Bitcoin gagal tembus US$80.000, pasar kripto masih rentan koreksi

05:37:00 | 25 Apr 2026
Bitcoin gagal tembus US$80.000, pasar kripto masih rentan koreksi
JAKARTA (IndoTelko) Pasar kripto mengalami pelemahan pada Jumat (23/4) menjelang akhir pekan, seiring meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong investor lebih berhati-hati. Kapitalisasi pasar kripto tercatat turun sekitar 1,07 persen dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,59 triliun, dengan tekanan terbesar terjadi pada Bitcoin.

Pelemahan ini dipicu kombinasi faktor geopolitik, kondisi makroekonomi, dan dinamika pasar derivatif yang mempercepat koreksi harga. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama memburuknya sentimen pasar. Situasi diperparah oleh kebijakan Presiden AS, Donald Trump, yang memperpanjang gencatan senjata namun belum memberikan kejelasan arah hubungan kedua negara.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kenaikan harga minyak dan penguatan dolar AS menekan minat investor terhadap aset berisiko seperti kripto. Selain itu, memanasnya kembali hubungan dagang dan teknologi antara AS dan China, khususnya terkait isu kecerdasan buatan, turut menambah tekanan di pasar global.

“Dari sisi teknikal, pergerakan harga Bitcoin menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempat menyentuh level di atas US$79.000, harga kembali terkoreksi dan ditutup melemah sekitar 2 persen ke kisaran US$78.000,” ujar Fyqieh.

Penurunan ini memicu likuidasi besar-besaran di pasar derivatif dengan total posisi mencapai sekitar US$278 juta. Tekanan jual akibat likuidasi tersebut mempercepat pelemahan harga dalam jangka pendek dan menunjukkan rapuhnya momentum kenaikan sebelumnya.

Altcoin Ikut Tertekan

Sejalan dengan pergerakan Bitcoin, sejumlah altcoin turut melemah. Ethereum terkoreksi dari level tertingginya dalam sepekan, sementara XRP bergerak terbatas di bawah level resistance. Aset lain seperti Solana, Cardano, dan Dogecoin juga mencatat penurunan seiring berkurangnya minat risiko investor.

Di sisi lain, dominasi Bitcoin meningkat hingga sekitar 60 persen, menandakan adanya pergeseran alokasi dana ke aset yang dianggap lebih defensif di dalam pasar kripto.

Tekanan terhadap pasar juga datang dari ketidakpastian regulasi di Amerika Serikat. Peluang pengesahan CLARITY Act pada 2026 dilaporkan menurun, mencerminkan masih adanya perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan. Kondisi ini turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap aset digital secara keseluruhan.

Fyqieh menilai pelemahan pasar saat ini masih tergolong wajar di tengah kombinasi tekanan global dan dinamika internal industri kripto.

“Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor geopolitik, tetapi juga oleh tekanan teknikal seperti likuidasi besar di pasar derivatif serta aksi profit taking dari investor jangka pendek. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi,” jelasnya.

Fondasi Pasar Masih Solid

Meski menghadapi tekanan jangka pendek, Fyqieh menilai fondasi pasar kripto secara keseluruhan masih cukup solid.

“Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis US$75.000, peluang untuk pemulihan masih terbuka. Namun, investor tetap perlu mencermati faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve dan perkembangan geopolitik yang dapat memicu volatilitas,” lanjutnya.

Untuk mempertahankan momentum, Bitcoin dinilai perlu menjaga pergerakan di area kunci antara US$78.000 hingga US$83.000. Selain itu, tren kenaikan berkelanjutan membutuhkan dukungan likuiditas yang kuat, permintaan spot yang stabil, serta partisipasi investor ritel dan penguatan altcoin. Tanpa dukungan tersebut, kenaikan harga berpotensi hanya bersifat sementara dan rentan terhadap koreksi.

Dalam waktu dekat, pasar juga menanti agenda FOMC pada 2829 April, yang berpotensi menjadi katalis besar bagi arah pasar. Jika kebijakan moneter yang diambil cenderung ketat, volatilitas diperkirakan meningkat. Selain itu, tekanan suplai dari aktivitas penjualan Bitcoin oleh miner yang masih tinggi juga berpotensi menahan kenaikan harga jika tidak diimbangi masuknya permintaan baru. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait