Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

Fokus ke Internal, Esia Lupakan Sejenak Ceria

14:29:55 | 20 Dec 2013
Fokus ke Internal, Esia Lupakan Sejenak Ceria
Manajemen Bakrie Telecom (Dok)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terpaksa melupakan sejenak rencananya untuk berkonsolidasi dengan  PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) karena ingin fokus kepada peningkatan kondisi internal dari pemilik merek esia itu.

“Soal merger dan akuisisi (M&A) dengan STI, kami fokus ke perbaikan kondisi internal dulu dari esia. Aksi korporasi berupa swap  share dan lainnya itu belum terjadi,” ungkap President Director Bakrie Telecom Jastiro  Abi dalam Paparan Publik di Jakarta, Jumat (20/12).

Seperti diketahui, pada Maret 2012 Bakrie Telecom mengumumkan rencana mengakuisisi 35% saham STI  melalui skema penukaran saham (share swap).  

Perseroan telah meneken perjanjian jual beli bersyarat (CSPA) dengan pemegang saham STI, yakni Sampoerna Strategic dan Polaris, pada 13 Maret 2012.

Emiten halo-halo ini juga akan mendapatkan opsi menguasai 100% saham STI dalam tiga tahun jika CSPA itu berubah menjadi akta jual beli. Sebagai imbalan, Sampoerna Strategic, selaku pemilik STI, akan menggenggam 6% saham BTEL.

Sebenarnya, jika aksi korporasi itu berhasil, Bakrie Telecom Bakrie akan mendapat tambahan frekuensi dari pemilik merek Ceria itu sebesar 7,5 MHz di frekuensi 450 MHz. Esia sendiri telah memiliki frekuensi di 850 Mhz selebar 5 MHz.

Bakrie Telecom sendiri Per September 2013 membukukan kerugian bersih  naik menjadi Rp 1,52 triliun, daripada periode yang sama tahun 2012 di posisi Rp 988,25 miliar. Sementara dana kas dan setara kas milik BTEL hanya sebanyak Rp 115,21 miliar.

Abi mengungkapkan, status dari perjanjian tersebut sekarang dalam kondisi idle atau menggantung. “CSPA memang ada batas waktu, tetapi bisa diperpanjang. Kita akan ajak STI bicara kalau ada pemain lain yang melirik,” jelasnya.

Paket Semangat Kemerdekaan
Menurutnya, pemicu lain M&A dengan STI tak bisa terealisasi adalah kondisi dari industri seluler nasional yang tak menguntungkan karena pertumbuhan tak sebesar masa lampau yang dobel digit.

“Bagi kami juga tidak begitu urgent M&A jika dikaitkan dengan kapasitas jaringan karena kita masih longgar. Sebenarnya M&A itu untuk bicara di masa depan agar perseroan lebih kompetitif,” katanya.

Terkait dengan wacana dari pemerintah agar operator berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) di frekuensi 850 MHz untuk berkonsolidasi, Abi mengaku, tak keberatan. “Kami terbuka untuk berkonsolidasi dengan pemilik frekuensi yang sama jika memang itu ada,” katanya.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year