Jurnalis masuk daftar target utama hacker, ini alasannya

05:37:00 | 30 Jun 2026
Jurnalis masuk daftar target utama hacker, ini alasannya
JAKARTA (IndoTelko0 - Meningkatnya ketergantungan terhadap teknologi digital membuat ancaman siber tidak lagi hanya menyasar perusahaan maupun instansi pemerintah. Profesi jurnalis kini juga menjadi salah satu target yang dinilai memiliki nilai strategis karena aksesnya terhadap informasi sensitif dan jaringan narasumber yang luas.

Group Head of Communications ITSEC Asia, Steve Saerang, mengatakan jurnalis menyimpan berbagai informasi yang bernilai tinggi sehingga menjadi sasaran menarik bagi pelaku kejahatan siber (threat actor). Menurutnya, informasi yang dimiliki seorang jurnalis dalam beberapa kasus bahkan lebih berharga dibandingkan upaya membobol sistem perusahaan.

Steve menjelaskan para pelaku serangan siber tidak membedakan profesi, tingkat pengalaman, maupun lokasi target. Mereka hanya mencari celah keamanan yang paling mudah dieksploitasi untuk memperoleh akses terhadap data.

Karena itu, perangkat pribadi yang digunakan jurnalis sering kali menjadi titik lemah, meskipun perusahaan media telah memiliki sistem keamanan berlapis seperti firewall dan perlindungan jaringan.

“Jika perangkat individu tidak terlindungi dengan baik, maka risiko terhadap sistem organisasi juga akan meningkat,” ujarnya.

Menurut Steve, seiring semakin kuatnya sistem keamanan perusahaan, fokus serangan kini bergeser ke level individu. Masih banyak pengguna yang belum menerapkan praktik keamanan digital secara optimal, seperti menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi multifaktor (multi-factor authentication/MFA), maupun menghindari penggunaan jaringan WiFi publik tanpa perlindungan.

Ia juga mengingatkan pentingnya memisahkan perangkat pribadi dan perangkat kerja. Penggunaan satu perangkat untuk berbagai aktivitas dinilai dapat meningkatkan potensi kebocoran data apabila terjadi kompromi keamanan.

Selain itu, aktivitas di media sosial juga dinilai menjadi salah satu sumber risiko. Menurut Steve, tren membagikan aktivitas sehari-hari melalui berbagai konten digital tanpa disadari dapat membuka informasi sensitif, seperti lokasi tempat tinggal, kendaraan, maupun lingkungan sekitar yang berpotensi dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI), ITSEC Asia menilai pola serangan siber akan semakin kompleks karena AI memungkinkan proses serangan berlangsung lebih cepat, lebih masif, dan semakin sulit dideteksi.

Untuk itu, Steve menekankan pentingnya membangun cyber hygiene sebagai kebiasaan sehari-hari. Langkah sederhana seperti memperbarui perangkat secara berkala, mengganti kata sandi secara rutin, menggunakan autentikasi berlapis, serta meningkatkan kesadaran terhadap ancaman digital dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga keamanan data.

ITSEC Asia juga mendorong peningkatan literasi keamanan siber bagi kalangan jurnalis. Selain melindungi data dan perangkat yang digunakan dalam aktivitas peliputan, jurnalis juga memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya keamanan digital di tengah meningkatnya ancaman siber. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait