PepsiCo siapkan lima startup untuk komersialisasi

07:17:00 | 18 Okt 2026
PepsiCo siapkan lima startup untuk komersialisasi
JAKARTA (IndoTelko) PepsiCo menjajaki peluang komersialisasi solusi keberlanjutan dari lima startup di kawasan Asia Pasifik melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI). Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mengintegrasikan inovasi eksternal ke dalam kegiatan bisnis dan operasionalnya.

Kelima startup tersebut merupakan peserta program Greenhouse APAC 2026: The IMPACT Edition yang berlangsung selama tujuh bulan. Mereka adalah Adiona dari Australia, Bali Waste Cycle dari Indonesia, Beijing AIForce Tech (BAIFT) dari China, Takachar dari Thailand, serta X-Centric Sciences dari Australia.

Solusi yang dikembangkan mencakup efisiensi logistik, elektrifikasi pertanian, pengelolaan sampah plastik, pemanfaatan residu pertanian, hingga teknologi untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam pertanian. Melalui kolaborasi ini, PepsiCo berupaya membawa inovasi dari tahap uji coba menuju kesiapan komersial.

Chief Executive Officer PepsiCo Asia Pasifik Anne Tse mengatakan kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan beragam kapabilitas diperlukan untuk membangun bisnis yang tangguh dan berkelanjutan.

Melalui Greenhouse Accelerator, PepsiCo mempertemukan para pengusaha dengan tim internal perusahaan untuk menguji solusi yang berpotensi menjawab tantangan bisnis dan operasional di sepanjang sistem pangan.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi atau kemitraan tertentu, tetapi juga memperluas konektivitas antara startup, investor, dan mitra inovasi.

Pada edisi IMPACT, PepsiCo menerapkan kerangka kerja yang membantu startup beralih dari proyek percontohan menuju kesiapan komersial. Para pendiri startup mendapat pendampingan dari tim lintas fungsi PepsiCo, mulai dari bidang keberlanjutan, rantai pasok, pengadaan, riset dan pengembangan, operasional, keuangan, hingga hukum.

Pendekatan ini memungkinkan aspek teknis, operasional, komersial, dan kepatuhan dikaji sejak tahap awal. Namun, penandatanganan LoI belum menjamin implementasi karena setiap rencana masih memerlukan evaluasi dan kesepakatan lanjutan.

Adiona, alumni program pada 2023, menjajaki peluang optimasi jaringan logistik di China menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengatur rute dan meningkatkan efisiensi armada.

Sementara itu, BAIFT melanjutkan kolaborasi dengan PepsiCo China dalam pengembangan mesin pertanian listrik. Traktor berkapasitas 140 tenaga kuda telah digunakan melalui perjanjian sewa komersial selama lima tahun untuk mendukung budidaya kentang di lahan petani mitra. Model berkapasitas 180 tenaga kuda masih menjalani pengujian yang dijadwalkan rampung pada akhir 2026.

Dari Indonesia, Bali Waste Cycle bekerja sama dengan PepsiCo Indonesia untuk mengumpulkan dan mendaur ulang kemasan plastik fleksibel. Material hasil pemulihan kemasan makanan ringan telah diolah menjadi papan petunjuk jalan yang dipasang di Denpasar dan Gianyar, Bali.

Kedua pihak juga menjajaki perluasan program pengelolaan sampah plastik fleksibel dan pengembangan pasar material daur ulang, termasuk melalui sektor pariwisata dan korporasi. Langkah ini berpotensi memperluas pemanfaatan material daur ulang sekaligus membuka peluang ekonomi dalam rantai pengelolaan sampah.

Takachar mengevaluasi penggunaan teknologi portabel untuk mengubah residu pertanian menjadi biochar atau arang hayati. Kajian bersama PepsiCo mencakup persyaratan operasional dan komersial untuk kemungkinan penerapan teknologi tersebut di sepanjang rantai nilai pertanian Asia Pasifik.

Adapun X-Centric Sciences mengembangkan teknologi kecerdasan tanah (soil intelligence) yang membantu pengambilan keputusan terkait kesehatan tanah dan kebutuhan input tanaman. Setelah menjalankan sejumlah uji coba lapangan bersama tim pertanian PepsiCo di Australia, kedua pihak menandatangani LoI untuk mengevaluasi peluang penerapan teknologi tersebut di negara itu.

PepsiCo juga menyoroti perkembangan sejumlah peserta program di luar kolaborasi tersebut. BAIFT dilaporkan memperoleh pendanaan Seri B sebesar US$60 juta, sedangkan X-Centric Sciences terpilih mengikuti program akselerator AI for the Planet perdana besutan Google DeepMind di Asia Pasifik.

Sejak diluncurkan pada 2023, Greenhouse APAC telah melibatkan 30 startup dan mendukung 22 proyek percontohan yang berfokus pada ekonomi sirkular, pertanian berkelanjutan, serta solusi iklim.

Pada edisi 2026, program ini menggeser fokus dari pendekatan akselerator berbasis hibah menuju penilaian kesiapan komersial, integrasi solusi ke dalam kegiatan bisnis, dan potensi penerapan pada masa mendatang.

Program tersebut didukung jaringan mitra di bidang modal ventura, pertanian, dan inovasi. Mitra yang terlibat antara lain Artesian, AgFunder Asia, AgriFutures growAG, Better Earth Ventures, Circulate Capital, CM Venture Capital, Cooley, GC Ventures, SAIL dari Nanyang Technological University, serta Suntory PepsiCo Beverages.

Setelah rangkaian showcase berakhir, PepsiCo dan para startup akan melanjutkan pembicaraan berdasarkan LoI yang telah ditandatangani. Peluang implementasi akan dinilai berdasarkan kinerja solusi, nilai bisnis, kesesuaian operasional, dan kebutuhan pasar.

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah startup yang berpartisipasi atau proyek yang diuji, tetapi juga dari kemampuan solusi yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan operasional dan menghasilkan nilai bisnis secara berkelanjutan. (mas)

Artikel Terkait