JAKARTA (IndoTelko) - Digitalisasi pendidikan di Indonesia memasuki babak baru dengan semakin banyaknya sekolah yang dilengkapi Interactive Flat Panel (IFP). Namun, keberadaan layar interaktif di ruang kelas belum otomatis membuat proses belajar mengajar menjadi digital.
Persoalan yang kini perlu mendapat perhatian adalah kesiapan konten pembelajaran yang berjalan di balik perangkat tersebut. Tanpa materi yang siap digunakan, IFP berpotensi hanya menjadi layar berukuran besar di ruang kelas, sementara guru tetap harus menyiapkan sendiri berbagai materi sebelum perangkat bisa dimanfaatkan secara optimal.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat satuan pendidikan di Indonesia tersebar di wilayah dengan tingkat konektivitas yang berbeda-beda. Ketergantungan terhadap internet secara terus-menerus dapat menjadi kendala bagi sekolah yang berada di daerah dengan akses jaringan terbatas atau tidak stabil.
Bagi guru, teknologi di kelas idealnya tidak menambah beban teknis. Materi pembelajaran harus dapat digunakan secara langsung, mudah dioperasikan, sesuai dengan kurikulum, serta tidak mengharuskan sekolah mengandalkan koneksi internet setiap saat.
Karena itu, digitalisasi pendidikan perlu melihat ekosistem secara utuh. Pengadaan IFP seharusnya tidak hanya memperhitungkan hardware, tetapi juga software dan konten yang menjadi bagian dari pengalaman pembelajaran.
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah konsep offline-first. Dengan model ini, materi pembelajaran tetap dapat digunakan ketika perangkat tidak terhubung internet dan diperbarui saat koneksi tersedia. Internet tetap menjadi bagian penting dalam ekosistem digital, tetapi tidak menjadi satu-satunya prasyarat berlangsungnya pembelajaran.
Platform seperti KIPIN, misalnya, mengembangkan pendekatan tersebut dengan mengintegrasikan perangkat dan menyediakan ribuan materi pembelajaran yang dapat digunakan tanpa harus terhubung internet setiap hari. Konten kemudian dapat diperbarui ketika perangkat kembali mendapatkan akses jaringan.
Pendekatan ini juga membuka peluang agar perangkat yang sudah didistribusikan ke sekolah dapat segera memberikan manfaat, termasuk di wilayah yang pembangunan konektivitasnya masih menghadapi berbagai kendala.
Bagi pemerintah daerah dan sekolah, kondisi ini menjadi alasan untuk mengubah indikator keberhasilan program digitalisasi. Ukuran keberhasilan tidak cukup hanya berdasarkan jumlah perangkat yang berhasil dipasang, tetapi juga seberapa sering perangkat tersebut digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Setidaknya ada lima hal yang dapat menjadi perhatian dalam program berikutnya, yakni memastikan setiap pengadaan IFP disertai konten siap pakai, memilih teknologi yang tidak bergantung pada koneksi internet harian, mengoptimalkan perangkat yang telah terpasang dengan platform pembelajaran offline, menetapkan standar minimum konten digital, serta mengukur tingkat pemanfaatan perangkat di kelas.
Pada akhirnya, digitalisasi pendidikan bukan sekadar persoalan mengganti papan tulis dengan layar interaktif. Nilai investasi baru benar-benar terasa ketika teknologi tersebut mampu membantu guru mengajar, membuat siswa lebih aktif belajar, dan memperluas akses terhadap materi berkualitas.
Dengan demikian, pertanyaan dalam setiap program pengadaan IFP tidak lagi sebatas berapa banyak perangkat yang akan dipasang. Yang tak kalah penting adalah memastikan apa yang dapat langsung dilakukan guru dan siswa setelah layar tersebut dinyalakan. (mas)