JAKARTA (IndoTelko) - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang semakin luas di lingkungan bisnis tidak hanya menghadirkan peluang baru, tetapi juga memunculkan ancaman siber yang semakin kompleks. Teknologi AI kini dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mengotomatisasi serangan, mempercepat eksploitasi celah keamanan, hingga mengembangkan metode serangan yang lebih sulit dideteksi.
Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk mengadopsi strategi keamanan siber yang lebih adaptif, terintegrasi, dan mampu merespons ancaman secara proaktif.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam Security Forum 2026 bertajuk “Are You Still in Control, or is Your Security Strategy Failing Behind?” yang diselenggarakan oleh Multipolar Technologyâ di Jakarta.
Division Head Network Presales Multipolar Technology, Budianto Chandra, mengatakan bahwa organisasi perlu memastikan perlindungan menyeluruh terhadap aset digital, mulai dari data, aplikasi, Application Programming Interface (API), hingga infrastruktur teknologi yang menjadi fondasi operasional bisnis.
Menurutnya, ancaman siber modern tidak lagi dapat dihadapi dengan pendekatan keamanan konvensional. Perusahaan membutuhkan sistem pertahanan yang mampu mengamankan data, aplikasi, dan operasional keamanan secara terpadu.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Multipolar Technology memperkenalkan tiga solusi keamanan yang saling melengkapi, yakni IBM Guardiumâ , F5 Distributed Cloud Servicesâ , dan Palo Alto Networks Cortexâ .
IBM Guardium difokuskan pada perlindungan data dengan menyediakan visibilitas terhadap data sensitif, aktivitas akses, serta penggunaan data di seluruh lingkungan perusahaan. Solusi ini juga mendukung klasifikasi otomatis dan pemantauan secara real-time guna membantu kepatuhan serta mengurangi risiko kebocoran data.
Sementara itu, F5 Distributed Cloud Services dirancang untuk mengamankan aplikasi dan API yang kini menjadi salah satu sasaran utama serangan siber. Solusi tersebut menawarkan kemampuan identifikasi API secara menyeluruh, pemantauan trafik, analisis perilaku berbasis AI dan machine learning, hingga perlindungan terhadap ancaman yang muncul di berbagai lingkungan teknologi.
Di sisi operasional keamanan, Palo Alto Cortex menghadirkan pendekatan Security Operations(SecOps) modern yang menggabungkan AI dan otomatisasi untuk mempercepat proses deteksi, investigasi, serta respons terhadap insiden keamanan.
Teknologi ini dinilai mampu membantu tim keamanan mengelola ribuan peringatan setiap hari, sekaligus meningkatkan efektivitas operasi pusat keamanan (Security Operations Center/SOC) dengan mengurangi proses manual yang memakan waktu.
Budianto menegaskan bahwa keamanan siber kini telah berkembang menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar aspek teknologi informasi. Seiring meningkatnya adopsi AI dan transformasi digital, perusahaan perlu memastikan perlindungan data, keamanan aplikasi dan API, serta operasi keamanan berjalan secara terintegrasi.
“Di era AI, perusahaan tidak cukup hanya merespons serangan ketika insiden terjadi. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membangun ketahanan siber yang mampu mengantisipasi ancaman sejak dini. Karena itu, investasi pada strategi dan solusi keamanan yang tepat menjadi faktor penting bagi keberlangsungan bisnis,” ujarnya. (mas)