JAKARTA (IndoTelko) - Tokocrypto mencatatkan total nilai transaksi lebih dari Rp160 triliun sepanjang 2025 dengan pangsa pasar melampaui 40%, mencerminkan tingginya aktivitas dan kepercayaan pengguna di tengah dinamika pasar kripto nasional.
Saat ini, Tokocrypto telah melayani lebih dari 4,8 juta pengguna dengan pertumbuhan pengguna aktif tahunan mencapai 75%. Kinerja ini menunjukkan fondasi bisnis yang tetap kuat, meski pasar sempat mengalami koreksi dalam beberapa periode terakhir.
Chief Financial Officer Tokocrypto, Sefcho Rizal, menilai bahwa kepercayaan pengguna menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas industri. “Kami melihat kepercayaan konsumen terhadap aset keuangan digital, termasuk kripto, masih terjaga dengan baik. Hal ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan jangka panjang industri,” ujarnya.
Untuk menjaga momentum, Tokocrypto terus mendorong inovasi, termasuk rencana peluncuran produk derivatif (futures) serta perluasan kanal pembayaran melalui integrasi dengan bank BUMN seperti BRI dan Bank Mandiri. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus menjaga aktivitas perdagangan tetap dinamis.
Di sisi industri, data Otoritas Jasa Keuangan mencatat nilai transaksi aset kripto pada Januari 2026 sebesar Rp29,24 triliun, turun 10,53% secara bulanan. Sementara transaksi derivatif aset keuangan digital juga mengalami penurunan 6,88% menjadi Rp8,01 triliun.
Meski demikian, kontribusi industri terhadap penerimaan negara terus menunjukkan tren positif. Direktorat Jenderal Pajak melaporkan bahwa penerimaan pajak dari transaksi kripto telah mencapai Rp1,96 triliun hingga Februari 2026 sejak kebijakan diberlakukan pada Mei 2022.
Secara rinci, penerimaan tersebut terdiri dari Rp246,54 miliar pada 2022, Rp220,89 miliar pada 2023, Rp620,38 miliar pada 2024, Rp796,73 miliar pada 2025, serta Rp84,7 miliar pada awal 2026. Dari total tersebut, Rp1,09 triliun berasal dari Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 dan Rp875,31 miliar dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam negeri.
Sefcho menilai peningkatan penerimaan pajak ini mencerminkan semakin matangnya industri kripto di Indonesia. “Tidak hanya dari sisi volume transaksi, tetapi juga dari kesadaran pelaku industri dan pengguna dalam memenuhi kewajiban perpajakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Tokocrypto memastikan seluruh aktivitas transaksi pengguna tercatat dan dilaporkan sesuai ketentuan kepada DJP sebagai bagian dari komitmen terhadap tata kelola industri yang transparan dan akuntabel.
Selain itu, Tokocrypto juga mendorong literasi perpajakan melalui edukasi pelaporan SPT Tahunan, termasuk pemanfaatan platform seperti Coretax. Upaya ini dinilai penting agar pertumbuhan industri berjalan seiring dengan peningkatan kepatuhan.
Ke depan, Tokocrypto menargetkan pertumbuhan berkelanjutan melalui inovasi produk, perluasan akses, serta penguatan peran sebagai mitra dalam mendorong literasi dan kepatuhan di ekosistem kripto nasional. (mas)