DBS rilis strategi investasi Kuartal III 2026

07:44:00 | 02 Jul 2026
DBS rilis strategi investasi Kuartal III 2026
JAKARTA (IndoTelko) - Chief Investment Office DBS merilis rekomendasi investasi untuk kuartal ketiga 2026 dengan menyoroti meningkatnya risiko inflasi, ketegangan geopolitik, serta besarnya investasi di sektor kecerdasan artifisial (AI) sebagai faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan pasar global.

Dalam kajian tersebut, DBS menilai sejumlah asumsi lama mengenai pengelolaan portofolio mulai berubah. Ketidakpastian geopolitik, ekspansi fiskal, dan meningkatnya belanja pertahanan diperkirakan akan menjaga tekanan inflasi tetap tinggi sehingga investor perlu menerapkan strategi investasi yang lebih selektif.

Menurut DBS, konflik di Timur Tengah masih berpotensi mempertahankan harga energi pada level tinggi, sementara investasi besar-besaran pada infrastruktur AI diperkirakan meningkatkan permintaan terhadap semikonduktor, perangkat keras, perangkat lunak, hingga pasokan listrik. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu tekanan inflasi dalam jangka pendek meski AI diproyeksikan meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang.

DBS juga melihat bank-bank sentral utama, seperti Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of England (BoE), mulai mengadopsi sikap kebijakan yang lebih ketat. Perubahan tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun apabila tekanan inflasi berlanjut.

Dalam strategi lintas aset, DBS mempertahankan pandangan netral terhadap saham maupun obligasi. Perekonomian Amerika Serikat dinilai masih cukup kuat berkat konsumsi domestik, ekspor energi, serta meningkatnya belanja modal, khususnya pada sektor AI.

Untuk pasar saham, DBS menilai momentum masih menjadi pendorong utama pergerakan indeks global. Reli yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir banyak ditopang oleh saham-saham bertema AI sehingga pendekatan pemilihan saham secara individual (bottom-up) dinilai lebih penting dibandingkan strategi alokasi berdasarkan negara.

Investor disarankan menerapkan strategi barbell, yakni mengombinasikan investasi pada perusahaan yang diuntungkan oleh perkembangan AI dengan sektor lain yang memiliki eksposur lebih rendah terhadap teknologi tersebut. Selain itu, perusahaan dengan konsumsi energi yang lebih efisien dinilai memiliki prospek lebih baik apabila harga minyak bertahan tinggi.

Pada instrumen pendapatan tetap, DBS memperkirakan imbal hasil obligasi masih berpotensi meningkat seiring ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi. Untuk obligasi korporasi, perusahaan lebih memilih tenor menengah, yakni sekitar lima hingga tujuh tahun.

Di pasar negara berkembang, DBS menekankan pentingnya selektivitas dengan memprioritaskan negara yang memiliki ketahanan energi, kebijakan ekonomi yang kredibel, serta tingkat imbal hasil yang sepadan dengan risiko. Pemilihan emiten juga perlu difokuskan pada perusahaan dengan fundamental kuat dan kemampuan pembayaran utang yang baik.

Sementara itu, emas tetap menjadi salah satu instrumen yang direkomendasikan sebagai diversifikasi portofolio. Meskipun dalam jangka pendek harga emas dapat tertekan akibat kenaikan imbal hasil riil, DBS menilai logam mulia tersebut masih didukung oleh faktor struktural seperti tren dedolarisasi dan penurunan nilai mata uang fiat.

Di sisi lain, DBS melihat peluang pada investasi pasar privat melalui pendekatan yang lebih selektif, terutama pada aset berkualitas tinggi dan skema co-investment yang dinilai memiliki potensi memberikan imbal hasil lebih cepat di tengah perubahan lanskap ekonomi global.

Secara keseluruhan, DBS memperkirakan tren investasi pada AI dan sektor energi akan menjadi penggerak utama siklus belanja modal global dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi perusahaan yang bergerak di bidang semikonduktor, infrastruktur jaringan, perangkat keras, serta layanan dan peralatan industri energi. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait