JAKARTA (IndoTelko) - PT Telkom Akses terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) digital di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Fiber Academy. Salah satu implementasinya diwujudkan dengan pembangunan Laboratorium Fiber Optik di tiga sekolah menengah kejuruan (SMK) di Indonesia.
Peresmian Laboratorium Fiber Optik SMK 3T dipusatkan di SMKN 1 Tuhemberua, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara, dan dilaksanakan secara hybrid yang terhubung dengan SMKN 1 Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, serta SMKN 1 Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.
Program ini merupakan tindak lanjut kerja sama Telkom Akses dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam mendukung pengembangan kompetensi pendidikan vokasi di wilayah 3T.
Direktur Human Capital & Information Technology Telkom Akses, Nizar, mengatakan pemerataan kualitas SDM digital tidak dapat terwujud apabila peningkatan kompetensi hanya berfokus di kota-kota besar. Menurutnya, dunia industri memiliki tanggung jawab untuk memperluas akses pendidikan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri, termasuk di daerah yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Melalui program CSR dengan nilai lebih dari Rp100 juta tersebut, Telkom Akses memberikan dukungan kepada tiga SMK yang telah ditetapkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu SMKN 1 Tuhemberua, SMKN 1 Kabupaten Kupang, dan SMKN 1 Kabupaten Sorong.
Selain membangun laboratorium praktik fiber optik, Telkom Akses juga menyelenggarakan pelatihan intensif bagi para guru selama lima hari. Materi yang diberikan meliputi konsep dasar fiber optik, instalasi perangkat Integrated Optical Distribution Network (IODN), pembangunan jaringan akses, penyambungan serat optik, hingga teknik pengukuran jaringan. Seluruh peserta memperoleh Sertifikat Kompetensi Level Basic atau KKNI Level 3 sebagai bekal untuk mengajarkan materi tersebut kepada para siswa.
Laboratorium yang dibangun dilengkapi berbagai perangkat simulasi, seperti Joint Closure, Optical Distribution Point (ODP), tiang beserta perlengkapannya, serta papan simulasi rumah pelanggan. Seluruh fasilitas tersebut dirancang oleh Fiber Academy Telkom Akses melalui kolaborasi berbagai unit di lingkungan perusahaan.
Nizar berharap program ini mampu membuka peluang lebih luas bagi lahirnya talenta digital dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, kolaborasi antara industri, pemerintah, dan sekolah vokasi menjadi langkah penting untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja melalui penyediaan fasilitas praktik, peningkatan kompetensi guru, serta sertifikasi keahlian.
Program Fiber Academy diperkirakan memberikan manfaat kepada lebih dari 1.400 siswa di tiga SMK penerima. Selain memperoleh fasilitas pembelajaran yang lebih representatif, para siswa juga berkesempatan mengikuti program Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Sentral Telepon Otomat (STO) Telkom terdekat selama maksimal enam bulan.
Ke depan, laboratorium fiber optik yang telah dibangun diharapkan menjadi pusat pembelajaran berkelanjutan yang dapat dimanfaatkan oleh guru maupun siswa dalam meningkatkan kompetensi di bidang teknologi jaringan telekomunikasi. (mas)