JAKARTA (IndoTelko) - Fortinet merilis laporan terbaru 2026 Global Threat Landscape Report dari FortiGuard Labs yang mengungkap peningkatan signifikan ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI) sepanjang 2025.
Laporan tersebut menunjukkan pelaku kejahatan siber kini memanfaatkan agentic AI dan berbagai layanan cybercrime otomatis untuk mempercepat seluruh siklus serangan, mulai dari pengintaian hingga eksekusi.
Derek Manky mengatakan kejahatan siber saat ini berkembang menjadi ancaman global yang semakin kompleks dan terorganisasi.
Menurutnya, para pelaku ancaman mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan efektivitas serangan, sehingga tim keamanan siber juga harus mengadopsi sistem pertahanan berbasis AI yang mampu merespons ancaman dengan kecepatan serupa.
Salah satu temuan utama dalam laporan tersebut adalah menyusutnya time-to-exploit (TTE) atau waktu yang dibutuhkan pelaku ancaman untuk mengeksploitasi kerentanan setelah dipublikasikan. Jika sebelumnya rata-rata mencapai 4,76 hari, kini TTE hanya berkisar antara 24 hingga 48 jam.
Fortinet juga mencatat lonjakan drastis korban ransomware secara global. Berdasarkan data intelijen adversarial FortiRecon, terdapat 7.831 korban ransomware terkonfirmasi sepanjang 2025, meningkat sekitar 389 persen dibanding laporan sebelumnya yang mencatat sekitar 1.600 korban.
Sektor manufaktur menjadi target utama dengan 1.284 korban, disusul layanan bisnis sebanyak 824 korban dan ritel 682 korban. Amerika Serikat tercatat sebagai negara dengan jumlah korban tertinggi.
Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya risiko keamanan cloud akibat penyalahgunaan identitas digital. Mayoritas insiden cloud yang terverifikasi sepanjang 2025 berasal dari kredensial yang dicuri atau disalahgunakan, bukan dari eksploitasi infrastruktur.
Sektor rumah sakit, klinik, dan ritel disebut menjadi sasaran utama karena memiliki populasi identitas digital yang besar serta integrasi cloud yang kompleks.
Fortinet turut menemukan maraknya penggunaan shadow agent dan alat serangan berbasis AI yang diperdagangkan di dark web, seperti WormGPT, FraudGPT, HexStrike AI, hingga BruteForceAI.
Selain itu, aktivitas brute force global tercatat mencapai sekitar 67,65 miliar percobaan sepanjang tahun, meski jumlah serangan secara keseluruhan dinilai lebih efisien karena pelaku ancaman kini memanfaatkan AI untuk memilih target secara lebih akurat.
Laporan juga mengungkap peningkatan penggunaan dataset hasil pencurian malware infostealer dibandingkan kredensial bocor biasa. Log stealer kini mendominasi data yang diperjualbelikan di dark web karena dinilai lebih efektif untuk mempercepat pengambilalihan akun.
Dalam upaya memerangi kejahatan siber global, Fortinet mendukung berbagai operasi internasional bersama INTERPOL melalui program Cybercrime Atlas.
Kolaborasi tersebut antara lain mendukung Operation Red Card 2.0 yang berhasil membongkar jaringan penipuan online dan aplikasi pinjaman palsu di Afrika.
Fortinet juga bekerja sama dengan Crime Stoppers International meluncurkan program Cybercrime Bounty guna membuka kanal pelaporan ancaman siber secara anonim bagi masyarakat dan ethical hacker. (mas)