telkomsel halo

Ancaman siber berkedok AI meningkat tajam, UMKM Asia Tenggara jadi sasaran

07:59:00 | 02 Jul 2026
Ancaman siber berkedok AI meningkat tajam, UMKM Asia Tenggara jadi sasaran
JAKARTA (IndoTelko) - Ancaman siber terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan artifisial (AI). Laporan terbaru Kaspersky mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga April 2026, terjadi lonjakan signifikan serangan malware yang menyamar sebagai layanan AI populer, dengan Asia Tenggara mencatat peningkatan hampir tujuh kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara global, solusi keamanan Kaspersky mendeteksi lebih dari 33.300 serangan terhadap sektor UMKM yang memanfaatkan perangkat lunak berbahaya berkedok layanan AI. Jumlah tersebut meningkat hampir lima kali lipat dibandingkan periode JanuariApril 2025. Di Asia Tenggara sendiri, tercatat lebih dari 1.800 serangan, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu wilayah dengan pertumbuhan ancaman paling tinggi.

Berdasarkan temuan Kaspersky, malware paling banyak menyamar sebagai layanan AI populer seperti ChatGPT yang mencakup 44 persen dari total serangan, disusul DeepSeek sebesar 33 persen, serta Claude sebanyak 11 persen.

Mayoritas ancaman yang ditemukan berupa trojan (Trojware), yaitu malware yang menyamar sebagai file atau aplikasi sah untuk mengelabui pengguna agar menginstalnya. Setelah aktif, malware tersebut dapat mencuri, menghapus, memodifikasi, maupun menyalin data pengguna, bahkan mengunduh malware lain ke dalam perangkat yang telah terinfeksi.

Selain layanan AI, aplikasi komunikasi juga masih menjadi umpan favorit pelaku kejahatan siber. Selama empat bulan pertama 2026, Kaspersky memblokir hampir 415.000 serangan terhadap UMKM yang menyamar sebagai aplikasi seperti Telegram, WhatsApp, Zoom, dan Microsoft Teams. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan bahwa metode ini masih efektif digunakan oleh pelaku ancaman.

Pakar keamanan Kaspersky, Vasily Kolesnikov, mengatakan meningkatnya adopsi AI di lingkungan kerja turut dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menyebarkan malware.

Menurutnya, selama awal 2026 pihaknya juga menemukan ratusan serangan yang memanfaatkan nama OpenClaw, sebuah alat AI yang tengah populer. Ia mengingatkan agar pengguna selalu memastikan alamat situs web yang dikunjungi benar, mewaspadai tautan dalam email mencurigakan, serta menggunakan solusi keamanan yang tepercaya sebelum mengunduh perangkat lunak.

Sementara itu, Product Manager Kaspersky Small Office Security, Rodion Pyanov, menilai pelatihan kesadaran keamanan siber menjadi kebutuhan penting bagi seluruh organisasi, termasuk usaha kecil yang umumnya memiliki keterbatasan waktu dan anggaran untuk memperbarui pengetahuan karyawannya mengenai ancaman terbaru.

Menurutnya, tantangan tersebut dapat diatasi melalui solusi keamanan yang dirancang khusus bagi bisnis kecil, yang tidak hanya memberikan perlindungan terhadap ancaman siber, tetapi juga menghadirkan edukasi keamanan yang mudah diakses.

Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menambahkan bahwa UMKM masih menjadi target utama pelaku kejahatan siber karena sering kali memiliki sumber daya keamanan yang terbatas. Mengingat lebih dari 90 persen bisnis di Asia Tenggara merupakan UMKM, perusahaan di kawasan ini perlu memperkuat sistem keamanan digitalnya dengan solusi yang sesuai dengan kebutuhan operasional dan kemampuan finansial masing-masing.

GCG BUMN
Melalui laporan ini, Kaspersky mengingatkan bahwa meningkatnya pemanfaatan AI dalam aktivitas bisnis harus diimbangi dengan kewaspadaan terhadap berbagai modus serangan siber yang semakin canggih. Edukasi pengguna, penerapan praktik keamanan digital yang baik, serta penggunaan solusi keamanan yang tepat menjadi langkah penting untuk melindungi bisnis dari ancaman yang terus berkembang. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories