JAKARTA (IndoTelko) Java Fresh bersama DBS Foundation mendorong petani buah Indonesia menembus pasar global hingga 25 negara melalui penguatan ekosistem pertanian yang inklusif.
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya pengembangan businesses for impact (BFI) yang menggabungkan pertumbuhan bisnis dengan dampak sosial berkelanjutan, khususnya di sektor pertanian.
Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen buah terbesar dunia. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan petani akibat keterbatasan akses pasar, standar ekspor, dan rantai distribusi yang panjang.
Co-Founder & CEO Java Fresh, Margareta Astaman, menegaskan pentingnya membangun sistem yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani.
“Tujuan kami bukan hanya menembus pasar internasional, tetapi memastikan manfaat ekonominya juga kembali ke petani dan komunitas,” ujarnya.
Sejak berdiri pada 2014, Java Fresh membangun model bisnis terintegrasi dari hulu ke hilir, termasuk menghadirkan fasilitas packing house di dekat sentra produksi. Fasilitas ini membantu meningkatkan kualitas pascapanen sekaligus membuka lapangan kerja, terutama bagi perempuan di pedesaan.
Dukungan pendanaan dari DBS Foundation melalui program hibah 2024 dimanfaatkan untuk memperkuat riset dan pengembangan, termasuk peningkatan daya simpan buah dan efisiensi distribusi. Salah satu inovasinya adalah penggunaan teknologi controlled atmosphere yang memungkinkan pengiriman manggis hingga 29 hari ke pasar ekspor tanpa menurunkan kualitas.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menyatakan kolaborasi ini bertujuan mempercepat terciptanya ekosistem pertanian yang lebih inklusif dan berdaya saing.
Program ini juga telah memberikan dampak nyata, antara lain perluasan operasional ke tiga wilayah baru, pemberdayaan tambahan 400 petani, serta penciptaan lapangan kerja bagi sekitar 90 perempuan di pedesaan.
Selain mendorong ekspor, pendekatan ini juga berkontribusi pada pengurangan limbah pascapanen, peningkatan efisiensi rantai pasok, dan penguatan ketahanan ekonomi komunitas lokal.
Ke depan, model kolaborasi antara sektor swasta dan lembaga filantropi ini diharapkan dapat menjadi contoh dalam membangun sistem pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkeadilan dan berkelanjutan. (mas)