JAKARTA (IndoTelko) - Adopsi aset kripto di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan generasi muda—khususnya Gen Z dan milenial—menjadi motor utama perkembangan ekosistem ini.
Temuan tersebut mengemuka dalam rangkaian Bulan Literasi Kripto 2026 yang digelar di Universitas Sebelas Maret, hasil kolaborasi Otoritas Jasa Keuangan, Asosiasi Blockchain Indonesia, dan Tokocrypto.
Berdasarkan laporan Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025, sebanyak 93% responden telah mengenal aset kripto. Lebih dari separuhnya berasal dari Gen Z yang aktif menjadikan kripto sebagai bagian dari diskusi finansial sehari-hari, baik di media sosial maupun komunitas digital.
Kepala Departemen Pengawasan Inovasi Aset Keuangan Digital OJK, Dino Milano Siregar, menilai tingginya partisipasi tersebut belum sepenuhnya diiringi literasi keuangan yang memadai.
“Partisipasi tinggi ini perlu dilihat secara kritis. Tidak semuanya didorong oleh pemahaman yang kuat, tetapi juga oleh dinamika sosial di ruang digital,” ujarnya.
Dari sisi industri, Indriana mengungkapkan bahwa Gen Z memiliki karakteristik berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka cenderung lebih aktif, cepat mengambil keputusan, serta memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi.
Data internal Tokocrypto menunjukkan 26,9% investor berada di rentang usia 18-24 tahun dan 35,1% di usia 25-30 tahun. Artinya, lebih dari 60% pengguna platform didominasi generasi muda, yang juga menjadi segmen dengan aktivitas transaksi tertinggi.
Menariknya, nilai deposit Gen Z relatif moderat, yakni berkisar Rp100.000 hingga Rp500.000. Pola ini mencerminkan pendekatan investasi yang konsisten meski dengan nominal terjangkau.
Sebagai digital native, Gen Z cenderung mengandalkan media sosial, komunitas, dan influencer dalam mengambil keputusan investasi. Namun, Tokocrypto melihat semakin banyak pengguna muda mulai menerapkan strategi seperti diversifikasi aset dan pengelolaan portofolio yang lebih terencana.
Untuk mendukung hal tersebut, Tokocrypto mengembangkan berbagai program edukasi seperti Tokocrypto Academy, webinar, workshop kampus, hingga OBRAS (Obrolan Komunitas) yang telah menjangkau lebih dari 50 kota dan melibatkan lebih dari 200 ribu peserta sepanjang 2025.
Selain edukasi, platform juga menyediakan fitur seperti Dollar Cost Averaging (DCA), staking, dan convert untuk membantu pengguna membangun strategi investasi jangka panjang yang lebih disiplin.
Fenomena dominasi Gen Z dalam industri kripto juga terjadi secara global. Studi Protocol Theory menunjukkan generasi muda di Amerika Serikat lebih percaya pada kripto dibanding institusi keuangan tradisional.
Indriana menegaskan tingginya minat tersebut harus diimbangi pemahaman yang kuat. “Tanpa literasi yang cukup, keputusan investasi bisa menjadi terlalu reaktif terhadap tren, bukan berdasarkan strategi jangka panjang,” tutupnya. (mas)