JAKARTA (IndoTelko) - BINUS melalui XPloo BINUS Center of Excellence in Digital Transformation & Sustainability bersama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) merilis studi kasus mengenai perjalanan transformasi digital Halo BCA.
Studi berjudul “Leading the Digital Shift: How Halo BCA Turned Strategic Vision into Operational Reality”mengulas bagaimana strategi transformasi digital diterapkan menjadi perubahan nyata dalam operasional, penguatan kapabilitas organisasi, serta peningkatan pengalaman layanan bagi nasabah.
Peluncuran studi kasus tersebut dilakukan dalam acara Case Release Halo BCA x BINUS yang berlangsung di Wisma BCA Foresta, BSD.
Dokumen tersebut tidak hanya membahas pemanfaatan teknologi, tetapi juga mengangkat berbagai aspek pendukung transformasi, mulai dari penyelarasan strategi, pengembangan sumber daya manusia, perubahan proses kerja, hingga budaya organisasi.
Ketua XPloo BINUS Center of Excellence in Digital Transformation & Sustainability, Prof. Firdaus Alamsjah, Ph.D., mengatakan transformasi digital tidak dapat dipahami hanya sebagai proses adopsi teknologi baru.
“Transformasi digital tidak berhenti ketika organisasi berhasil menggunakan teknologi. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana visi tersebut diterjemahkan menjadi cara kerja, kapabilitas, budaya, dan pengalaman layanan yang dapat dirasakan secara nyata,” ujar Prof. Firdaus.
Menurutnya, studi kasus berbasis pengalaman perusahaan Indonesia memiliki nilai penting karena setiap organisasi menghadapi tantangan berbeda berdasarkan kondisi bisnis, budaya, regulasi, dan karakteristik konsumennya.
Dokumentasi perjalanan transformasi Halo BCA
Studi kasus Halo BCA menjadi karya ketiga yang disusun XPloo bersama BCA. Sebelumnya, kedua pihak telah menghasilkan studi mengenai Digital Transformation at BCA (A) yang membahas perjalanan transformasi digital BCA secara umum serta Digital Transformation at BCA (B) terkait pengembangan blu by BCA Digital.
Melalui rangkaian studi tersebut, BINUS dan BCA menghadirkan gambaran mengenai bagaimana perusahaan dapat memperkuat bisnis yang sudah berjalan sekaligus membangun kemampuan baru untuk menghadapi perubahan industri.
Board of Management BINA NUSANTARA, Michael Wijaya Hadipoespito, mengatakan kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri menjadi penting untuk menghasilkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi.
“Kolaborasi BINUS dan BCA dalam mendokumentasikan perjalanan transformasi Halo BCA menjadi studi kasus yang dapat dipelajari secara luas. Hal ini sejalan dengan visi BINUS dalam menghadirkan pengetahuan, inovasi, dan kontribusi yang berdampak bagi Indonesia,” kata Michael.
Transformasi digital berorientasi pada manusia
Halo BCA menjadi contoh bagaimana layanan digital perlu menyesuaikan perubahan perilaku nasabah yang semakin mengharapkan layanan cepat, personal, dan mudah diakses.
Dalam studi tersebut, transformasi tidak hanya dilihat dari sisi teknologi, tetapi juga bagaimana perusahaan membangun kemampuan internal agar seluruh elemen organisasi bergerak dalam arah yang sama.
Wakil Presiden Direktur BCA, Armand W. Hartono, mengatakan perubahan kebutuhan nasabah menjadi faktor pendorong bagi Halo BCA untuk terus berkembang.
“Transformasi digital bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan teknologi, proses kerja, dan pengembangan insan BCA berjalan selaras untuk memberikan pengalaman layanan yang semakin relevan bagi nasabah,” ujar Armand.
Ia berharap studi kasus hasil kolaborasi dengan BINUS dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan sekaligus menjadi referensi bagi organisasi lain dalam menjalankan transformasi digital.
Melalui peluncuran studi kasus ini, BINUS dan BCA ingin menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital membutuhkan kombinasi antara teknologi, strategi bisnis, kesiapan organisasi, serta fokus pada kebutuhan manusia.
Studi kasus tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan 45 tahun BINUS dalam mengembangkan pendidikan, penelitian, inovasi, dan kolaborasi bersama mitra industri. (mas)