Belanja makan tabungan, porsi konsumsi naik jadi 74,2%

05:57:00 | 09 Okt 2026
Belanja makan tabungan, porsi konsumsi naik jadi 74,2%
JAKARTA (IndoTelko) - Fenomena “mantab” alias makan tabungan mulai mencerminkan tekanan terhadap kemampuan masyarakat dalam menyisihkan pendapatan. Kondisi ini terutama terlihat pada kelompok pemilik rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta.

Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 2026 menunjukkan porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi meningkat menjadi 74,2%, dari 72,7% pada bulan sebelumnya. Pada periode yang sama, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan turun dari 16,8% menjadi 15,8%.

Sementara itu, porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang turun tipis dari 10,5% menjadi 10%.

Dengan komposisi tersebut, dari setiap Rp1 juta pendapatan, sekitar Rp742 ribu digunakan untuk konsumsi, Rp100 ribu untuk cicilan, dan hanya sekitar Rp158 ribu yang dialokasikan untuk tabungan.

Tekanan terhadap tabungan juga tercermin dari data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas). Meskipun total simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta masih tumbuh, rata-rata saldo per rekening justru mengalami penurunan.

Rata-rata saldo rekening kelompok tersebut tercatat turun dari sekitar Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026. Artinya, dalam kurun sekitar delapan tahun terjadi penyusutan sekitar 45%.

Head of Investment & Insurance DANA Group Ivan Kusuma mengatakan, menurunnya saldo tabungan tidak selalu disebabkan oleh pengeluaran untuk hiburan atau kebutuhan tersier. Salah satu persoalannya adalah bercampurnya dana untuk kebutuhan sehari-hari, kebutuhan darurat, dan tujuan finansial jangka panjang dalam satu rekening.

“Saldo yang terus berkurang bukan selalu karena terlalu banyak membeli kopi atau hiburan. Masalahnya sering kali muncul karena uang untuk kebutuhan hari ini, kebutuhan darurat, dan tujuan masa depan bercampur dalam satu tempat,” ujar Ivan.

Menurutnya, masyarakat perlu menerapkan pola conscious spending, yakni menentukan tujuan penggunaan uang sebelum melakukan pengeluaran. Dengan cara tersebut, kebutuhan jangka pendek tidak terus mengorbankan alokasi untuk masa depan.

Ivan menyarankan masyarakat mulai dengan mencatat pola pengeluaran, termasuk pengeluaran kecil atau micro-spending seperti jajan, parkir, hingga biaya berlangganan aplikasi. Penggunaan fitur pencatat transaksi, seperti Activity Tracker di DANA, dapat membantu pengguna melihat pola pengeluaran.

Langkah berikutnya adalah menetapkan prioritas dan membagi pendapatan sesuai kebutuhan. Instrumen seperti DANA Goals, DANA eMAS, maupun DANA+ dapat digunakan sesuai tujuan dan profil kebutuhan masing-masing pengguna.

“Tidak ada satu cara budgeting yang cocok untuk semua orang, karena kebutuhan dan tujuan tiap orang berbeda. Yang penting, kemudahan bayar digital perlu diimbangi dengan kesadaran finansial supaya kita tidak jadi lebih impulsif,” katanya.

Pengelolaan pengeluaran juga dapat dilakukan dengan memberikan jeda sebelum membeli sesuatu yang bukan kebutuhan mendesak. Prinsip “pause, bukan pantang” selama 24 jam dinilai dapat membantu membedakan kebutuhan dengan keinginan sesaat.

Penggunaan fasilitas cicilan pun perlu disesuaikan dengan kemampuan membayar. Cicilan dapat digunakan untuk mengatur arus kas, tetapi tetap perlu memperhitungkan kemampuan finansial dan tujuan penggunaannya.

Di sisi lain, pengelolaan keuangan yang sehat tidak berarti menghilangkan seluruh pengeluaran untuk hiburan atau rekreasi. Ruang untuk menikmati hasil kerja tetap diperlukan agar pola pengelolaan keuangan dapat dijalankan secara berkelanjutan.

Dengan meningkatnya porsi pendapatan untuk konsumsi dan menyusutnya alokasi tabungan, pengaturan arus kas menjadi semakin penting. Tantangannya bukan semata-mata mengurangi belanja, tetapi memastikan kebutuhan hari ini tidak terus menggerus ketahanan finansial untuk kebutuhan masa depan. (mas)

Artikel Terkait