Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

3G Kurang Maksimal di Frekuensi 900 MHz?

20:34:47 | 08 Okt 2012
3G Kurang Maksimal di Frekuensi 900 MHz?
Ilustrasi (Dok Indosat)
Angkasa Pura 2
Industri telekomunikasi Indonesia pada Sabtu (6/10) lalu memasuki era baru untuk teknologi 3G.

Hal itu karena Indosat telah memperkenalkan teknologi 3G terbaru di frekuensi 900 MHz di Padang dan Bukittinggi  dengan nama dagang Super 3G+

Aksi  Indosat ini adalah yang pertama di Indonesia untuk di spektrum tersebut.

Group Head Network Quality & Surveillance Group Network Directorate Indosat Mirza Helmi menjelaskan,  dipilihnya frekuensi 900 MHz untuk 3G karena dari sisi alokasi perseroan memiliki lebar pita lumayan longgar. Rencananya dari 10 MHz yang dimiliki, 5 MHz dialokasikan untuk 3G, sisanya bagi 2G.

“Dari sisi teknis, frekuensi 900 MHz ini ideal karena rendah sehingga sinyalnya kuat bisa menembus basement atau gedung tinggi. Jika ada isu masalah interferensi, tetapi itu dialami semua rentang frekuensi,” katanya.

Tidak dipilihnya rentang 1.800 MHz dimana kebetulan perseroan juga memiliki alokasi di spekturm tersebut karena rentan interferensi dengan frekuensi 2.1 GHz yang sudah digunakan untuk 3G.

“Kita rencananya untuk memperluas jangkauan 3G akan mengandalkan frekuensi 900 MHz. Sementara untuk menaikkan kapasitas di 2.1 GHz. Ini bisa terjadi karena kita sedang kembangkan BTS menjadi homogen.Implementasi ubah teknologi itu  mudah tinggal aktifkan nanti Software Define Radio (SDR),” jelasnya.

Bolong di ketersediaan perangkat konsumen pun ditutup oleh Director & Chief Commercial Officer Indosat Erik Meijer dengan menggandeng 12 penyedia perangkat. Pasalnya, perangkat yang bisa akses 3G di 900 MHz untuk Indonesia baru 50%.

Diungkapkannya, perangkat yang beredar di sisi konsumen memang sudah triple band yakni bisa menerima sinyal dari frekuensi 900 MHz, 1800 MHz, dan 2.1 GHz. Ponsel pintar yang dikapalkan ke Indonesia sejauh ini baru 50% yang bisa  bermain di 900 MHz. Diantaranya adalah Samsung, BlackBerry, HTC, MLW Telecom, Nexian, dan Huawei.

“Nanti akan ada bundling dengan penyedia perangkat itu. Tetapi kita tidak akan subsidi harga perangkat.  Ke depan kita akan lebih ketat dalam bekerjasama untuk bundling dengan salah satu syarat, perangkatnya harus bisa mengakses 3G di 900 MHz. Saya yakin nanti akan banjir perangkat untuk 900 MHz,” katanya.

Tidak Ideal?
Peneliti dari Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengungkapkan penggunaan frekuensi 900 MHz untuk 3G tidak ideal karena masih digunakan untuk 2G, sehingga ada dua teknologi hidup di satu spektrum.

“Kajian dari regulator telekomunikasi Perancis, Arcep, menyatakan 3G di 900 MHz lebih jelek dibanding di 2.1 GHz,” ungkapnya.
Diungkapkannya, dari kajian Arcep  jangkauan 3G di 900 MHz tidak konsisten dibanding di 2.1 GHz. “Selain itu dari kajian saya soal vertical handover, 3G di 900 MHz membuat bingung perangkat konsumen yang berjalan di quad atau triple band sehingga baterai cepat habis,”  katanya.

Pasalnya, di ponsel pintar biasanya  terdapat connection manager. Jika konsumen berada di jaringan 3G dan 2G akan bingung saat handover.Handover ada hubungan power management, dimana ketika mencar sinyal terus-menerus itu makan baterai.

“Connection manager  jika  dipaksa kerja terus menerus, ponsel  menjadi panas dan processor akan bisa cepet rusak.  Di indonesia, 900 MHz banyak dipakai ponsel  2G, jd kalau pindah 3G, harus ganti ponsel atau Indosat mau mensubsidi penggunanya,” katanya.

Disayangkannya, langkah pemerintah membuka frekuensi 900 MHz untuk 3G tanpa melakukan penataan ulang frekuensi 2G secara keseluruhan terlebih dulu.”Ini nanti terkait dengan komitmen di modern licensing dimana ada jangkauan layanan yang harus dipenuhi. Jika 900 MHz dipakai untuk data, tentu jangkuan akan mengerut,” katanya.

Secara terpisah, pengamat telematika  Iwan krisnadi menjelaskan, berdasarkan  teori telekomunikasi,  frekuensi yang lebih rendah daya jangkaunya lebih jauh. Sedangkan untuk frekuensi tinggi , daya jangkaunya lebih dekat.

“Karena itu dalam kajian Long Term Evolution (LTE), maka frekuensi yang lebih tinggi digunakan di dense area (padat penduduk) atau di kota. Sedangkan yang frekuensi rendah baik untuk remote area,” jelasnya.

Namun, lanjutnya,  mungkin harus dilihat kajian propogasi untuk masing masing frekuensi dan juga kondisi lingkungan dimana frekuens i tersebut digunakan.

“Bisa saja kejadian di Perancis karena perangkat konsumen itu bingung berada di jaringan mana, sehingga kala dilakukan tes oleh regulator dibilang tidak reliable dan konsisten,” duganya.

Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika  Kementerian Komunikasi dan Informatika Muhammad Budi Setiawan menegaskan, walau Indosat sudah menjalankan 3G di 900 MHz,  tidak diperbolehkan mematikan layanan 2G di spektrum  tersebut.“Kalau bicara komitmen pembangunan jaringan, kita akan evaluasi setiap tahunnya,” tegasnya.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year