JAKARTA (IndoTelko) - Percepatan transisi energi di Indonesia kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya fokus tertuju pada penyusunan target dan kebijakan, kini tantangan terbesar adalah memastikan seluruh rencana tersebut dapat diwujudkan melalui implementasi yang nyata.
Pesan tersebut mengemuka dalam Surabaya Electric Forum yang diselenggarakan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Wilayah Jawa Timur sebagai bagian dari Indonesia Energy Week Surabaya 2026 yang berlangsung pada 1518 Juli 2026. Mengusung tema “East Java Driving Indonesia’s Energy Transition”, forum ini mempertemukan pemerintah, PLN Group, akademisi, pelaku industri, serta berbagai pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan.
Rektor Institut Teknologi PLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, menilai transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit energi baru terbarukan (EBT), tetapi juga kesiapan Indonesia membangun ekosistem nasional yang mampu bersaing di tingkat global.
Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis dalam perkembangan sistem energi regional di masa depan. Karena itu, pembangunan infrastruktur perlu diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia, kompetensi, dan ekosistem yang mampu menjawab tantangan global.
Senada dengan itu, Direktur Distribusi PT PLN (Persero) sekaligus Sekretaris Jenderal MKI, Arsyadany Ghana Akmalaputri, mengatakan arah pengembangan sektor ketenagalistrikan sudah tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 20252034. Fokus berikutnya adalah mempercepat pelaksanaan program agar manfaat transisi energi segera dirasakan masyarakat dan dunia usaha.
Ia menambahkan, pembangunan ekosistem yang mampu menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung keberlanjutan menjadi faktor penting dalam mewujudkan target tersebut.
Sementara itu, Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Ahmad Amiruddin, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara tiga aspek utama atau Energy Trilemma, yakni ketahanan energi, keberlanjutan, dan keterjangkauan.
Menurutnya, pengembangan energi baru terbarukan harus tetap menjamin keandalan pasokan listrik nasional, menciptakan iklim investasi yang sehat, sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat dan sektor industri.
Di tingkat daerah, Guru Besar Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sekaligus Dewan Pakar MKI Jawa Timur, Prof. Dr. Mochamad Ashari, menilai Jawa Timur memiliki peran strategis dalam implementasi RUPTL.
Provinsi tersebut memiliki potensi energi baru terbarukan sekitar 188 GW, yang didominasi energi surya dan angin, serta ditargetkan menambah kapasitas pembangkit EBT sebesar 4.251 MW. Potensi tersebut dinilai dapat menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu pusat pengembangan energi bersih nasional.
Namun, menurutnya, percepatan pemanfaatan potensi tersebut membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat agar dapat diwujudkan menjadi kapasitas pembangkit yang nyata.
Dari sisi industri, CEO PT Paiton Energy, Fazil Erwin Alfitri, menilai transisi energi harus dilakukan secara bertahap dengan tetap mengoptimalkan infrastruktur yang telah tersedia. Pendekatan tersebut dinilai penting agar pasokan listrik tetap andal di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional.
Ia menegaskan bahwa transisi energi bukan berarti meninggalkan sistem yang sudah ada, melainkan meningkatkan kualitasnya secara bertahap sambil membangun teknologi dan kapasitas energi yang lebih bersih.
Surabaya Electric Forum akan berlanjut hingga hari terakhir penyelenggaraan dengan membahas berbagai isu strategis, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, kebutuhan listrik sektor industri, hingga skema pembiayaan proyek ketenagalistrikan.
Melalui forum tersebut, para pemangku kepentingan sepakat bahwa keberhasilan transisi energi Indonesia tidak lagi ditentukan oleh penyusunan target semata, tetapi oleh kemampuan seluruh pihak membangun kolaborasi untuk mempercepat implementasi menuju sistem energi yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing. (mas)