telkomsel halo

AI ubah peta pertumbuhan ekonomi, Indonesia harus bersiap

05:05:00 | 03 Jul 2026
AI ubah peta pertumbuhan ekonomi, Indonesia harus bersiap
JAKARTA (IndoTelko) - Kecerdasan artifisial (AI) dinilai telah berkembang menjadi faktor utama yang menentukan daya saing ekonomi suatu negara. Jika sebelumnya pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang oleh tenaga kerja, modal, insentif investasi, dan infrastruktur fisik, kini kemampuan membangun ekosistem AI menjadi pembeda dalam menarik investasi serta menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.

Hal tersebut menjadi kesimpulan laporan terbaru konsultan manajemen global Kearney bertajuk How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI. Laporan tersebut menyebut AI telah bergeser dari sekadar teknologi pendukung produktivitas menjadi fondasi baru dalam strategi pembangunan ekonomi.

Potensi ekonomi AI pun diperkirakan terus meningkat. Teknologi AI generatif diproyeksikan mampu memberikan kontribusi sebesar US$2,6 triliun hingga US$4,4 triliun setiap tahun terhadap perekonomian global melalui penerapan di berbagai sektor, mulai dari layanan pelanggan, pemasaran, pengembangan perangkat lunak, hingga riset dan pengembangan. Di saat yang sama, investasi dunia terhadap infrastruktur AI juga terus bertambah sebagai bagian dari strategi ekonomi jangka panjang.

Partner Kearney sekaligus penulis laporan tersebut, Tomoo Sato, mengatakan negara yang mampu memimpin pada era AI bukan lagi mereka yang menawarkan biaya tenaga kerja murah, melainkan yang memiliki kapabilitas, infrastruktur, serta ekosistem untuk mengembangkan dan memanfaatkan AI dalam skala besar.

Menurut Kearney, terdapat delapan perubahan mendasar yang sedang membentuk ulang lanskap ekonomi global.

Pertama, keunggulan biaya tenaga kerja semakin berkurang karena otomatisasi dan AI menggantikan sebagian proses produksi maupun layanan. Kedua, kapasitas komputasi, termasuk akses terhadap semikonduktor, pusat data, cloud, energi, dan talenta AI, kini menjadi aset strategis bagi suatu negara.

Ketiga, investasi yang berkaitan dengan AI mulai mengubah arus perdagangan dan investasi global. Negara yang menguasai komponen penting seperti infrastruktur data, pasokan energi, dan semikonduktor diperkirakan akan memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar.

Keempat, peluang ekonomi AI tidak hanya berada pada pengembangan model AI, tetapi juga tersebar di berbagai sektor pendukung dalam rantai nilai AI. Kelima, pemanfaatan AI berkembang melampaui aplikasi berbasis teks menuju robotika, visi komputer, hingga berbagai aplikasi di dunia fisik yang membutuhkan dukungan perangkat keras dan energi lebih besar.

Keenam, literasi AI dipandang sebagai faktor penting untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Ketujuh, AI mempercepat siklus inovasi sehingga persaingan bisnis menjadi semakin ketat dengan dominasi pemain yang memiliki platform kuat.

Terakhir, aspek keamanan, tata kelola, etika, serta kedaulatan AI menjadi perhatian utama karena berkaitan dengan perlindungan infrastruktur digital dan kepercayaan publik.

Secara keseluruhan, laporan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan suatu negara di era AI tidak lagi hanya ditentukan oleh cepatnya mengadopsi teknologi, tetapi juga kemampuan menemukan posisi strategis dalam rantai nilai AI serta menyelaraskan kebijakan ekonomi dengan perubahan tersebut.

Bagi Indonesia, perubahan tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Selama ini pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh jumlah tenaga kerja yang besar dan industri manufaktur berorientasi ekspor. Namun, meningkatnya penggunaan AI dan otomatisasi diperkirakan akan mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja di berbagai sektor.

Karena itu, Indonesia dinilai perlu memperkuat posisi pada sektor-sektor bernilai tambah, seperti layanan digital, operasional berbasis AI, pembangunan infrastruktur data, hingga manufaktur berteknologi tinggi.

Selain itu, Kearney menilai pengembangan energi bersih yang dapat ditingkatkan skalanya serta peningkatan literasi AI menjadi dua fondasi penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di masa depan. Dengan dukungan infrastruktur energi yang memadai dan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi AI, Indonesia berpeluang memanfaatkan bonus demografi sebagai keunggulan kompetitif di era ekonomi digital.

Presiden Direktur Kearney Indonesia, Shirley Santoso, mengatakan peluang Indonesia untuk mengambil bagian dalam ekonomi AI cukup besar. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh adopsi teknologi, melainkan juga kualitas sumber daya manusia, ekosistem inovasi, infrastruktur digital, serta kemampuan mengubah teknologi menjadi nilai ekonomi.

GCG BUMN
Ia menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, investor, dan penyedia teknologi menjadi kunci untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai AI sekaligus mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories