JAKARTA (IndoTelko) - PT ITSEC Asia Tbk menilai keamanan siber kini telah menjadi infrastruktur strategis yang tidak dapat dipisahkan dari agenda transformasi digital nasional. Pandangan tersebut muncul di tengah meningkatnya intensitas ancaman siber yang terus membayangi berbagai sektor industri dan pemerintahan di Indonesia.
Perusahaan keamanan siber yang tercatat di Bursa Efek Indonesia itu mencatat bahwa kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian justru diikuti peningkatan aktivitas kejahatan siber. Saat banyak organisasi melakukan efisiensi anggaran teknologi, para pelaku ancaman memanfaatkan celah yang muncul akibat berkurangnya investasi pada sistem pertahanan digital.
Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang Januari hingga November 2025 tercatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik siber di Indonesia. Angka tersebut setara dengan sekitar 182 percobaan serangan setiap detik yang menyasar berbagai sektor strategis.
Sektor keuangan, energi, telekomunikasi, hingga pemerintahan menjadi target utama serangan yang semakin kompleks dan terorganisasi. Indonesia juga tercatat berada di peringkat ke-12 kawasan Asia Pasifik dalam aktivitas ancaman siber.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menegaskan bahwa ancaman siber saat ini telah berkembang menjadi risiko strategis yang dapat memengaruhi keberlangsungan operasional berbagai organisasi.
Menurutnya, percepatan digitalisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) harus diimbangi dengan peningkatan ketahanan siber melalui investasi berkelanjutan pada teknologi, sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas sektor.
Dari sisi tren ancaman, tim Threat Intelligence ITSEC Asia mengidentifikasi stealer malware sebagai salah satu ancaman yang berkembang paling cepat. Jenis malware ini tidak hanya mencuri kata sandi, tetapi juga token sesi, kredensial cloud, data browser, hingga akses ke berbagai aplikasi bisnis.
Data yang berhasil dicuri kemudian dapat dimanfaatkan untuk berbagai aksi lanjutan seperti pengambilalihan akun, penipuan bisnis melalui email, penyalahgunaan layanan cloud, hingga menjadi pintu masuk serangan ransomware.
BSSN mencatat sekitar 93,78 persen anomali trafik siber nasional pada 2025 berkaitan dengan aktivitas malware. Sementara itu, perkembangan AI juga mulai dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan efektivitas serangan phishing dan rekayasa sosial dalam skala yang lebih besar.
Sejumlah insiden yang terjadi sepanjang 2025 menunjukkan bahwa tidak ada sektor yang benar-benar kebal dari ancaman digital. Serangan dilaporkan menyasar berbagai institusi, mulai dari lembaga pemerintahan hingga platform perdagangan saham.
Di sisi regulasi, implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dan masuknya Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) ke dalam Program Legislasi Nasional Prioritas 2026 diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan organisasi terhadap sistem keamanan yang lebih kuat dan terukur.
Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menilai kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya membangun pertahanan digital yang tidak hanya reaktif, tetapi juga mampu mengantisipasi ancaman yang terus berkembang.
Menurutnya, keamanan siber harus diposisikan sebagai bagian dari fondasi pembangunan ekonomi digital, bukan sekadar kebutuhan teknologi tambahan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ITSEC Asia mengembangkan berbagai solusi keamanan, termasuk platform intelijen ancaman siber dan pusat operasi keamanan berbasis AI. Perusahaan juga memperluas investasi pada pengembangan talenta melalui program ITSEC Cyber and AI Academy guna mendukung kebutuhan sumber daya manusia di sektor keamanan digital.
Selain fokus pada teknologi, ITSEC Asia juga aktif berkolaborasi dengan berbagai lembaga negara dan regulator dalam mendukung penguatan ekosistem keamanan digital nasional.
Perusahaan menilai implementasi UU PDP, pembahasan RUU KKS, serta penyusunan peta jalan AI nasional akan menjadi pendorong pertumbuhan kebutuhan layanan keamanan siber dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi tersebut membuka peluang bagi penguatan ekosistem keamanan digital yang lebih mandiri sekaligus mendukung keberlanjutan transformasi digital Indonesia.
Bagi ITSEC Asia, keamanan siber bukan lagi sekadar alat mitigasi risiko, melainkan fondasi utama yang menentukan keberhasilan dan kepercayaan terhadap ekonomi digital nasional di masa depan. (mas)