telkomsel halo

Pembayaran Melalui Uang Digital Baru 31%

08:22:38 | 02 Okt 2013
Pembayaran Melalui Uang Digital Baru 31%
Ilustrasi (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – Laporan yang diterbitkan oleh MasterCard Advisors menyebutkan pembayaran non tunai di Indonesia terhitung sebesar 31% dari total pembayaran yang dilakukan konsumen.
 
Hasil nilai ini menempatkan Indonesia masuk ke dalam kategori negara-negara yang berada dalam tahap awal (Inception), bersama dengan negara-negara lain, seperti Nigeria, Rusia, dan Kolombia. Negara-negara tersebut baru saja mulai untuk beralih dari pembayaran tunai.

Indonesia kalah dari Singapura yang dianggap  sedang mendekati titik penting untuk menjadi masyarakat non tunai seutuhnya.

Riset yang diberi nama The Cashless Journey ini   melacak bagaimana 33 negara-negara kunci telah bergerak dari masyarakat dengan basis pembayaran tunai menuju masyarakat non tunai.

Hal-hal yang diukur adalah mengidentifikasi teknologi-teknologi terbaru, program-program pemerintah, dan pilihan konsumen sebagai faktor-faktor kunci yang mendorong pergeseran ini, serta menciptakan ekonomi yang lebih produktif dan inklusif.  
 
Studi ini fokus pada nilai dari seluruh pembayaran konsumen dengan total pengeluaran US$63 triliun, termasuk pembayaran yang terjadi di luar point-of-sale retail.

Di tahun 2011, sebanyak 34% (US$21 Triliun) dari total pengeluaran konsumen secara global, dilakukan melalui pembayaran tunai, dengan pembayaran non tunai sebesar 66% (US$42 triliun).

Laporan ini mengidentifikasi Belgia di mana sekitar 93% pengeluaran konsumen dilakukan melalui pembayaran non tunai, Prancis (92%), Kanada (90%), Inggris (89%), Swedia (89%), Australia (86%), dan Belanda (85%) sebagai negara-negara di mana pembayaran non tunai hampir dilakukan dimanapun, dan hal ini melambangkan adanya perubahan besar dari pembayaran tunai menjadi pembayaran non tunai dengan memanfaatkan teknologi, seperti EMV chip yang mudah dibawa kemana-mana serta infrastruktur pembayaran modern lainnya.  

Negara-negara seperti Amerika Serikat dimana sekitar 80% total pengeluaran konsumen dilakukan secara non tunai dan Singapura (69%) sedang mendekati titik penting untuk menjadi masyarakat non tunai seutuhnya, sementara penggunaan pembayaran tunai yang ada sebagian besar merupakan hasil dari kebiasaan konsumen.

Sebaliknya, negara-negara dengan ekonomi berkembang seperti Indonesia (31%), Rusia (31%) dan Mesir (7%) baru saja memulai perjalanan menjadi masyarakat non tunai, namun dalam banyak kasus, perubahan bentuk pembayaran tunai di negara-negara tersebut lebih cepat dibandingkan negara-negara maju tertentu.

Setelah berhasil menyediakan seluruh elemen dari infrastruktur pembayaran konsumen modern, negara-negara seperti Brasil (57%), Polandia (41%) dan Afrika Selatan (43%) saat ini sedang dalam tahap transisi, dan secara cepat bergeser menjauh dari pembayaran tunai.  

Pergeseran tercepat dari pembayaran tunai terjadi di China, dimana nilai pembayaran konsumen secara tunai diprediksi menurun sebanyak 20 persen antara tahun 2006 hingga 2011.

China dimana sekitar 55% pengeluaran konsumen dicapai dengan pembayaran non tunai dan Uni Emirat Arab (26%) berada di antara kelompok negara-negara di mana pemerintahnya telah mengambil peran dalam mendorong pembayaran elektronik untuk mendukung tujuan-tujuan sosial dan ekonomi mereka. Kenya (27%) merupakan contoh di mana teknologi memberikan kontribusi terbesar dalam mengurangi pengeluaran konsumen melalui pembayaran tunai.

Menurut Director of Access to Finance Advisory Services dari International Finance Corporation Peer Stein  hal yang kelihatannya terlupakan dalam dialog kebijakan ialah bahwa pembayaran tunai membutuhkan waktu mendapatkan akses, lebih beresiko untuk dibawa, dan menelan biaya hingga 1,5% dari pendapatan domestik bersih (PDB) Negara tersebut.

“Kita tidak dapat mengharapkan bahwa perubahan dari pembayaran tunai menjadi pembayaran elektronik akan selesai dalam semalam, namun dengan kemajuan teknologi dan kerjasama antara pihak swasta dan pemerintah, tren perubahan ini telah menghasilkan momen-momen signifikan selama beberapa tahun terakhir,” ujarnya.

Faktor Peralihan
Riset dari MasterCard Advisors juga  mengindikasikan bagaimana persiapan sebuah negara untuk beralih menuju masyarakat non tunai, ditentukan oleh berbagai faktor seperti akses dan kemampuan layanan finansial; skala dan pangsa pasar dari penjual; tingkat teknologi yang tersedia; dan partisipasi konsumen dalam ekonomi formal.
 
Namun, di beberapa negara seperti Jerman dimana sekitar 76% pengeluaran konsumen dicapai melalui pembayaran non tunai, Jepang (62%), Spanyol (54%) dan Taiwan (43%), perilaku budaya yang lebih banyak menyarankan penggunaan uang tunai dibandingkan kondisi pasar, juga sangat berpengaruh.

President MasterCard Advisors Kevin Stanton mengungkapkan,   manfaat yang diperoleh dengan lebih banyaknya masyarakat non tunai bersifat universal, lebih banyak kenyamanan yang diperoleh konsumen, efisiensi yang lebih baik bagi pemerintah, produktivitas bisnis yang lebih tinggi, dan keikutsertaan masyarakat yang lebih tinggi secara keseluruhan dengan membawa lebih banyak warga negara ke dalam arus ekonomi.(ss)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year