ITSEC Asia perluas bisnis ke AI dan Software

06:39:00 | 02 Jul 2026
ITSEC Asia perluas bisnis ke AI dan Software
JAKARTA (IndoTelko) - PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) memperluas lini usahanya ke pengembangan kecerdasan artifisial (AI), perangkat lunak, dan teknologi informasi sebagai bagian dari strategi memperkuat model bisnis berbasis teknologi. Langkah tersebut telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 30 Juni 2026.

Perluasan kegiatan usaha dilakukan seiring perubahan lanskap industri keamanan siber yang semakin mengandalkan platform berbasis AI, otomatisasi, dan threat intelligence. Pergeseran tersebut mendorong perusahaan keamanan siber tidak lagi hanya berfokus pada layanan, tetapi juga mengembangkan produk dan kekayaan intelektual (intellectual property) sebagai sumber pertumbuhan baru.

Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengatakan perusahaan telah menyiapkan transformasi tersebut melalui investasi riset dan pengembangan selama beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, kebutuhan pelanggan kini berkembang ke arah solusi keamanan siber yang mampu beradaptasi secara lebih cepat terhadap perubahan ancaman digital melalui pemanfaatan AI.

“Selama bertahun-tahun industri keamanan siber bertumbuh melalui layanan. Kami percaya fase berikutnya akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan membangun intellectual property berbasis AI,” ujarnya.

Melalui perubahan ruang lingkup usaha, ITSEC Asia kini dapat menjalankan aktivitas penerbitan perangkat lunak, pengembangan aplikasi berbasis AI, layanan teknologi informasi, pengolahan data, hingga perdagangan perangkat lunak dan perangkat komputer.

Langkah tersebut mendukung komersialisasi sejumlah platform yang telah dikembangkan perusahaan, antara lain IntelliBroń Aman, IntelliBroń Orion, IntelliBroń Threat Intelligence, dan Bronyx AI, sekaligus memperkuat strategi perusahaan dalam membangun model bisnis berbasis perangkat lunak dan pendapatan berulang (recurring revenue).

ITSEC Asia menyebut rencana ekspansi tersebut juga telah melalui kajian kelayakan independen. Hasil studi memproyeksikan model bisnis berbasis recurring revenue mampu menghasilkan rata-rata gross profit margin sebesar 74 persen dan net profit margin sebesar 55 persen selama periode 20262031.

Untuk merealisasikan strategi tersebut, perusahaan menyiapkan investasi awal sekitar Rp11 miliar yang seluruhnya akan berasal dari kas operasional internal. Dana tersebut akan dimanfaatkan dengan dukungan infrastruktur teknologi dan kapabilitas riset serta pengembangan yang telah dimiliki perusahaan.

Patrick menambahkan pemanfaatan AI diposisikan sebagai teknologi yang mendukung pekerjaan profesional keamanan siber, bukan menggantikannya.

Menurutnya, kombinasi kemampuan manusia dan AI akan mempercepat proses analisis, meningkatkan akurasi pengambilan keputusan, serta memperkuat ketahanan digital organisasi di tengah meningkatnya kompleksitas ancaman siber. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait