian informasi lebih mendalam di dunia maya.
 
Dikatakannya, tantangan dari mobile advertising adalah walau prinsipal  merek mengalokasikan bujet yang besar untuk beriklan di platform digital, tetapi biro iklan lebih memegang peranan.  

“Dalam beberapa tahun mendatang mobile advertising akan terus berkembang, tetapi ini harus didukung oeh pemahaman dan infrastruktur yang kuat dari biro iklan melihat platform digital. Apalagi ada kecenderungan sekarang digital media campaign bergeser ke konten berbau video yang lebih menarik perhatian pengguna,” jelasnya.

Dalam catatan Frost & Sullivan pasar  mobile advertising di Asia Pasifik pada 2011 mencapi US $5.33 miliar setara dengan Rp 51,45 triliun atau berkontribusi sekitar 36% ke pasar global. Jepang, China, Korea Selatan, dan Australia adalah pasar potensial untuk mobile advertising.

Di Indonesia pasar seluler pada 2012 diperkirakan mencapai Rp 134,5 triliun. Pasar mobile content sekitar US$ 360 juta setara dengan Rp 3.495 triliun dimana dominasinya ada pada ringtone yakni US$ 145 juta atau setara Rp 1.4 triliun. Mobile advertising dimasukkan dihitung dalam konten lainnya yakni sekitar US$ 40 juta atau setara Rp 388 miliar.

XL Garap
Pada kesempatan lain, Senior General Manager m-Finance Technology, Content & New Business Yessie D. Yosetya mengungkapkan, perseroan mulai menggarap mobile advertising berbasis lokasi (Location Based Advertising/LBA) pertama untuk seluruh Indonesia.

“Kita yang pertama hadir di seluruh Indonesia. Kami menargetkan perusahaan yang menjadi mitra mobile advertising  mencapai 100-150 merchant, naik signifikan dibanding tahun 2012 sebanyak 83 merchant," ungkapnnya.  

Untuk diketahui, LBA yang pertama ada di Indonesia adalah Telkomsel. Operator ini menawarkan LBA  di Jakarta dan Bali.
Sayangnya, layanan ini salah satu yang disorot tajam kala meledaknya kasus sedot pulsa dua tahun lalu.
 
Yessie mengharapkan, peningkatan jumlah merchant sejalan dengan kebutuhan tingginya ekspektasi masyarakat terhadap layanan mobile advertising di industri telekomunikasi di masa datang.

Direktur Technology Digital Services XL Dian Siswarini menyakini  industri mobile advertising di Indonesia akan tumbuh pesat.
 
“Kami melakukan inisiatif strategis dan menjadi operator telekomunikasi pertama yang menyediakan layanan LBA dengan ruang lingkup nasional secara nyata," kata Dian.

Mobile advertising berbasis LBA  adalah layanan iklan non konvensional yang menggunakan media ponsel sebagai alat untuk menyampaikan pesan promosi kepada pelanggan seluler yang sedang berada di mall, perkantoran, pusat pasar, kampus, bandara, dan tempat- tempat keramaian.
 
Pesan komersial yang dikiirmkan XL LBA beragam, mulai dari SMS interaktif, MMS video, sampai dengan menu interaktif menggunakan UMB (universal menu browser).

"Pelanggan XL tidak akan dikenakan biaya sama sekali alias gratis untuk menerima promo via LBA ini.  Karena sifatnya penawaran, jadi tidak bisa diungkapkan seseorang itu menjadi pelanggan atau tidak suatu penawaran," ujar Dian.
 
Menurutnya,  tantangan operator dalam menyelenggarakan layanan mobile advertising  adalah pemain over the top atau OTT seperti google dan Yahoo!

“Keunggulan kompetitif mobile advertising tetap pada operator telekomunikasi karena secara langsung dapat disebar kepada pelanggannya,”  tegas Dian.

Selain LBA, XL Mobile Advertising juga memiliki Channel Direct Marketing, seperti dialog SMS, MMS video, UMB push, dan Channel Display, seperti Interstitial Page, Error Page, dan Page Not Found Page.

Saat ini XL, melalui channel direct sales maupun reseller, sudah berhasil menggaet lebih dari 3000 klien dari berbagai industri seperti antara lain perbankan, consumer goods, travel agent, dan ritel, di mana sebagian merupakan top 100 advertising spender di Indonesia.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year