JAKARTA (IndoTelko) - Bank Saqu menyoroti semakin besarnya peran perempuan Indonesia di industri kreatif, sekaligus pentingnya pengelolaan keuangan dalam mendukung pertumbuhan usaha berkelanjutan.
Hal ini disampaikan dalam forum diskusi bertajuk “Built by Her: Turning Passion Into Power in The Creative Industry” yang digelar bersama IdeaFriends dalam rangka memperingati Hari Kartini.
Forum tersebut menghadirkan Liya Tsabitah, pemenang Bank Saqu Solopreneur Academy 2025sekaligus ilustrator dan pemilik CabeArt, serta Sylvia, Co-Founder KopiSoe dan Rantau Rasa (Ardnara Group).
Bank Saqu, layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab, menilai perempuan kini tidak hanya menjadi bagian dari industri kreatif, tetapi juga menjalani perjalanan finansial yang dinamis—mulai dari merintis, mengelola, hingga mengembangkan usaha.
Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan sekitar 64,5% pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan, dengan sebagian besar bergerak di sektor yang berkaitan dengan industri kreatif. Sementara itu, perkembangan teknologi digital membuka peluang lebih luas bagi perempuan untuk memperluas pasar dan mengembangkan usaha secara fleksibel.
Head of Corporate Communication & Marketing Bank Saqu, Willy Apriando, menegaskan bahwa kreativitas perlu dibarengi kemampuan finansial.
“Untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan, diperlukan pemahaman keuangan yang baik, mulai dari pengelolaan arus kas hingga pengambilan keputusan finansial. Kombinasi kreativitas dan pengelolaan keuangan yang tepat akan menjadi pondasi utama lahirnya lebih banyak usaha berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.
Profil nasabah Bank Saqu menunjukkan sekitar 40% merupakan solopreneur. Hal ini mendorong perusahaan menghadirkan pendekatan yang tidak hanya fokus pada layanan perbankan, tetapi juga edukasi dan penguatan ekosistem usaha melalui program seperti Solopreneur Academy.
Liya Tsabitah mengungkapkan, membangun usaha dari passion membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas.
“Dalam perjalanan ini, saya belajar memahami keuangan, mengelola arus kas, dan mengambil keputusan yang tepat. Dukungan Bank Saqu membantu kami sebagai solopreneur tumbuh dengan pondasi yang lebih kuat, termasuk melalui fitur Saku Nabung dan Saku Transaksi untuk memisahkan keuangan pribadi dan bisnis,” katanya.
Senada, Sylvia menilai pengelolaan keuangan menjadi pembeda utama antara bisnis yang bertahan dan berkembang.
“Banyak bisnis kreatif lahir dari ide yang kuat, tetapi yang membedakan adalah bagaimana bisnis tersebut dikelola dengan finansial yang baik. Disiplin mengelola arus kas, memahami biaya, dan mengambil keputusan berbasis data menjadi kunci agar bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ke depan, Bank Saqu berkomitmen mendampingi perjalanan perempuan pelaku usaha di setiap fase pertumbuhan bisnis melalui berbagai solusi finansial, seperti Tabungmatic untuk membangun kebiasaan menabung, Saku Kredit yang Selalu Ready untuk kebutuhan pembiayaan, serta Bank Saqu Bisnis untuk mendukung pengelolaan keuangan usaha yang lebih optimal.
Dengan pendekatan ini, Bank Saqu berharap dapat menjadi mitra strategis bagi perempuan pelaku usaha, sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan industri kreatif dan perekonomian nasional. (mas)