Telkom Marketing 2
Telkom Marketing 2
blanja 2019
telkomsel halo

Laba Bali Towerindo turun 9,9% di semester I 2019

12:52:14 | 08 Aug 2019
Laba Bali Towerindo turun 9,9% di semester I 2019
Teknisi tengah memeriksa BTS yang terpasang di salah satu menara telekomunikasi.
telkomsat
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) hanya meraih laba Rp24,47 miliar di semester I 2019 atau turun 9,9% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp27,172 miliar.

Perusahaan menara ini meraih pendapatan Rp294,62 miliar sepanjang semester I 2019 atau naik 44,8% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp203 miliar.

Laba usaha yang diraih sepanjang semester I 2019 sebesar Rp133 miliar naik dibandingkan periode sama tahun lalu Rp100 miliar.

Emiten dengan kode saham BALI ini baru saja mendapat dua fasilitas kredit term loan dengan total Rp 150,7 miliar dari PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM).  

Wakil Direktur Utama dan Corporate Secretary Bali Towerindo Sentra Lily Hidayat mengatakan, perseroan menandatangani perjanjian kredit pada 5 Agustus 2019.

Dari perjanjian tersebut, perseroan mendapatkan dua fasilitas kredit yakni fasilitas kredit term loan XV dan fasilitas kredit term loan XVI.

Adapun, nilai kredit yang diperoleh dari fasilitas term loan XV adalah Rp 49,2 miliar dan memiliki jangka waktu 84 bulan atau tujuh tahun setelah pencairan kredit.

Perseroan akan menggunakan fasilitas kredit ini untuk membangun menara base transceiver station (BTS) jenis micro cell pole di seluruh Indonesia.

"Agunan dari kredit ini adalah seluruh unit tower mikro seluler (MCP) dan piutang usaha yang timbul dari tower yang akan dibangun,"ujar dia berdasarkan keterbukaan informasi yang dilansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (7/8).

Selanjutnya, fasilitas kredit kedua yang diperoleh perseroan adalah fasilitas kredit term loan XVI dengan nilai Rp 101,5 miliar dengan tenor tujuh tahun setelah pencairan kredit.

Kredit ini akan digunakan untuk pembangunan fiber to the home (FTTH) yang akan dibangun di seluruh Indonesia, terutama kawasan Jabodetabek.

"Seluruh peralatan dan jaringan FTTH serta piutang usaha yang timbul dari jaringan yang akan dibangun dengan pembiayaan dari Bank Sinarmas akan menjadi agunan kredit,"jelas Lily.

Sebelumnya, perseroan juga mendapatkan fasilitas pinjaman term loan dan demand loan dari Bank Sinarmas. Adapun total fasilitas kredit yang diterima Bali Towerindo dari Bank Sinarmas hingga Juni 2019 adalah sebesar Rp 697,5 miliar dan US$ 5 juta.

Selain dari Bank Sinarmas, pada Mei 2019, Bali Towerindo juga mendapatkan pinjaman dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan nilai total Rp360 miliar. Pinjaman ini terdiri dari fasilitas kredit investasi II senilai Rp 35 miliar dan fasilitas kredit investasi III dengan nilai Rp 325 miliar.

Lily menjelaskan, fasilitas kredit investasi II akan digunakan untuk pembiayaan aset berupa kantor di Bali. Sedangkan fasilitas kredit investasi III akan digunakan untuk membiayai pembangunan 84 site menara telekomunikasi di Bali.

Pada 2017, perseroan juga memperoleh fasilitas kredit investasi I senilai Rp 500 miliar dari Bank Mandiri. Fasilitas kredit ini digunakan untuk pembiayaan menara telekomunikasi beserta seluruh perlengkapan dan peralatan pendukungnya.

Selain dua bank di atas, Bali Towerindo juga mendapatkan fasilitas pinjaman dari bank lokal lainnya seperti PT Bank J Trust Indonesia Tbk (BCIC), PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Pinjaman tersebut mengkontribusi total utang jangka panjang perseroan yang tercatat Rp 885,78 miliar pada posisi semester I-2019 atau meningkat 6,36% dibandingkan posisi akhir 2018 yang sebesar Rp 832,81 miliar.

Telkom Marketing 2
Utang jangka panjang ini mengkontribusi total liabilitas perseroan pada semester I-2019 yang mencapai Rp 1,92 triliun, meningkat dibandingkan akhir 2018 yang sebesar Rp 1,74 triliun.

Selain dari pinjaman bank, peningkatan liabilitas juga ditopang oleh peningkatan medium term notes menjadi Rp 348,09 miliar dari Rp 347,3 miliar pada posisi akhir 2018.

Angkasa Pura 2
Sementara itu, aset perseroan tercatat sebesar Rp 3,83 triliun, meningkat dari Rp 3,43 triliun pada posisi akhir 2018. Peningkatan aset dikontribusi dari aset lancar sebesar Rp 319,08 miliar dan aset tidak lancar sebesar Rp 3,52 triliun.(wn)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma