JAKARTA (IndoTelko) - Ferrero Group merilis Sustainability Report 2025 yang menegaskan penguatan program Ferrero Farming Values sebagai fondasi strategi pengadaan bahan baku berkelanjutan sekaligus upaya memperkuat ketahanan rantai pasok global.
Laporan keberlanjutan ke-17 yang diterbitkan bertepatan dengan peringatan 80 tahun Ferrero tersebut juga memaparkan perkembangan perusahaan pada empat fokus utama, yakni pengelolaan iklim dan lingkungan, pengadaan bahan baku, konsumsi yang bertanggung jawab, serta pengembangan sumber daya manusia.
Presiden Ferrero Group, Giovanni Ferrero, mengatakan keberlanjutan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi bisnis perusahaan. Menurutnya, kepercayaan konsumen dibangun tidak hanya melalui kualitas produk, tetapi juga melalui praktik pengadaan bahan baku, proses produksi, serta komitmen terhadap lingkungan dan masyarakat.
Salah satu fokus utama laporan tahun ini adalah penguatan Ferrero Farming Values, kerangka kerja yang mengatur pengadaan bahan baku utama perusahaan. Pendekatan tersebut dibangun di atas lima prinsip, yaitu uji tuntas pemasok, ketertelusuran rantai pasok, sertifikasi dan standar keberlanjutan, pengembangan praktik pertanian dan komunitas, serta kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi tantangan industri.
Chief Executive Officer Ferrero Group, Lapo Civiletti, mengatakan kerangka tersebut dirancang untuk meningkatkan akuntabilitas pemasok, memperluas ketertelusuran bahan baku, mendukung petani, sekaligus memberikan fleksibilitas dalam menghadapi karakteristik masing-masing komoditas.
Pada aspek pengadaan bahan baku, Ferrero mencatat tingkat ketertelusuran yang tinggi untuk sejumlah komoditas utama. Ketertelusuran kakao mencapai 98 persen hingga tingkat poligon lahan pertanian, minyak sawit 98,6 persen hingga perkebunan, hazelnut 97 persen hingga tingkat petani, dan biji kopi 100 persen hingga lokasi perkebunan.
Perusahaan juga menganalisis hampir 230 ribu poligon rantai pasok kakao, kopi, dan minyak sawit sebagai bagian dari penerapan kebijakan yang selaras dengan European Union Deforestation Regulation (EUDR) guna mendukung pengadaan bebas deforestasi.
Dari sisi sertifikasi, Ferrero menyebut 99 persen volume kakao diperoleh melalui skema sertifikasi independen seperti Rainforest Alliance, Cocoa Horizons, dan Fairtrade. Seluruh pasokan minyak sawit telah mengantongi sertifikasi RSPO, sedangkan seluruh biji kopi telah tersertifikasi Rainforest Alliance melalui model rantai pasok terpisah.
Perusahaan juga melanjutkan kemitraan dengan Save the Children di Pantai Gading yang ditargetkan menjangkau 235 komunitas petani kakao pada 2030.
Di bidang lingkungan, Ferrero melanjutkan implementasi Climate Transition Plan melalui peluncuran Decarbonization Hub untuk membantu fasilitas produksi menyusun strategi pengurangan emisi. Perusahaan juga mencatat penurunan emisi gas rumah kaca Scope 1 dan Scope 2 sebesar 7,2 persendibandingkan tahun sebelumnya.
Sebanyak 24 fasilitas produksi kini menggunakan 100 persen listrik terbarukan dari jaringan listrik. Ferrero juga menyelesaikan penilaian Water Corporate Footprint untuk seluruh operasional dan bergabung dengan Alliance for Water Stewardship.
Pada sektor kemasan, 92,9 persen kemasan Ferrero telah dirancang agar dapat didaur ulang, digunakan kembali, atau dikomposkan. Sementara itu, 86,8 persen kemasan telah memenuhi kriteria tersebut dalam praktik pengelolaan limbah yang tersedia saat ini.
Redesain kemasan Ferrero Rocher juga berkontribusi mengurangi penggunaan plastik sebesar 14,7 persen dibandingkan periode dasar 2019/2020, sehingga secara kumulatif menghindari penggunaan sekitar 16 ribu ton plastik sejak 2021.
Di bidang nutrisi dan pemasaran, Ferrero memperkenalkan Ferrero Nutrition Criteria sebagai acuan ilmiah dalam pengembangan produk serta memperbarui prinsip periklanan dan pemasaran untuk mendukung komunikasi yang lebih bertanggung jawab kepada konsumen.
Sementara pada aspek sumber daya manusia, Ferrero memperluas program Inclusion & Respect ke 61 negara melalui lebih dari 500 sesi pelatihan. Tingkat partisipasi survei keterlibatan karyawan mencapai 86 persen, dengan peningkatan skor Engagement dan Enablement Index dibandingkan tahun sebelumnya.
Program sosial Joy of Moving juga memasuki usia ke-20 pada 2025. Hingga kini, inisiatif tersebut telah menjangkau lebih dari 4,9 juta anak di 35 negara, atau lebih dari 60 juta anak secara global sejak pertama kali diluncurkan pada 2005, melalui kolaborasi dengan lebih dari 130 mitra dari sektor publik maupun swasta. (mas)