JAKARTA (IndoTelko) Burson mengungkap bahwa tingginya visibilitas sebuah perusahaan atau merek di platform kecerdasan buatan (AI) tidak otomatis meningkatkan tingkat kepercayaan publik. Temuan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam laporan terbaru bertajuk The Credibility Paradox.
Laporan itu menyebut strategi Generative Engine Optimization (GEO) tidak lagi cukup berfokus pada peningkatan kemunculan merek di platform AI, tetapi juga harus memastikan informasi yang digunakan AI memiliki tingkat kredibilitas tinggi.
Chief Executive Officer Burson, Corey duBrowa, mengatakan model bahasa besar atau large language models (LLM) kini berperan penting dalam membentuk persepsi publik terhadap perusahaan.
“Keberadaan sebuah merek dalam jawaban AI tidak otomatis menjamin tingkat kepercayaan yang tinggi. Karena itu, perusahaan perlu memastikan informasi yang digunakan AI memiliki dasar referensi yang kuat dan dapat diverifikasi,” ujarnya.
Dalam penelitian tersebut, Burson bekerja sama dengan Profound menganalisis ribuan respons mengenai reputasi perusahaan yang dihasilkan tujuh platform AI terkemuka.
Riset mencakup 85 perusahaan dengan penilaian berdasarkan delapan dimensi reputasi, yaitu inovasi, kreativitas, lingkungan kerja, produk, kinerja keuangan, tata kelola, kewarganegaraan, dan kepemimpinan.
Setiap respons dievaluasi menggunakan skor believability yang dikembangkan melalui teknologi Decipher milik Burson bersama perusahaan AI kognitif Limbik. Secara keseluruhan, penelitian menghasilkan lebih dari 55 ribu prediksi skor kredibilitas dari berbagai kelompok audiens.
Hasil penelitian menunjukkan platform AI cenderung memberikan bobot lebih besar pada informasi yang didukung bukti nyata dibandingkan sekadar pesan atau positioning perusahaan.
Klaim mengenai inovasi, kualitas produk, dan budaya kerja dinilai lebih mudah dipercaya dibandingkan narasi yang bersifat subjektif, seperti kepemimpinan atau tata kelola perusahaan.
Burson juga menemukan bahwa aspek lingkungan kerja menjadi salah satu faktor reputasi yang paling dipercaya masyarakat karena AI banyak mengandalkan sumber independen, seperti ulasan karyawan, laporan ketenagakerjaan, dan pemberitaan media.
Sebaliknya, topik kepemimpinan menjadi aspek yang paling sulit memperoleh tingkat kredibilitas tinggi. Menurut Burson, narasi mengenai kepemimpinan lebih mudah diterima jika didukung indikator objektif, seperti kinerja bisnis, tata kelola perusahaan, dan validasi dari pihak eksternal.
Penelitian tersebut juga mengungkap adanya perbedaan tingkat kepercayaan antarsegmen audiens. Kalangan pengambil keputusan bisnis memberikan skor kredibilitas sekitar 10 persen lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum terhadap jawaban yang dihasilkan AI.
APAC Head of Intelligence & Transformation Burson, Red Surtida, mengatakan pembahasan mengenai AI selama ini lebih banyak berfokus pada bagaimana sebuah merek muncul dalam hasil pencarian AI, sementara aspek akurasi dan kredibilitas masih kurang mendapat perhatian.
“Seiring meningkatnya pengaruh AI terhadap pembentukan opini publik, perusahaan perlu memastikan bahwa informasi yang menjadi dasar jawaban AI berasal dari sumber yang valid dan terpercaya,” katanya.
Sementara itu, EVP Media Insights & Measurement Burson, Steve Rubel, menilai GEO telah berkembang menjadi bagian dari strategi manajemen reputasi modern.
Menurutnya, perusahaan tidak lagi cukup mengejar visibilitas di platform AI, tetapi juga harus memastikan reputasi yang dibangun di dunia nyata dapat dikenali, diverifikasi, dan dipercaya dalam ekosistem digital yang semakin dipengaruhi AI.
Melalui temuan tersebut, Burson memperkenalkan kerangka kerja baru yang mengintegrasikan strategi earned media, owned content, dan social engagement untuk membantu perusahaan membangun reputasi yang lebih kredibel di berbagai platform AI. (mas)